Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Posts tagged ‘perawat’

Keterkaitan antara Spiritual, Kesehatan dan Sakit

Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku self-care klien. Keyakinan spiritual yang perlu dipahami antara lain :

  1. Spiritual sebagai penuntun kehidupan sehari-hari

Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, seperti tentang makanan diet. Klien dengan keyakinan atau agama tertentu misalnya tidak boleh makan makanan yang dilarang dalam ajaran agama. Keyakinan akan hal makanan ini biasanya disebut jalal dan haram. Untuk itu perawat sebaiknya mengetahui hal apa saja terkait dengan keyakinan yang dianut oleh pasien termasuk dalam hal makanan.

  1. Sumber dukungan

Spiritual sebagai sumber dukungan merupakan hal yang penting dalam diri klien. Saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya. Dalam hal ini, individu akan merasa tenang dan damai saat merasa dekat dengan Tuhannya.

  1. Sumber kekuatan dan penyembuhan

Individu bisa menahan distress fisik yang luar biasa karena mempunyai keyakinan yang kuat.

  1. Sumber konflik

Pada situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan, seperti pandangan penyakit.

Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dna tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf.

Dwidiyanti, M. Keperawatan Dasar. Semarang : Penerbit hasani. 2008

Siapa dan bagaimana sih perawat?

Perawat atau nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Hartley cit. ANA menjelaskan pengertian dasar seorang perawat yaitu: seseorang yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit, injuri dan proses penuaan.

Organisasi keperawatan sedunia ICN berpendapat bahwa, ”The unique function of the nurse is to assist individual, sick or well in the performance of those activities contributing to health or its recovery (or to a peaceful death) he would perform unaided of he had  necessary strength will or knowledge”  yang artinya fungsi unik perawat yaitu melakukan pengkajian pada individu sehat maupun sakit, dimana segala aktivitas yang dilakukan berguna untuk kesehatan dan pemulihan kesehatan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Aktivitas ini dilakukan dengan berbagai cara untuk mengembalikan kemandirian pasien secepat mungkin.

Menurut undang-undang kesehatan nomor 23 tahun 1992, perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Perawat dikatakan professional jika memiliki lmu pengetahuan, bertanggungjawab dan berwewenang secara mandiri atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya.

Di Indonesia keperawatan sebagai profesi dirumuskan melalui lokakarya nasional keperawatan tahun 1983. Keperawatan didefinisikan sebagai bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang meliputi aspek biologi, psikologi, social, dan spiritual yang bersifat komprehensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit, mencakup siklus hidup manusia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Konsep keperawatan keluarga

Perawat keluarga adalah perawat yang berperan membantu individu dan keluarga untuk menghadapi penyakit dan disabilitas kronik dengan meluangkan sebgaian waktu bekerja di rumah pasien dan bersama keluarganya. Keperawatan keluarga dititikberatkan pada kinerja perawat bersama dengan keluarga karena keluarga merupakan subyek.

Tujuan keperawatan keluarga dari WHO di europe yang merupakan praktek keperawatan termodern saat ini adalah :

  • Promoting and protecting people health. Merupakan perubahan pradigma dari cure menjadi care melalui tindakan preventif.
  • Mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit .

Peran perawat keluarga menurut WHO Europe tahun 2000 adalah :

  • Health educator (pemberi pendidikan kesehatan)
  • Coordinator (Conector) mengatur perencanaan program-program atau merancang intervensi yang akan dilaksanakan. Contoh merencanakan klien untuk dirujuk ke tim medis lain.
  • Provider / caregiver memberikan pelayanan kesehatan secara langsung.
  • Health Promotion (home care & home visit)
  • Consultant penasehat dan memberi saran jika diminta oleh klien
  • Collaborator berkolaborasi dengan tim medis lain untuk tujuan kesembuhan klien.
  • Fasilitator contohnya memfasilitasi keluarga yang kurang mampu untuk memperoleh jamkesmas.
  • Case founder penemu kasus
  • Enviromental modifier memodifikasi lingkungan baik berupa fisik, psikis, maupun perilaku dan gaya hidup.

