Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Posts tagged ‘perawat’

my wonderful job

Sudah lama rasanya aku tidak menulis,, guys sekarang aku sudah bekerja di sebuah rumah sakit daerah. Rumah sakitnya bisa dibilang sedikit lumayan besar, yah tipe B lah. Hanya saja ada beberapa hal yang mungkin tidak seperti kebanyakan rs tipe B yang lain.

Aku sudah bekerja kira-kira 3 bulan dan ini adalah bulan terakhir aku menjalani masa training. Aku bertugas di ruang semi intensif care atau biasa disebut high care unit. Banyak sekali hal-hal yang aku tidak mengerti dan tidak kupahami sebelumnya disini. Namun, lama-kelamaan aku menjadi terpaksa mengerti dan memahami kondisi yang terjadi di tempat aku bekerja. Ruangan tempat aku bekerja adalah ruangan yang crowded, tidak jelas alur keluar masuknya pasien (ini karena sebab yang aku belum bisa ikut campur karena biasalah yang muda yang tak dipercaya, im still junior right there). Rata-rata pasien disini adalah pasien yang ada di fase-fase terminal bahkan membutuhkan bantuan ventilasi mekanik untuk keberlangsungan hidup. Tapi saya ingatkan lagi alur masuk dan keluar pasien di ruangan ini menurutku aneh, tidak sesuai dengan protab yang saya baca dan yang dikeluarkan sendiri oleh pihak direksi RS ini.

Padahal menurut prosedur dan kriteria pasien yang saya baca dari surat masuk tersebut adalah, pasien yang masuk di ruang tempat saya bekerja adalah pasien yang membutuhkan perawatan yang lebih sering atau intensif namun parameter hemodinamik masih stabil. Sepertinya susah memaknai definisi tersebut. Baiklah langsung ke kasus saja. Misal pasien dengan CHF NYHA I-II, pasien dengan GCS lebih dari 10 yang membutuhkan syringpump atau pemantauan hemodinamik lebih  sering, pasien post op yang membutuhkan observasi lebih sering dengan catatan hemodinamik stabil. Yang paling saya ingat dari tulisan-tulisan tersebut adalah hemodinamik pasien masih stabil. Dan alur masuk pasien adalah pasien bisa dari ruang mana saja. Serta alur keluar pasien adalah bisa pindah ke ruangan perawatan biasa jika sudah membaik atau bisa masuk ke ruangan yang lebih tinggi tingkatannya jika keadaan memburuk seperti hemodinamik tidak stabil atau membutuhkan bantuan ventilasi.

Namun, apa yang terjadi guys? Selama ini itu bisa dibilang tulisan hanyalah tulisan, prosedur cukuplah prosedur. Realitanya banyak yang tidak sesuai. Jika saya bertanya dengan atasan, pasti jawabannya ya mau gimana lagi, kita tidak punya wewenang (is that really?????). ataupun mungkin jawabannya yah gimana ya guys soalnya rekan sejawat lain profesi yang itu tuh maunya begini begitu. (Oh my God, itu alasan lama bingit bingit).

Sering sekali pasien yang sebenarnya tidak masuk kriteria malah dirawat di ruangan ini. Pasien yang hanya membutuhkan perawatan ruang biasa misalnya, bisa lho dimasukkan ke ruangan ini. Alasannya adalah sang pemeriksa utama nya suka di ruangan ini. Atau bahkan pasien di ruangan ini bisa juga langsung pulang jika sembuh, maksudnya harusnya waktu keadaan membaik dirawat di ruangan biasa tapi ini tetap di ruangan ini sampai pasien pulang.  Nah, yang seperti ini lah yang kadang jadi pertanyaan buat saya, bolehkah seperti ini (kenyataanya terjadi dan boleh-boleh saja tuh). Saya cuma kasihan dengan pasien lain yang sebenarnya lebih membutuhkan perawatan di ruangan ini. Hampir sering terjadi pasien inden dan harusnya dirawat di ruangan ini namun tidak bisa dikarenakan kuota bed penuh. Nah ini lho teman-teman yang jadi kontradiksi. Kuota penuh karena sering pasien sudah membaik tapi tidak dipindah di ruangan lain karena faktor x yang tadi. Jadi dilema sendiri.

