Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Posts tagged ‘hipertensi’

Analisa Jurnal Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

diatas adalah jurnalnya…

dibawah ini adalah pembahasannya..

Pada jurnal “Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion”, membandingkan antara orang normal dengan orang hipertensi. Yang menjadi perbandingan adalah utamanya pada perubahan suhu tubuh saat berolahraga, konsumsi air, dan yang lain seperti detak jantung. Sebagai subyek penelitian adalah orang normal dan orang hipertensi yang memiliki kriteria tertentu sesuai dengan variabel penelitian.

Perbandingan antara orang hipertensi dengan normal saat berolahraga, terlihat bahwa hasil rekaman detak jantung pada orang hipertensi detak jantung lebih tinggi dari orang normal. Namun, disini konsumsi air belum dijadikan sebagai variabel pembanding. Tekanan darah sistolik dan diastolik meningkat pada orang dengan hipertensi. Dan untuk tekanan sistolik pada orang hipertensi meningkat dari biasanya saat beristirahat.

Selama latihan, sistem kardiovaskular dituntut untuk mempertahankan tekanan darah, aliran darah otot, dan suhu tubuh yang bersaing dan tuntutan gabungan otot dan kulit untuk mempertahankan aliran darah agar bisa melebihi output maksimal jantung.5,1

Sistem saraf otonom menghasilkan vasokonstriksi yang lebih besar dan pengalihan volume aliran darah dari organ-organ visceral dan perifer dalam upaya untuk mempertahankan curah jantung dan aliran darah yang diperlukan untuk otot dan kulit secara bersamaan. Dengan demikian, kerja jantung lebih besar selama latihan ditambah dengan stress panas.5,2

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sisitem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ni, neuron preganglion melepaskan asetilkoin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pumbuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepiefrin mengakibatan konstriksi pembuluh darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah meningkat dan denyut jantung meningkat.6

Tanggapan thermoregulatory selama latihan di lingkungan panas, temperatur rektal meningkat di akhir latihan baik untuk orang dengan hipertensi dan orang normal, dan tidak dipengaruhi oleh konsumsi air pada kedua kelompok. Jadi disini pengkonsumsian air tidak mempengaruhi denyut jantng, dan tekanan darah. Akan tetapi suhu kulit meningkat lebih tunggi pada orang hipertensi selama latihan, pengkonsumsian air meningkat pada orang dengan hipertensi saat suhu kulit meningkat.5,3

Konsumsi air selama latihan sangat diperlukan, walaupun sebelum olahraga sudah minum. Studi menunjukkan, olah raga tanpa rehidrasi dapat menyebabkan terjadinya peningkatan suhu tubuh terus berlangsung sampai pada tahap yang membahayakan.2,2

Apabila tidak mendapat konsumsi air secara berkala akan menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh dalam jumlah yang sangat banyak. Salah satu penyebab terjadinya dehidrasi adalah keluarnya keringat yang berlebihan. Ketika sedang beraktivitas atau berolah raga jumlah keringat yang dikeluarkan umumnya mencapai sekitar 1 liter/jam. Dehidrasi yang berlebihan akan mengakibatkan banyak gangguan bagi fungsi tubuh, menginagt bahwa 60% komponen tubuh adalah air.2,3

Pada akhir latihan, suhu tubuh pada subyek hipertensi meningkat lebih daripada subyek normal. Penulis berpendapat bahwa, memang pada awalnya pada subyek hipertensi pembuluh darah berkontriksi untuk memanipulasi curah jantung. Namun pada saat akhir latihan, seperti masa penstabilan kembali heart rate dan tekanan darah, pembuluh darah membuang panas yang dihasilkan oleh tubuh dengan cara berkeringat. Suhu kulit terus meningkat pada akhir latihan begitu juga keringat, sehingga pengkonsumsian air juga meningkat pada kondisi ini untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Lingkungan stres termal dalam ruang lingkungan yang diperkirakan dengan pengukuran basah (27,8 º C) dan suhu kering (30 º C) dengan menggunakan persamaan ISBB = 28,5 º C (18). Pengeluaran rata-rata metabolisme (kkal / jam) dihitung dari daya berkelanjutan selama 60 menit di ergometer siklus, dengan asumsi efisiensi 20%. Kutipan dari jurnal tersebut adalah untuk memodifikasi lingkungan yang digunakan sehingga dapat menentukanlaju pengeluaran keringat saat metabolisme meningkat.5,4

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengkonsumsian air saat latihan di lingkungan panas pada subyek hipertensi tidak menunjukkan pengaruh pada kenaikan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa pada lingkungan panas, pembuluh darah pada subyek hipertensi lebih bervasodilatasi untuk merespon panas. Namun, ada kemungkinan bahwa stres panas menyebabkan peningkatan aliran darah kulit vaskular pada kelompok hipertensi, yang mengakibatkan suhu kulit yang lebih tinggi.

Tanpa adanya konsumsi air, suhu pada subyek hipertensi tetap lebih meningkat. Dan konsumsi air juga tidak menjukkan pengaruh pada detak jantung dan tekanan darah pada kedua subyek. (“Dalam studi ini, selama latihan di lingkungan panas dan lembab tanpa mengkonsumsi air, baik normal dan hipertensi mata pelajaran meningkat respons mereka kardiovaskular dan thermoregulatory sepanjang waktu, tapi dengan cara yang berbeda.” Salah satu kutipan dari jurnal).