Selain itu peran perawat yang lain juga dapat memberikan saran tentang gaya hidup, perilaku beresiko. dengan pengkajian dapat mendeteksi awal penyakit sehingga dapat memberikan intervensi terhadap penanganan penyakit dini. Mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi masalah kesehatan keluarga agar dapat memberikan intervensi yang tepat. Perawat bertindak sebagai lynchpin yaitu terlibat bersama keluarga, tidak terbatas merawat, tetap juga tahu masalah keluarga dan harus menempatkan diri sebagai anggota keluarga sehingga dapat menghubungkan keluarga dengan tim kesehatan lain.

Empat intervensi utama perawat keluarga dititikberatkan kepada pencegahan.

  • Primer proaktif mencegah stessor, mempermudah mendapatkan fasilitas kesehatan. Contoh : memberi pendkes untuk mencegah penyakit, menciptakan suasana harmonis di keluarga.
  • Sekunder screening, vaksinasi, deteksi awal timbulnya penyakit.
  • Tersier rehabilitasi untuk mencegah morbiditas lebih lanjut. Contohnya ROM bagi penderita stroke.
  • Direct care bekerja sama dengan keluarga yang merupakan sistem pendukung utama untuk menyembuhkan.

Empat tingkatan keluarga

  1. Family as context
  • Fokus pada kesehatan individu
  • Keluarga sebagai background dari anggotanya
  • Keluarga sebai support system atau stressor terberat bagi anggota
  • Individu / anggota keluarga akan dikaji dan diintervensi
  • Keluarga akan dilibatkan dalam berbagai kesempatan
  1. Family as client
  • Fokus pada seluruh anggota keluarga
  • Keluarga didefinisikan sebagai kelompoka atau keseluruhan dari anggota keluarga
  • Keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya
  • Masalah kesehatan atau keperawatan yang sama dari masing-masing anggota kan diintervensi bersamaan.
  1. Family as system
  • Fokus masalah pada hubungan antara anggota keluarga
  • Fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah subsistem dalam keluarga
  • Anggota-anggota keluarga dipandang sebagai unit yang berinteraksi
  • Fokus intervensi : mengenai hubungan ibu anak, hub perkawinan, dll
  1. Family as component of society
  • Seluruh keluarga dipandang sebagai klien dan jadi fokus utama dari pengkajian dan keperawatan.
  • Fokus keluarga dengan individu sebagai background
  • Keluarga dipandang sebgai interaksional sistem
  • Fokus intervensi : dinamia internal keluarga, hubungan dalam keluarga, hubungan subsistem keluarga dengan lingkungan luar.

 

Komunikasi pada Lansia di Panti Wredha dan aplikasinya

Ny. R, 60 tahun, janda, baru saja dimasukkan ke panti wreda oleh keluarganya. Ketika baru datang, perawat seringkali melihat Ny. R menangis. Bila ditanya oleh perawat, Ny. R hanya diam dan tidak mau bicara dan menjauh. Tidak jarang Ny. R berdiam diri di kamar. Pertanyaan :
1. Bagaimana melakukan pengkajian pada Ny. R?
2. Data apa saja yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi masalah pada Ny. R?
3. Bagaimana melakukan komunikasi yang tepat dengan Ny. R?
4. Apa saja yang dibutuhkan perawat untuk bisa berkomunikasi dengan Ny. R?

  1. Pengkajian pada Ny. R

Pengkajian dilakukan dengan metode anmnesa terhadap klien, keluarga, serta lingkungan sekitar klien.  Anamnesa ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik terhadap klien kelompok usia lansia secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

a. Pendekatan fisik

Pendekatan ini digunakan untuk mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang dialami, perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan serta penyakit yang dapat dicapai progresifitasnya.  Pendekatan ini relatif lebih mudah dilaksanakan dan dicarikan solusinya karena riil dan mudah diobservasi.