Dan kakak ruangan ini (ruangan yang tingkatannya lebih tinggi), karena sang empu nya seringkali tidak memberi acc untuk pasien masuk di ruangan kakak ini terpaksa sang pemeriksa enggan untuk berurusan dengan ruangan kakak ini. Saya jadi bingung, juga tercengang. Begini ya ternyata lingkungan kerja itu. Di kampus mah kita gak tau yang beginian. Taunya hanya bagaimana merawat pasien dengan caring, ramah, cepat, tanggap, dan memuaskan.

Alhamdulillah, meskipun kenyataan di tempat saya bekerja membuat banyak dilema buat pikiran saya yang masih terdoktrin sesuatu hal yang sesuai prosedur. Sekali lagi Alhamdulillah, puji syukur untuk Allah yang tetap menjaga hati saya untuk terus ikhlas dalam merawat pasien-pasien di ruangan yang campur aduk ini. Saya selalu berusaha mengesampingkan hal-hal tabu dan kontradiksi saat saya berhadapan dengan pasien. Saya menyukai pekerjaan saya dalam kondisi apapun. Saya menyukai interaksi dengan banyak pasien, dan keluarga pasien.

Apalagi di ruangan ini saya juga diberi amanah untuk membimbing bibit-bibit baru tenaga perawat yang luar biasa (baca mahasiswa praktek). Saya senang sekali karena bisa berdiskusi dengan mereka. Mengingatkan kembali pada saat saya kuliah dulu. Saya berusaha memberikan contoh yang baik dan menjadi role model yang baik bagi mereka juga untuk teman-teman saya bekerja. Apapun yang terjadi, pasien adalah yang utama. Kesampingkan yang lain saat memberi pelayanan pada pasien, itulah profesional. J

Saya berharap keadaan dilema ini akan segera berakhir dan berjalan dengan sebagaimana mestinya tanpa ada hal-hal yang membuat berbagai pihak merasa dikecewakan. Saya berharap rumah sakit ini menjadi rumah sakit pusat rujukan, dengan visi misi yang telah diikrarkan juga bisa tercapai.

Sekali lagi, saya bangga menjadi bagian dari rumah sakit ini. Saya akan memberikan yang terbaik untuk rumah sakit ini. Mengabdi dan melayani.. J

 

Iklan

Jurnal Pencegahan Konstipasi dengan Abdominal Massage

Penelitian terkait dengan abdominal massage untuk mengatasi konstipasi adalah :

  1. Referensi terakreditasi

1)      Penelitian yang dilakukan oleh Lai et al dengan judul “Effectivenes of Aroma Massage on Advanced Cancer Patients with Constipation : A pilot Study” yang dipublikasikan di Complementary Therapies in Clinical Practice Volume 17 , halaman 37-43 pada tahun 2011, DOI : 10.1016/j.ctcp.2010.02.004.

2)      Penelitian yang dilakukan oleh Lamas et al dengan judul “Effects of Abdominal massage in Management of Constipation-A randomised Controlled Trial” yang di publikasikan di International Journal of Nursing Studies Volume 46, halaman 759-767 pada tahun 2009, DOI : 10.1016/ji.ijnurstu.2009.01.007.

  1. Relevansi dengan fenomena masalah

         Relevansi masalah dengan fenomena yang ditemukan di tempat penelitian sangat relevan. Jurnal acuan merupakan hasil penelitian tentang efektivitas abdominal massage dalam mengatasi konstipasi .

  1. Kemutakhiran

         Jurnal acuan internasional merupakan publikasi 5 tahun terakhir dan salah satu jurnal penelitian merupakan jurnal khusus keperawatan.

  1. Faktor kekuatan evidence

1)      Kekuatan evidence based pada jurnal penelitian acuan pertama adalah penelitian menggunakan sampel 32 partisipan yang mengalami konstipasi. Pemilihan partisipan berdasarkan kriteria inklusi yang selektif dengan pengkajian menggunakan Constipation Asessment Scale (CAS) untuk pra tindakan dan post tindakan meminimalkan bias dalam penelitian. Penelitian ini melakukan perbandingan 3 kelompok yaitu kelompok yang diberikan terapi aroma massage, plain massage dan control group. Acuan daftar pustaka terdapat 27 referensi dengan 20 jurnal internasional, 6 textbook, dan 1 laporan WHO.

2)      Kekuatan evidence based pada acuan jurnal yang kedua adalah penelitian menyoroti tentang efektivitas abdominal massage pada 60 partisipan yang mengalami konstipasi. Pemilihan partisipan berdasarkan kriteria inklusi dengan Rome II, kemudian dilanjutkan dnegan pengkajian konstipasi dengan Gastrointestinal Symptomps Rate Scale (GSRS). Penelitian ini menggunakan grup kontrol. Jumlah partisipan yang banyak meminimalkan bias. Acuan daftar pustaka dalam penelitian ini menggunakan 46 referensi dengan 32 jurnal penelitian internasional dan 14 textbook atau majalah ilmiah.

