Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Posts tagged ‘spiritual’

Kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan SEFT

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Kecemasan yang berat akan mempengaruhi hipotalamus dan menimbulkan dua mekanisme yang berbeda. Impuls pertama didukung oleh sistem saraf simpatis yang akan mempengaruhi medula adrenal dalam memproduksi epinephrin dan nor epinephrin. Dalam keadaan normal, kedua substansi ini akan memberikan sirkulasi darah yang adekuat sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, suhu tubuh stabil sehingga energi terpenuhi. Tetapi jika produksinya patologis akan meningkatkan rate dan kontraksi jantung, dilatasi pupil, penurunan motilitas gastrointestine tract hingga terjadi glikogenolisis dan gluko-neogenesis di hepar. Sedangkan mekanisme kedua akan mempengaruhi kelenjar hipofise anterior sehingga merangsang produksi hormon adrenokortikosteroid yaitu aldosteron dan glukokortikoid.

Aldosteron berperan dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, reabsorbsi air dan natrium. Glukokortikoid menyediakan energi pada kondisi emergensi dan penyembuhan jaringan. Kecemasan dapat timbul karena kesiapan psikologis terhadap pembedahan belum terjadi.

Pengurangan tingkat kecemasan preoperasi sangat penting karena akan mempengaruhi hemodinamik responden sebelum dan selama operasi. Indikator hemodinamik yang paling berpengaruh yaitu perubahan tekanan darah dan frekuensi jantung. Kondisi ini akan mempengaruhi macam obat anestesi yang diberikan saat operasi untuk mencapai kondisi responden yang stabil. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi perubahan hemodinamik antara lain status fisik, usia, jenis kelamin, berat badan, kecemasan, nyeri, riwayat pemakaian obat sebelumnya, status hidrasi, suhu tubuh, pilihan obat premedikasi dan induksi anestesi. oleh karena itu, perlu dilakukan penurunan tingkat kecemasan untuk mencegah terjadinya perubahan hemodinamik sebelum operasi.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian SEFT (spiritual emotion freedom technique), latihan napas dalam, terapi musik, dan distraksi. Seluruh intervensi yang dilakukan memiliki tujuan akhir yang sama yaitu membuat responden lebih rileks. Teknik SEFT ini berfokus pada kata atau kalimat tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah pada Tuhan sesuai dengan keyakinan responden. Tujuan dari intervensi ini untuk mengatasi berbagai macam masalah fisik, emosi, fikiran, sikap, motivasi, perilaku, dan pengembangan diri.

Spiritual menimbulkan rasa percaya diri, mendatangkan ketenangan, rileks, dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa sehingga mengakibatkan rangsangan ke hipotalamus untuk menurunkan produksi CRF (Cortictropin Releasing Factor). CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk menurunkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon). Hormon ini yang akan merangsang kortek adrenal untuk menurunkan sekresi kortisol. Kortisol ini yang akan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi tingkat kecemasan. Berbeda dengan psikoterapi konvensional, EFT berasumsi bahwa memang benar beberapa ingatan (sadar atau bawah sadar) tentang masa lalu dapat membangkitkan gangguan psikologis, tetapi proses ini tidak berjalan secara langsung, melainkan ada “proses antara“ yang dinamakan “Disruption of Body Energy System” (terganggunya sistem energi tubuh). Inilah yang sebenarnya secara langsung menyebabkan gangguan emosi. EFT langsung menangani gangguan sistem energi tubuh untuk menghilangkan emosi negatif. Dengan begitu, cukup menyelaraskan kembali sistem energi tubuh, maka emosi negatif yang dirasakan akan hilang dengan sendirinya. Hasil implementasi menunjukkan, bahwa SEFT berpengaruh terhadap penurunan kecemasan dan perubahan tanda-tanda vital dalam rentang normal pada 8 responden pre operasi. 

Karakteristik Spiritual

Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut antara lain :

  • Hubungan dengan diri sendiri

Hubungan dengan diri sendiri mencakup bagaimana individu tersebut mengetahui dirinya dan sikap pada diri sendiri. Pengetahuan tentang diri sendiri seperti mengetahui identitas diri, siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya, kemampuan, dll. Sikap yang dikuasai seperti percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri.

  • Hubungan dengan alam

Hubungan dengan alam menggambarkan bagaimana seorang individu peka terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya baik makhluk hidup maupun benda mati. Individu mengetahui tanaman, pohon, mrgasatwa, iklim, cuaca, dan lain sebagainya sebagai teman dalam kehidupan. Individu juga mampu berkomunikasi dengan alam seperti berjalan kaki, bercocok tanam, serta mengabadikan dan melindungi alam.

  • Hubungan dengan orang lain

–          Harmonis : berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbale balik; mengasuh anak, orang tua, dan orang sakit; meyakini kehidupan dan kematian.

–          Tidak harmonis : konflik dengan orang lain; resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi; hubungan dnegan ketuhanan.

–          Agamis / tidak agamis ; sembahyang/berdoa/meditasi, perlengkapan keagamaan, bersatu dengan alam.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu :

–          Merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadannya di dunia/kehidupan.

–          Mengembangkan arti penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan.

–          Menjalin hubungan positif dan dinamis melaluia keyakinan, rasa percaya, dnan cinta.

–          Membina integritas personal dan merasa diri berharga.

–          Merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan.

–          Mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.

–          Mampu menjaga keseimbangan alam dengan tidak merusak alam serta menjaga kelestarian alam sekitarnya.

sumber : Dwidiyanti, M. Keperawatan Dasar. Semarang : Penerbit hasani. 2008

Keterkaitan antara Spiritual, Kesehatan dan Sakit

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami antara lain :

  1. Spiritual sebagai penuntun kehidupan sehari-hari

Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet. Klien dengan keyakinan atau agama tertentu misalnya tidak boleh makan makanan yang dilarang dalam ajaran agama. Keyakinan akan hal makanan ini biasanya disebut jalal dan haram. Untuk itu perawat sebaiknya mengetahui hal apa saja terkait dengan keyakinan yang dianut oleh pasien termasuk dalam hal makanan.

  1. Sumber dukungan

Spiritual sebagai sumber dukungan merupakan hal yang penting dalam diri klien. Saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya. Dalam hal ini, individu akan merasa tenang dan damai saat merasa dekat dengan Tuhannya.

  1. Sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.

  1. Sumber konflik

Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan, seperti pandangan penyakit.

Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dna tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf.

Dwidiyanti, M. Keperawatan Dasar. Semarang : Penerbit hasani. 2008

Awan Tag