Pada pendekatan fisik dengan lansia harus diperhatikan perubahan fisik pada lansia seperti penurunan pendengaran, penurunan penglihatan, dan proses penuaan yang normal.

b. Pendekatan psikologis

Pendekatan ini sifatnya abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama.  Untuk melaksanakan pendekatan ini, perawat berperan sebagai konselor, advokat, supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing.  Sebagai penampung masalah-masalah, rahasia yang pribadi, dan sebagai sahabat yang akrab dengan klien.

c. Pendekatan sosial

Pendekatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan berinteraksi dengan lingkungan.  Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain, atau mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama lansia maupun dengan petugas kesehatan.

d. Pendekatan spiritual

Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.  Pendekatan spiritual ini cukup efektif terutama bagi klien yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan latar belakang agama yang baik.

Langkah-langkah pada saat melakukan pengkajian dengan wawancara pada lansia yaitu :

1)      Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan
menjelaskan tujuan dan lama wawancara.

2)      Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan
dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.

3)      Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar
belakang sosiokulturalnya.

4)      Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia
kesulitan dalam berfikir abstrak.

5)      Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan
memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung,
duduk dan menyentuh pasien.

6)      Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian
pasien dan distress yang ada.

7)      Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari
wawancara pengkajian.

8)      Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan
dengan cermat dan tetap mengobservasi.

9)      Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing
bagi pasien.

10)  Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman
mungkin.

11)  Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif
terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.

12)  Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga
pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.

13)   Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara

2. Keempat pendekatan di atas memberikan informasi pengkajian terhadap klien sebagai berikut:

PENGKAJIAN

  1. Identitas Diri

1)      Nama/Nama panggilan      : Ny. R

2)      Tempat tgl lahir/usia          : Semarang, 14 Januari 1950

3)       Jenis kelamin                    : Perempuan

4)      A g a m a                           : Islam

5)      Pendidikan                                    : SPG

6)      Alamat                              : Semarang

a. Riwayat Psikososial

Klien dulunya tinggal bersama anak beserta menantunya.  Klien dititipkan di panti wreda karena kesibukan anaknya agar klien lebih terurus dan banyak teman.  Sejak saat klien masuk panti wreda, klien merasa terbuang dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial di panti tersebut.  Seringkali klien menangis, diam tak berbicara walaupun diajak berkomunikasi.

b. Riwayat Spiritual

Meski terlihat apatis, klien tetap beribadah seperti biasanya.

c. Kebutuhan Komunikasi dan Mental

Berbicara hanya seperlunya, terlihat diam, acuh tak acuh, dan menangis saat diajak berbicara. Kontak mata kurang baik ketika diajak berbicara, dan banyak menunduk. Keadaan emosi terlihat murung dan sedih. Klien jarang berkomunikasi dengan perawat maupun lansia lain yang juga tinggal panti wreda.

Data identifikasi masalah pada Ny. R

Data subjektif

  1. Mengungkapkan enggan untuk memulai hubungan/pembicaraan
  2. Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain
  3. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain

Data Objektif

  1. Kurang spontan ketika diajak bicara
  2. Apatis
  3. Ekspresi wajah kosong
  4. Menurun/tidak adanya komunikasi verbal, cenderung diam, sering menangis
  5. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara

3. Teknik komunikasi yang tepat pada Ny. R

a. Teknik asertif

Asertif adalah sikap yang dapat menerima dan memahami pasangan bicara dengan menunjukkan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapat dimengerti.  Asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien lansia.

b. Responsif

Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakn bentuk perhatian petugas pada klien. Ketika perawat mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut, misalnya dengan mengartikan pertanyaan, “apa yang sedang ibu pikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu?”. Berespon berati bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang pada klien.