  1. Kelengkapan aspek

1)      Jurnal acuan pertama menggunakan metode pilot study. Kriteria partisipan usia 18 tahun atau lebih, penderita kanker, pengukuran skala Karnofsky lebih dari 40, skor CAS satu atau lebih, konstipasi selama 3 hari, dan dirawat di rumah sakit minimal 1 minggu. Partisipan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok aroma massage, plain massage, dan kelompok kontrol. Abdominal massage dilakukan selama 15 – 20 menit dengan interval 5 hari dalam seminggu. Hasil penelitian didapatkan kelompok dengan aroma massage menunjukkan skor CAS lebih rendah dari grup kontrol.

2)      Jurnal acuan kedua menggunakan metode randomized controlled trial. Kriteria partisipan diseleksi dengan Rome II. Terdapat grup kontrol dalam penelitian ini. Intervensi yang dilakukan yaitu abdominal massage selama 15 menit dalam 5 hari selama 8 minggu. Masase dilakukan dengan memberikan tekanan yang lembut pada area abdomen. Sebelum intervensi pasien dianjurkan untuk melakukan terapi napas dalam. Hasil penelitian didapatkan kelompok yang mendapatkan intervensi memiliki skor GSRS lebih rendah dari pada kelompok kontrol.

Kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan SEFT

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Kecemasan yang berat akan mempengaruhi hipotalamus dan menimbulkan dua mekanisme yang berbeda. Impuls pertama didukung oleh sistem saraf simpatis yang akan mempengaruhi medula adrenal dalam memproduksi epinephrin dan nor epinephrin. Dalam keadaan normal, kedua substansi ini akan memberikan sirkulasi darah yang adekuat sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, suhu tubuh stabil sehingga energi terpenuhi. Tetapi jika produksinya patologis akan meningkatkan rate dan kontraksi jantung, dilatasi pupil, penurunan motilitas gastrointestine tract hingga terjadi glikogenolisis dan gluko-neogenesis di hepar. Sedangkan mekanisme kedua akan mempengaruhi kelenjar hipofise anterior sehingga merangsang produksi hormon adrenokortikosteroid yaitu aldosteron dan glukokortikoid.

Aldosteron berperan dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, reabsorbsi air dan natrium. Glukokortikoid menyediakan energi pada kondisi emergensi dan penyembuhan jaringan. Kecemasan dapat timbul karena kesiapan psikologis terhadap pembedahan belum terjadi.

Pengurangan tingkat kecemasan preoperasi sangat penting karena akan mempengaruhi hemodinamik responden sebelum dan selama operasi. Indikator hemodinamik yang paling berpengaruh yaitu perubahan tekanan darah dan frekuensi jantung. Kondisi ini akan mempengaruhi macam obat anestesi yang diberikan saat operasi untuk mencapai kondisi responden yang stabil. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi perubahan hemodinamik antara lain status fisik, usia, jenis kelamin, berat badan, kecemasan, nyeri, riwayat pemakaian obat sebelumnya, status hidrasi, suhu tubuh, pilihan obat premedikasi dan induksi anestesi. oleh karena itu, perlu dilakukan penurunan tingkat kecemasan untuk mencegah terjadinya perubahan hemodinamik sebelum operasi.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian SEFT (spiritual emotion freedom technique), latihan napas dalam, terapi musik, dan distraksi. Seluruh intervensi yang dilakukan memiliki tujuan akhir yang sama yaitu membuat responden lebih rileks. Teknik SEFT ini berfokus pada kata atau kalimat tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah pada Tuhan sesuai dengan keyakinan responden. Tujuan dari intervensi ini untuk mengatasi berbagai macam masalah fisik, emosi, fikiran, sikap, motivasi, perilaku, dan pengembangan diri.