Dalam jurnal mengatakan bahwa untu banyak keringat yang keluar pada subyek hipertensi maupun normal adalah sama. Referensi lain menyebutkan banyaknya keringat yang keluar tergantung dari ukuran tubuh, jenis olahraga, intensitas olahraga, lamanya olahraga, cuaca dan kelembaban lingkungan, serta jenis pakaian. Keringat yang keluar saat olahraga sebagian besar terdiri atas air, namun keringat juga mengandung elektrolit.

Sebagai kesimpulan, hasil ini menunjukkan bahwa subyek hipertensi merespons dengan cara yang berbeda, yaitu, dengan kerja jantung yang lebih tinggi dan suhu kulit yang meningkat, dibandingkan dengan subyek darah normal untuk latihan intensitas rendah yang dilakukan di lingkungan yang panas dan lembab dan yang mengkonsumsi air memberikan kontribusi untuk meningkatkan perbedaan antara dua kelompok individu. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah mengkonsumsi air, seperti yang direkomendasikan untuk orang yang sehat, bisa mengerahkan efek kelebihan beban pada individu hipertensi (dengan dan tanpa obat terapi) selama latihan, juga di lingkungan thermoneutral.5,5

DAFTAR PUSTAKA

http://akusangpelangi.blogspot.com/2010/05/kebutuhan-air-dan-elektrolit-pada.html

http://www.l-men.com/overheating-dan-dehidrasi-saat-latihan

Jan, dr Tambayong. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

http://spiritfitnesscenter.blogspot.com/2010/03/overheating-dan-dehidrasi-saat-latihan.html

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0100

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Ed. 8 Vol. 2. Jakarta : EGC

lebih lengkapnya silahkan klik di bawah ini….

analisa jurnal lengkap Thermoregulation in hypertensive men exercising in the heat with water ingestion

Iklan

Hipertensi

Adalah peningkatan systole, yang tingginya tergantung umur individu yang terkena. Tekana darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, tergantung poisi tubuh, umur, dan tingkat stress yang dialami. Hipertensi juga sering digolongkan sebagai ringan, sedana atu berat berdasarkan tekanan diastole. Hipertensi ringan bila tekanan darah diastole 95-104, sedang 105-114, dan berat tekana diastolenya <115.

Hipertensi dengan peningkatan tekanan systole tanpa disertai peningkatan tekanan diastole lebih sering pada lansia, sedangkan hipertensi peningkatan tekanan diastole tanpa disertai peningkatan tekanan systole lebih sering terdapat pada dewasa muda. Hipertensi dapat pula digolongkan sebagai esensial atau idiopatik, tanpa etiologi spesifik, yang paling sering dijumpai. Bila ada penyebabnya disebut hipertensi sekunder. Ada lagi istilah hipertensi benigna dan maligna, tergantung perjalana penyakitnya. Bila timbulnya berangsur, disebut benigna ; bila tekanannya naik dan cepat, hipertensi maligna, dan banyak komplikasi, seperti gagal ginjal, CVA, hemoragi retina, dan ensefalopati.

Etologi

Usia. Insidens hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35tahun dengan jelas menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian premature.

Kelamin. Pada umunya insidens pada pria lebih tinggi daripada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insidens pada wanita mulai meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun, insidens pada wanita lebih tinggi.

Ras. Hipertensi pada yang berkulit hitam paling sedikit dua kalinya pada yang berkulit putih. Akibat penyakiy ini umumnya lebih berat pada ras kulit hitam. Misalnya mortalitas pasien pria hitam dengan diastole 115 atau 3,3 kali lebih tinggi daripada pria berkulit putih, dan 5,6 kali bagi wanita putih.

Pola hidup. Factor seperti pendidiksn , penghasilan, dan factor pola hidup lain telah diteliti tanpa hasil yang jelas. Penghasilan rendah, tingkat pendidikan yang rendah, dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh dengan stress agaknya berhubungan dengan insidens hipertansi yang lebih tinggi. Obesitas dipandang sebagai resiko paling utama. Bila berat badannya turun, tekanan darahnya sering turun menjadi normal. Merokok dipandang sebagai resiko tinggi bagi hipertensi dan penyakit arteri koroner.

Diabetes Melitus. Hubungan antara diabetes mellitus dengan hipertensi kurang jelas, namun secara statistic nyata ada hubungan antara hipertensi dan penyakit arteri koroner. Penyebab utama kematian pasien diabetes mellitus adalah penyakit kardiovaskuler, terutama yang mulainya dini dan kurang control. Hipertensi dengan diabetes mellitus meningkatkan mortalitas.

Manifestasi klinis hipertensi

Bila timbul gejala, penyakit ini sudah lanjut. Gejala klasik seperti sakit kepala, epistaksis, pusing, dan tinistus yang diduga berhubungan dengan dengan naiknya tekanan darah, ternyata sama seringnya dengan yang terdapat pada yang tidak dengan tekanan darah tinggi. Namun gejala sakit kepala sewaktu bangun tidur, mata kabur, depresi, dan nokturia, ternyata meningkat pada hipertensi yang tidak dionati. Empat sekuel utama akibat hipertensi adalah stroke, infark miokard, gagal ginjal, dan ensefalopati.

Awan Tag