c. Supportif

Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap menyebabkan emosi klien relatif menjadi lebih labil. Perubahan ini perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia, misalnya dengan mengiyakan, senyum, mengannguk kepala ketika klien mengungkapkan perasaannya sebagai sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi beban bagi keluarganya, dengan demikian diharapkan klien termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajarkan klien karena ini dapat merendahkan kepercayaan klien kepada perawat. Ungkapan-ungkapan yang bisa memberi motivasi, meningkatkan kepercayaan diri klien tanpa terkesan menggurui atau mengajari, misalnya “saya yakin bapak/ibu, lebih berpengalaman dari saya, untuk itu kami yakin bapak/ibu mampu melaksanakan……….. dan bila diperlukan kami siap membantu.”

d. Sabar dan ikhlas

Seperti diketahui sebelumnya bahwa klien lansia umumnya mengalami perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan. Perubahan ini apabila yidak disikapi dengan sabar dan ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang dilakukakn tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.

4. Kompetensi yang dibutuhkan perawat untuk  berkomunikasi dengan Ny.R antara lain

–           Menguasai bahan/pesan yang akan disampaikan

–           Menguasai bahasa klien

–           Memiliki keyakinan

–           Bersuara lembut

–           Percaya diri

–           Ramah (menunjukkan penerimaan)

–           Sopan dan santun

–           Jujur dan bijaksana

Disamping itu perlu diciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi , misalnya suasana terbuka,akrab, santai, bertatakrama dengan posisi menghormat dan harus memahami keadaan lansia, menyediakan waktu ekstra bagi lansia untuk menjawab pertanyaan, mendengar aktif, menjaga kontak mata, menetapkan topik dalam satu waktu, serta mengawali percakapan dengan topik sederhana.

Perawat dan Semut

Perawat dan Semut, suatu analogi yang menurutku cukup tepat. Mengapa aku bilang seperti itu, lihat saja kawan, begitu banyak perawat di negeri kita, bak semut berada dalam sebuah koloni. Bahkan mungkin jumlah perawat ataupun calon perawat di negri kita sudah mengalahkan jumlah semut (mungkinkah?). Begitu banyak berdiri institusi pendidikan di daerah-daerah yang mencetak perawat. Dan hal ini dapat menjadi bumerang sendiri bagi perawat.

Kenapa tidak? Kawan-kawan pasti mengeri keadaan ini. Bak perang antar koloni semut.  Ajang kompetitif dengan rekan seprofesi, sungguh sangat memprihatinkan. Saling menjatuhkan, dan ini akan membuat banyak pengangguran perawat. Memang sungguh menjadi ketakutan sendiri pada diri kawan-kawan semua bukan?

Tapi kawan, tunggulah dulu jangan kecewa. Kita masih belum selesai dengan sang Semut. Kawan pernah lihat tentang bagaimana semut bekerja sama dalam membangun koloni?

Hebat bukan?..

Semut hidup berkoloni, di dalam sarang dengan struktur sosial yang sangat maju. dan mereka tidak mengenal konsep semacam diskriminasi, kaya, miskin atau perebutan kekuasaan seperti yang terjadi pada manusia. Semut merupakan salah satu kelompok yang paling “sosial” dalam genus serangga dan hidup sebagai masyarakat yang disebut “koloni”, yang “terorganisasi” luar biasa baik. Tatanan organisasi mereka begitu maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini mereka memiliki per-adaban yang mirip dengan peradaban manusia.

Sama halnya dengan perawat, jumlahnya membludak setiap tahun, dan bisa anda bayangkan berapa jumlahnya yang diluluskan tiap institusi tiap tahunnya. Sungguh angka yang sangat mengesankan, seperti koloni yang mengirim pasukannya untuk menyerbu sebuah objek yang tak lain dan tak bukan adalah rumah sakit. Ironisnya jumlah rumah sakit perbandingannya dengan jumlah perawat sangatlah sedikit.