Spiritual menimbulkan rasa percaya diri, mendatangkan ketenangan, rileks, dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa sehingga mengakibatkan rangsangan ke hipotalamus untuk menurunkan produksi CRF (Cortictropin Releasing Factor). CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk menurunkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon). Hormon ini yang akan merangsang kortek adrenal untuk menurunkan sekresi kortisol. Kortisol ini yang akan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi tingkat kecemasan. Berbeda dengan psikoterapi konvensional, EFT berasumsi bahwa memang benar beberapa ingatan (sadar atau bawah sadar) tentang masa lalu dapat membangkitkan gangguan psikologis, tetapi proses ini tidak berjalan secara langsung, melainkan ada “proses antara“ yang dinamakan “Disruption of Body Energy System” (terganggunya sistem energi tubuh). Inilah yang sebenarnya secara langsung menyebabkan gangguan emosi. EFT langsung menangani gangguan sistem energi tubuh untuk menghilangkan emosi negatif. Dengan begitu, cukup menyelaraskan kembali sistem energi tubuh, maka emosi negatif yang dirasakan akan hilang dengan sendirinya. Hasil implementasi menunjukkan, bahwa SEFT berpengaruh terhadap penurunan kecemasan dan perubahan tanda-tanda vital dalam rentang normal pada 8 responden pre operasi. 

Standar Asuhan Keperawatan pada Pasien Diabetes Mellitus

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS

 

Nama                      :

Usia                         :

Jenis Kelamin          :

Alamat                    :

No RM                    :

 

  1. Riwayat Kesehatan
    1. Keluhan utama

Adanya keluhan mudah lelah, sering mengantuk, rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Berisi tentang kapan gejala mulai dirasakan, seberapa sering gejala dirasakan, upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Apabila terjadi luka, kapan terjadinya, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasi luka tersebut.

  1. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit-penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, penyakit ginjal, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.

  1. Pengakajian Kebutuhan Dasar
    1. Kebutuhan oksigenasi

Kebas & kesemutan pada extrimitas, denyut nadi yang lemah pada ekstrimitas, capilarry refill lebih dari 5 detik, adanya pitting edema, takikardia/nadi yang menurun/tak ada.

  1. Kebutuhan nutrisi dan cairan

Sering merasa lapar, haus, perubahan berat badan. Terkadang keluhan hilang nafsu makan, mual, muntah, BB menurun.

  1. Kebutuhan eliminasi

Poliuri, nokturia, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih. Urine berkabut, bau busuk tanda terjadinya infeksi.

Nyeri tekan pada abdomen, adanya diare, bising usus lemah dan menurun.

  1. Kebutuhan aktivitas dan latihan

Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan. Kram otot, tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot. Pengkajian terhadap kegiatan sebelum sakit dan setelah sakit.

  1. Kebutuhan istirahat dan tidur

Adanya gangguan istirahat dan tidur, kesulitan tidur di malam hari akibat merasakan nyeri, keluhan tidur tidak puas.

  1. Kebutuhan personal hygiene

Kulit kering, gatal, pecah-pecah, kemerahan dan ada atau tidaknya ulkus di kulit. Apabila luka terjadi infeksi akan menimbulkan bau yang menyengat dan tidak sedap (luka ganggren).

  1. Kebutuhan persepsi dan sensori

Adanya keluhan kebas atau kesemutan, parastesia, pusing atau pening, gangguan penglihatan. Disorientasi, mengantuk atau letargi, koma pada tahap lanjut. Adanya gangguan memori.

  1. Kebutuhan komunikasi dan mental

Pada tahap lanjut terdapat adanya kekacauan mental.

  1. Kebutuhan kenyamanan

Adanya nyeri membuat klien merasa tidak nyaman.

  1. Kebutuhan seksualitas

Keluhan mengalami kesulitan orgasme pada wanita dan masalah impoten pada pria.

  1. Stress dan koping

Stress karena jenuh dengan penyakit yang dihadapi, menyatakan perasaan pasrah, menyerah. Tergantung kepada orang lain, peka terhadap rangsangan.

  1. Konsep diri

Klien mungkin mengatakan merasa malu dengan sakit yang dideritanya, merasa tidak memiliki harapan untuk mencapai kesembuhan.

  1. Kebutuhan rekreasi dan spiritual

Pengkajian terhadap kebutuhan spiritual meliputi kegiatan beragama sebelum dan sesudah sakit yang masih dilakukan.

  1. Terapi modalitas

Pengkajian mengenai kebutuhan klien akan kegiatan yang dapat meningkatkan motivasi dalam mencapai kesembuhan.

 

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum

Meliputi keadaan penderita mungkin tampak lemah atau pucat. Tingkat kesadaran apakah sadar, koma, disorientasi.

  1. Tanda-tanda vital

Tekanan darah tinggi jika disertai hipertensi. Pernapasan reguler ataukah ireguler, adanya bunyi napas tambahan, respiration rate (RR) normal 15-20 kali/menit, pernapasan dalam atau dangkal. Denyut nadi reguler atau ireguler, adanya takikardia, denyutan kuat atau lemah. Suhu tubuh meningkat apabila terjadi infeksi.

 

  1. Pemeriksaan kulit

Kulit kering, adanya ulkus di kulit, luka yang tidak kunjung sembuh. Adanya akral dingin, capillarry refill kurang dari 3 detik, adanya pitting edema.

  1. Pemeriksaan kepala

Raut wajah : pengkajian kontak mata saat diajak berkomunikasi, fokus atau tidak fokus. Mata : simetris mata, refleks pupil terhadap cahaya, terdapat gangguan penglihatan apabila sudah mengalami retinopati diabetik. Telinga : fungsi pendengaran mungkin menurun. Hidung : adanya sekret, pernapasan cuping hidung, ketajaman saraf penghidu menurun. Mulut : mukosa bibir kering,

  1. Pemeriksaan leher

Pemeriksaan pada tekanan vena jugularis.

  1. Pemeriksaan sistem persyarafan

Pemeriksaan pada 12 sistem persyarafan, pada penderita diabetes biasanya mengalami gangguan persyarafan diakibatkan oleh neuropati diabetik.

  1. Pemeriksaan dada

Denyut jantung cepat atau lambat, adanya bunyi jantung tambahan apabila diawali dari penyakit jantung.

  1. Pemeriksaan abdomen

Adanya nyeri tekan pada bagian pankreas, distensi abdomen, suara bising usus yang meningkat.

  1. Pemeriksaan genitalia

Rabar vagina pada wanita, masalah impotensi pada pria.

  1. Pemeriksaan ekstrimitas

Adanya luka pada kaki atau kaki diabetik. Observasi luas luka, kedalaman luka, perdarahan. Kaji kekuatan otot.

 

 

 

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Glukosa darah meningkat 200-100 mg/dL atau lebih.
    2. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
    3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolestrol meningkat.
    4. Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l.
    5. Elektrolit

Natrium : mungkin normal, meningkat, atau menurun

Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun.

Fosfor : lebih sering menurun.

  1. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selam 4 bulan terakhir (lama hidup SDM) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan kontrol tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden.
  2. Gas darah arteri ; biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan apda HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensansi alkalosis metabolik.
  3. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat (dehidrasi leukositosis, hemokonsentrasi merupakan respons terhadap stress atau infeksi).
  4. Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal (dehidrasi / penurunan fungsi ginjal).
  5. Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut atau sebagai penyebab dari DKA.
  6. Insulin darah : mungkin menurun atau abhakan sampai tidak ada (pada tipe I) atau noral sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/ gangguan dalam penggunaannnya (endogen / eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibodi.
  7. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
  8. Urine : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
  9. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernapasan, dan infeksi pada luka.

 

  1. Prioritas Masalah
    1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
    2. Gangguan integritas kulit (0046)
    3. Ansietas (00146)
    4. Resiko Infeksi (0004)

 

  1. Intervensi Keperawatan
    1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)

Setelah dilakukan asuhan    keperawatan selama…………………….ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi  dengan kriteria hasil :

  1. Albumin serum dalam kisaran 3,5-5 mEq/L hbdalam kisaran 12-16 mEq/L,  hmt dalam kisaran 37-47 mEq/L.
  2. Klien mampu menghabiskan diet tiap porsi.
  3. BB klien naik 0,9 kg / Minggu
  4. Konjungtiva klien berwarna merah muda
  5. Klien tidak merasakan mual,nyeri perut,diare
  6. Bising usus klien baik.

Intervensi yang dilakukan adalah :

  1. Manajemen nutrient (1100)

1)      Kaji adanya alergi makanan

2)      Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi

3)      Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan

4)      Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi

5)      Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan

6)      Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan

  1. Status Nutrisi : asupan makanan dan cairan (1008)

1)      Kelola pemberian anti emetik sesuai order.