Apabila kita sadar akan fenomena perawat saat ini, alangkah baiknya kita berpikir kedepannya untuk bagaiman memajukan para perawat yang sekian banyak ini, utamanya dalam bidang keprofesiannya. Agar perawat dan ilmu keperawatan ini tidak dianggap remeh oleh masyarakat luas khususnya di Indonesia.

Banyak sekali perilaku koloni semut yang patut kita contoh. Seperti sistem komunikasi yang sempurna dari semut. Semut menggunakan feromon untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam penelitian yang dilakukan pada makhluk sosial seperti semut, lebah, dan rayap yang hidup berkoloni, respon hewan-hewan ini dalam proses komunikasi digolongkan dalam beberapa kategori utama: mengambil posisi siaga, bertemu, membersihkan, bertukar makanan cair, mengelompok, mengenali, mendeteksi kasta.

Semut, yang membentuk struktur sosial yang tertib dengan berbagai respon ini, menjalani hidup berdasarkan pertukaran berita timbal balik, dan tidak mengalami kesulitan melakukannya. Dapat dikatakan bahwa semut, dengan sistem komunikasi yang mengesankan itu, seratus persen berhasil dalam hal-hal yang kadang tak dapat diselesaikan atau di-sepakati manusia melalui berbicara (misalnya bertemu, bercerita, mem-bersihkan, bertahan dan lain-lain).

Seandainya antar perawat memiliki sistem komunikasi seperti yang dimiliki oleh semut, alangkah dahsyatnya kekuatan perawat diseluruh negeri ini. Bersama dalam membantu menolong pasien. Sungguh jalinan komunikasi yang erat antar perawat dapat membuat informasi terbaru yang ada di keperawatan dapat berkembang pesat.

Kehidupan sosial semut dalam bekerja sama membangun markas koloni juga perlu kita contoh. Sebagai aplikasi dalam dunia keperawatan misalanya, dengan ilmu yang kita punya dapat membangun Home Care Nursing bersama dengan perawat lainnya. Hal ini dapat dijadikan pilihan selain bekerja di rumah sakit. Dengan adanya Home Care Nursing akan dapat membantu masyarakat umum dalam kehidupan kesehatannya selain itu juga dapat menunjukkan eksistensi keperawatan yang mandiri. Tentunya itu dapat dilakukan dengan kerja sama dan komunikasi.

Sungguh semut merupakan hewan yang sangat inspiratif bagi saya. Semt membuat saya berkhayal dan membayangkan bagaimana jika perawat di negeri ini bersatu padu membangun sebuah jebolan terbaru yangh dapat membanggakan ilmu keperawatan.

PERENCANAAN MANAJEMEN BANGSAL

PERENCANAAN (PLANNING)

1. perencanaan visi misi

Contoh:

Visi Rumah Sakit Pondok Indah :

Menjadi rumah sakit pilihan dengan menyediakan layanan perawatan kesehatan terbaik, aman, bermutu tinggi dan inovatif.

Misi Rumah Sakit Pondok Indah

Menyediakan pelayanan secara utuh, konsisten dan terpadu berfokus pada pasien melalui praktek berbasis bukti yang sesuai dan pelayanan prima dengan komitmen kerjasama tim, keterlibatan dari pihak terkait dan peningkatan kompetensi individu yang berkesinambugan.

2. MOTTTO DAN NILAI-NILAI

Motto Rumah Sakit Pondok Indah

“Kesehatan anda prioritas kami”