2)      Pertahankan terapi IV line

3)      Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval

4)      Monitor turgor kulit

  1. Status Nutrisi : keadekuatan nutrisi (1009)

1)      Monitor adanya penurunan BB dan gula darah

2)      Monitor kekeringan kulit, rambut kusam, total protein, Hb

3)      Monitor mual dan muntah

4)      Monitor warna konjungtiva

5)      Monitor intake nutrisi

6)      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien

  1. Gangguan integritas kulit (0046)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama…………. resiko kerusakan integritas kulit klien dapat dikontrol, dengan kriteria hasil :

  1. Perawat dan klien mampu monitor faktor resiko dari perilaku personal yang dapat menimbulkan kerusakan integritas kulit.
  2. Perawat dan klien mampu mengembangkan strategi kontrol resiko yang efektif untuk mencegah kerusakan integritas kulit.
  3. Klien berpartisipasi dengan memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko kerusakan intergritas kulit.
  4. Temperatur jaringan baik.
  5. Sensasi, elastisitas, hidrasi, pigmentasi, perspirasi, tekstur, dan ketebalan baik.
  6. Perfusi jaringan terkompromi.

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah :

  1. Pencegahan luka tekan (3540)

1)      Gunakan alat pengkajian risiko untuk memonitor factor risiko klien (misal: Braden Scale)

2)      Dokumentasikan status kulit tiap hari

3)      Cegah kelembapan berlebih pada kulit akibat keringat, drainase luka, dan inkontinensia urine/fekal

4)      Anjurkan klien memakai baju yang longgar

5)      Jaga kulit  tetap bersih dan kering

6)      Gunakan balutan transparan pada kulit yang berisiko untuk mencegah kulit dari basah

7)      Ganti posisi klien tiap 1-2 jam secara teratur

8)      Ganti posisi secara hati-hati untuk mencegah cedera pada kulit yang rentan

9)      Susun jadwal pergantian posisi dan letakkan di sisi tempat tidur

10)  Sangga dengan bantal untuk mencegah tekanan dari tempat tidur

11)  Jaga linen tetap bersih, kering, dan tidak berkerut

  1. Perawatan kaki (1660)

1)      Hindari melakukan massase pada titik tekanan

2)      Beri pelembab pada kulit yang kering dan tidak terluka

3)      Gunakan pelindung siku dan tumit

4)      Pastikan keadekuatan nutrisi, terutama protein, vitamin B dan C, zat besi, kalori, dan gunakan suplemen bila perlu

5)      Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan

6)      Inspeksi kulit di sekitar penonjolan tulang dan titik tekanan lain saat mengganti posisi pasien, minimal 1 hari

7)      Monitor tanda kemerahan kulit

 

  1. Ansietas (00146)

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama  …………………kecemasan klien teratasi dengan kriteria hasil:

  1. Klien mampu memonitor intensitas cemas.
  2. Klien mampu menghilangkan faktor penyebab kecemasan.
  3. Klien mampu mengenal dan mengungkapkan gejala cemas
  4. Klien mampu menggunakan strategi koping yang efektif untuk mengontrol kecemasan.
  5. Klien melaporkan tidur yang adekuat.
  6. Vital sign klien dalam kisaran : TD : 120/80 mmHg,  RR : 15-20 x/menit
  7. Penampilan fisik, perilaku, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas klien menunjukkan berkurangnya kecemasan

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah :

  1. Counseling (5240)

1)      Bangun hubungan terapeutik yang didasarkan pada rasa saling menghargai dan percaya antara klien dan perawat.

2)      Tunjukkan sikap hangat, empati, sifat yang tidak dibuat-buat.

3)      Dorong klien mengungkapakan dan meluapkan perasaan yang sedang dialaminya.

  1. Crisis Intervention (6160) : Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
  2. Penurunan kecemasan (5820)

1)      Bantu klien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

2)      Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku klien

3)      Jelaskan semua prosedur pengobatan dan perawatan

4)      Temani klien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut

5)      Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien

6)      Instruksikan pada klien untuk menggunakan tehnik relaksasi (misal mendengarkan musik).

7)      Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

8)      Identifikasi tingkat kecemasan klien

9)      Kolaborasi pemberian obat anti cemas

  1. Resiko Infeksi (0004)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…………………risiko infeksi teratasi, dengan kriteria hasil:

  1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
  2. Klien menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  3. Jumlah leukosit normal
  4. Klien menunjukkan perilaku hidup sehat
  5. Status imun, gastrointestinal,
  6. Genitourinaria normal

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah :

  1. Kontrol infeksi (6540)

1)      Terapkan unversal precaution

2)      Batasi pengunjung bila perlu

3)      Beri higiene yang baik

4)      Monitor tanda dan gejala infeksi (local dan sistemik)

5)      Ajarkan teknik cuci tangan

6)      Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada petugas

7)      Kolaborasi dokter bila ada tanda infeksi

  1. Proteksi infeksi (6550)

1)      Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan prosedur.

2)      Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing

3)      Tingkatkan cairan dan nutrisi

4)      Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase

5)      Pertahankan teknik aseptic dalam tiap tindakan

6)      Ganti peralatan perawatan pasien per prosedur protocol

7)      Lakukan pemeriksaan kultur bila suspek infeksi dan laporkan hasilnya pada petugas yang berwenang

8)      Tingkatkan intake nutrisi dan cairan

9)      Tingkatkan tidur dan istirahat

10)  Kelola pemberian antibiotic

11)  Ajarkan pada pasien dan keluarga cara menghindari infeksi

12)  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Doenges, M.E, Moorhouse, M. F, Geissler, A.C, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta

 

Hudak, C.M, Gallo, B.M, 1995, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik Ed. VI, EGC, Jakarta

 

McCloskey, J.C, Bulechek, G.M, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), Mosby, St. Louis

 

Mott, S.R, James, S.R, Sperhac, A.M, 1990, Nursing Care of Children and Family, Addison Wesley, California

 

NANDA, 2001, Nursing Diagnoses : Definitions and Classification 2001-2002, Philadelphia

 

Sarwono, W., dkk, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

 

Sidarwan, S., 2002, Petunjuk Praktis Pengelolaan DM Tipe II Perkeni 2002, BIPD FKUI – RSU PN Cipto, Jakarta

 

NERS at PSIK FK UNDIP

aku sudah menyelesaikan tahap sarjanaku, dan akhirnya aku dapat kesempatan untuk melanjutkan program profesi keperawatan dan tetap di universitas yang sama..
PSIK FK UNDIP..

senang rasanya, saya bergabung di angkatan 21..yah meski awalnya saya sedikit ada masalah dengan pembayaran spp, namun so far, saya nikmati dan saya menyukainya..

saya senang ketika melihat jadwal praktek yang sudah dikeluarkan oleh koordinator profesi.

saya mendapatkan praktek stase pertama maternitas di wonosobo. RS wonosobo terkenal denan sistem pembelajaran terutama di ruang maternitas yang memang membuat mahasiswanya menjadi luar biasa. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan emas itu.

memang dalam menmpuh tahap profesi akan sangat dipusingkan dengan tugas dan waktu yang menyita. Namun nikmatilah semua prosesnya, kelak akan mendapatkan hasil yang luar biasa, berkah, dan barokah..InsyaAllah..Amiiinn…

apalagi profesi kali ini saya tempuh dalam waktu satu tahun dengan bobot sks 36 sks yakni 48 minggu. waaahhh bener2 berat ya bagi mahasiswa..bisa tidur gak yaa…hehehhe

iya pasti berat jika memikirkan beratnya..Sudahlah nikmati saja.

beberapa tips dalam menjalani praktek profesi berikut ini versi saya :

1. tentu pamit sama kedua orangtua, keluarga, sanak family..tujuannya adalah selain meminta doa, juga berpesan pada mereka untuk always mengingatkan kita saat kita sedang “lupa”, dan menjaga motivasi kita. Syukur-syukur kalau dapat tambahan uang saku,,heheheh

2. jaga stamina dan kesehatan, karena profesi sangat butuh ekstra tenaga dan pikiran.. makan makanan yang bergizi, tidak perlu mahal asal sehat, kalau bisa ya masak sendiri,,hehehe,,biar lebih hemat.

3. jaga motivasi, jangan sampai di awal kita sangat euforia eh malah sampai pertengahan down sekali. jangan begitu. selalu jaga motivasi. Penting ini untuk yang sudah punya pasangan, jangan sampai kegiatan pacaran bikin kita galau dan akhirnya merusak motivasi dan semangat kita, eman2 udah bayar mahal profesinya,,hehehe..ya beri pengertian terhadap pasangan tentang rencana kegiatan anda selama praktek profesi ini. kalau dia bener2 paham tentang kegiatan anda tentunya juga dia pasti mau mendukung dan memotivasi anda..hehhe

4. banyak baca literatur dan referensi, penting ini. jangan sampai kita masuk ke lahan klinik cuma bawa badan saja..ehhehe..kasarnya tong kosong lah…kan juga malu2in kalau dari undip gak ngerti apa-apa..heheheh..harumkan nama almamater dengan prestasi kita.