Nilai-nilai Rumah Sakit Pondok Indah :
1.Integritas
2.Berorientasi pada kualitas
3.Kerjasama tim
4.Etika
5.Semangat dan keteguhan
6.Inovasi
7.Pengembangan individu
8.Pembelajaran berkesinambungan
3. Misi keperawatan
}Memberikan pelayanan keperawatan secara utuh, aman, bermutu tinggi dan inovatif yang berfokus pada pasien melalui praktik berbasis bukti yang sesuai, dengan komitmen peningkatan kompetensi individu secara berkesinambungan serta  menjunjung kerjasama tim.
4. Tujuan keperawatan
}Untuk mencapai pelayanan keperawatan secara utuh, aman, bermutu tinggi dan inovatif, kami bertujuan :
}Memberikan asuhan keperawatan secara professional, berfokus pada keselamatan pasien.
}Memenuhi setiap kebutuhan pasien.
}Menjalankan nilai–nilai yang dianut Pondok Indah Health Care Group : integritas, kualitas dan kerjasama tim baik didalam maupun diluar unit keperawatan.
}Menjalankan efisiensi biaya dalam pengelolaan operasional.
}Mengadakan pelatihan dan pendidikan yang berkesinambungan baik di dalam maupun di luar RSPI (terbuka untuk belajar berubah dan berinovasi).

Analisa Jurnal Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

diatas adalah jurnalnya…

dibawah ini adalah pembahasannya..

Pada jurnal “Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion”, membandingkan antara orang normal dengan orang hipertensi. Yang menjadi perbandingan adalah utamanya pada perubahan suhu tubuh saat berolahraga, konsumsi air, dan yang lain seperti detak jantung. Sebagai subyek penelitian adalah orang normal dan orang hipertensi yang memiliki kriteria tertentu sesuai dengan variabel penelitian.

Perbandingan antara orang hipertensi dengan normal saat berolahraga, terlihat bahwa hasil rekaman detak jantung pada orang hipertensi detak jantung lebih tinggi dari orang normal. Namun, disini konsumsi air belum dijadikan sebagai variabel pembanding. Tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat pada orang dengan hipertensi. Dan untuk tekanan sistolik pada orang hipertensi meningkat dari biasanya saat beristirahat.

Selama latihan, sistem kardiovaskular dituntut untuk mempertahankan tekanan darah, aliran darah otot, dan suhu tubuh yang bersaing dan tuntutan gabungan otot dan kulit untuk mempertahankan aliran darah agar bisa melebihi output maksimal jantung.5,1

Sistem saraf otonom menghasilkan vasokonstriksi yang lebih besar dan pengalihan volume aliran darah dari organ-organ visceral dan perifer dalam upaya untuk mempertahankan curah jantung dan aliran darah yang diperlukan untuk otot dan kulit secara bersamaan. Dengan demikian, kerja jantung lebih besar selama latihan ditambah dengan stress panas.5,2

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sisitem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ni, neuron preganglion melepaskan asetilkoin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pumbuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepiefrin mengakibatan konstriksi pembuluh darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah meningkat dan denyut jantung meningkat.6

Tanggapan thermoregulatory selama latihan di lingkungan panas, temperatur rektal meningkat di akhir latihan baik untuk orang dengan hipertensi dan orang normal, dan tidak dipengaruhi oleh konsumsi air pada kedua kelompok. Jadi disini pengkonsumsian air tidak mempengaruhi denyut jantng, dan tekanan darah. Akan tetapi suhu kulit meningkat lebih tunggi pada orang hipertensi selama latihan, pengkonsumsian air meningkat pada orang dengan hipertensi saat suhu kulit meningkat.5,3

Konsumsi air selama latihan sangat diperlukan, walaupun sebelum olahraga sudah minum. Studi menunjukkan, olah raga tanpa rehidrasi dapat menyebabkan terjadinya peningkatan suhu tubuh terus berlangsung sampai pada tahap yang membahayakan.2,2

Apabila tidak mendapat konsumsi air secara berkala akan menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh dalam jumlah yang sangat banyak. Salah satu penyebab terjadinya dehidrasi adalah keluarnya keringat yang berlebihan. Ketika sedang beraktivitas atau berolah raga jumlah keringat yang dikeluarkan umumnya mencapai sekitar 1 liter/jam. Dehidrasi yang berlebihan akan mengakibatkan banyak gangguan bagi fungsi tubuh, menginagt bahwa 60% komponen tubuh adalah air.2,3

Pada akhir latihan, suhu tubuh pada subyek hipertensi meningkat lebih daripada subyek normal. Penulis berpendapat bahwa, memang pada awalnya pada subyek hipertensi pembuluh darah berkontriksi untuk memanipulasi curah jantung. Namun pada saat akhir latihan, seperti masa penstabilan kembali heart rate dan tekanan darah, pembuluh darah membuang panas yang dihasilkan oleh tubuh dengan cara berkeringat. Suhu kulit terus meningkat pada akhir latihan begitu juga keringat, sehingga pengkonsumsian air juga meningkat pada kondisi ini untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Lingkungan stres termal dalam ruang lingkungan yang diperkirakan dengan pengukuran basah (27,8 º C) dan suhu kering (30 º C) dengan menggunakan persamaan ISBB = 28,5 º C (18). Pengeluaran rata-rata metabolisme (kkal / jam) dihitung dari daya berkelanjutan selama 60 menit di ergometer siklus, dengan asumsi efisiensi 20%. Kutipan dari jurnal tersebut adalah untuk memodifikasi lingkungan yang digunakan sehingga dapat menentukanlaju pengeluaran keringat saat metabolisme meningkat.5,4

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengkonsumsian air saat latihan di lingkungan panas pada subyek hipertensi tidak menunjukkan pengaruh pada kenaikan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa pada lingkungan panas, pembuluh darah pada subyek hipertensi lebih bervasodilatasi untuk merespon panas. Namun, ada kemungkinan bahwa stres panas menyebabkan peningkatan aliran darah kulit vaskular pada kelompok hipertensi, yang mengakibatkan suhu kulit yang lebih tinggi.

Tanpa adanya konsumsi air, suhu pada subyek hipertensi tetap lebih meningkat. Dan konsumsi air juga tidak menjukkan pengaruh pada detak jantung dan tekanan darah pada kedua subyek. (“Dalam studi ini, selama latihan di lingkungan panas dan lembab tanpa mengkonsumsi air, baik normal dan hipertensi mata pelajaran meningkat respons mereka kardiovaskular dan thermoregulatory sepanjang waktu, tapi dengan cara yang berbeda.” Salah satu kutipan dari jurnal).

Dalam jurnal mengatakan bahwa untu banyak keringat yang keluar pada subyek hipertensi maupun normal adalah sama. Referensi lain menyebutkan banyaknya keringat yang keluar tergantung dari ukuran tubuh, jenis olahraga, intensitas olahraga, lamanya olahraga, cuaca dan kelembaban lingkungan, serta jenis pakaian. Keringat yang keluar saat olahraga sebagian besar terdiri atas air, namun keringat juga mengandung elektrolit.

Sebagai kesimpulan, hasil ini menunjukkan bahwa subyek hipertensi merespons dengan cara yang berbeda, yaitu, dengan kerja jantung yang lebih tinggi dan suhu kulit yang meningkat, dibandingkan dengan subyek darah normal untuk latihan intensitas rendah yang dilakukan di lingkungan yang panas dan lembab dan yang mengkonsumsi air memberikan kontribusi untuk meningkatkan perbedaan antara dua kelompok individu. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah mengkonsumsi air, seperti yang direkomendasikan untuk orang yang sehat, bisa mengerahkan efek kelebihan beban pada individu hipertensi (dengan dan tanpa obat terapi) selama latihan, juga di lingkungan thermoneutral.5,5

DAFTAR PUSTAKA

http://akusangpelangi.blogspot.com/2010/05/kebutuhan-air-dan-elektrolit-pada.html

http://www.l-men.com/overheating-dan-dehidrasi-saat-latihan

Jan, dr Tambayong. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

http://spiritfitnesscenter.blogspot.com/2010/03/overheating-dan-dehidrasi-saat-latihan.html

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0100

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Ed. 8 Vol. 2. Jakarta : EGC

lebih lengkapnya silahkan klik di bawah ini….

analisa jurnal lengkap Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

Awan Tag