5. penting ini soal keuangan, jangan boros juga saat profesi. Hemat tidak berarti ngirit makan lho yaaa… wah ini nih kesalahan persepsi banyak mahasiswa,, niatnya menghemat, jadi gak makan, eh ujung2nya malah dia sendiri yang dirawat di rumah sakit.. apa kata dunia???hehhe

6. ibadah selalu yang utama..harusnya ini ditaruh yang diatas yaa..hehehe maaf.. ya ibadah adalah hal yang utama mengingat semua yang terjadi adalah kehendakNya. jadi rajin-rajinlah minta perlindunganNya, supaya kita nyaman dan aman dalam melaksanakan tugas..:D

7. jangan lupa jaga kebersihan..karena kebersihan adalah sebagian dari iman

Nah teman-teman, sudah cukup sekian dulu yaaa..semoga bermanfaat buat teman-teman semua yang akan menempuh profesi..

Semangat…

buat yang lagi galau mau nglanjutin profesi atau tidak, saran saya lanjutkan saja..banyak sekali barokah dan manfaat yang didapat lhoo..

buat adek-adek yang bingung ambil jurusan apa saat kuliah, hemmm..saya merekomendasikan PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

ini linknya..

http://keperawatan.undip.ac.id/id/

silahkan bergabung dengan saya dan menjadi bagian dari PSIK FK UNDIPGambar

Karakteristik Spiritual

Spiritualitas mempunyai suatu karakter, sehingga bisa diketahui bagaimana tingkat spiritualitas seseorang. Karakteristik spiritual tersebut antara lain :

  • Hubungan dengan diri sendiri

Hubungan dengan diri sendiri mencakup bagaimana individu tersebut mengetahui dirinya dan sikap pada diri sendiri. Pengetahuan tentang diri sendiri seperti mengetahui identitas diri, siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya, kemampuan, dll. Sikap yang dikuasai seperti percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, harmoni atau keselarasan diri.

  • Hubungan dengan alam

Hubungan dengan alam menggambarkan bagaimana seorang individu peka terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya baik makhluk hidup maupun benda mati. Individu mengetahui tanaman, pohon, mrgasatwa, iklim, cuaca, dan lain sebagainya sebagai teman dalam kehidupan. Individu juga mampu berkomunikasi dengan alam seperti berjalan kaki, bercocok tanam, serta mengabadikan dan melindungi alam.

  • Hubungan dengan orang lain

–          Harmonis : berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbale balik; mengasuh anak, orang tua, dan orang sakit; meyakini kehidupan dan kematian.

–          Tidak harmonis : konflik dengan orang lain; resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi; hubungan dnegan ketuhanan.

–          Agamis / tidak agamis ; sembahyang/berdoa/meditasi, perlengkapan keagamaan, bersatu dengan alam.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritualnya apabila mampu :

–          Merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadannya di dunia/kehidupan.

–          Mengembangkan arti penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan.

–          Menjalin hubungan positif dan dinamis melaluia keyakinan, rasa percaya, dnan cinta.

–          Membina integritas personal dan merasa diri berharga.

–          Merasakan kehidupan yang terarah yang terlihat melalui harapan.

–          Mengembangkan hubungan antar manusia yang positif.

–          Mampu menjaga keseimbangan alam dengan tidak merusak alam serta menjaga kelestarian alam sekitarnya.

sumber : Dwidiyanti, M. Keperawatan Dasar. Semarang : Penerbit hasani. 2008

Bermain Peran : Makanan Sehat (Mengenalkan makanan sehat pada anak pra sekolah)

waktu itu saya sedang praktek bersama dengan teman-teman saya di TK Buah Hati di daerah semarang. saya dan teman-teman mengajarkan tentang makanan sehat yang umumnya dibenci oleh anak-anak menjadi akan disukai oleh anak-anak.

sayuran yang penting karena mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh pertumbuhan anak. dan makanan sehat lain seperti ikan, protein nabati yaitu tahu dna tempe, telur.

bermain peran disini seperti memainkan drama dengan kami sebagai pemeran memakai kostum yang mirip seperti sayuran-sayuran maupun makanan sehat lain. selain itu kami juga membawa contoh asli dari makanan tersebut dan juga olahan dari bahan makanan tersebut.

menyenangkan sekali dapat berbagi ilmu bersama adek-adek di TK Buah hati. semoga anak indonesia sehat selalu dan menjadi generasi penerus bangsa yang hebat dan kuat.

 

Maaf sedikit narsis…hehehe

Awan Tag