Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

BAB III

PEMBAHASAN

 

       Lesi desak ruang (space occupying lesion/SOL) merupakan lesi yang meluas atau menempati ruang dalam otak termasuk tumor, hematoma dan abses.2 Pada kasus ini Ny. S (41 tahun) datang ke rumah sakit karena merasa sakit kepala yang hilang timbul sejak satu setengah bulan sebelum masuk rumah sakit, pandangan mata kiri gelap, pendengaran menurun disertai dengan kelemahan anggota gerak kanan, namun klien masih bisa beraktivitas. Hasil MSCT Scan dengan kontras menunjukkan terdapat lesi di sphenoid wings kiri dengan peningkatan intrakranial. Klien didiagnosa dengan SOL meningioma.

       Gejala yang dialami klien seperti nyeri kepala merupakan salah satu dari trias peningkatan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial merupakan peningkatan tekanan pada rongga kranialis. Ruang intrakranial biasanya ditempati oleh jaringan otak, darah dan cairan cerebrospinal. Seuai dengan hukum Monroe-Kellie, bahwa ruang intrakranial merupakan ruang kaku yang berisi jaringan otak 80%, darah 10%, dan cairan cerebrospinal 10%. Tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga apabila salah satu dari ruangan meluas, kedua ruangan lain harus mengkompensasinya.5

       Salah satu ciri khas otak adalah pengendalian sensorik dan motorik, yaitu setiap hemisfer otak terutama mengurus sisi tubuh yang letaknya kontralateral.5 Danya lesi pada salah satu lobus mempengaruhi pengendalian sensorik dan motorik di area lobus tersebut. Lesi yang berada pada lobus oksipital yang merupakan area penglihatan menyebabkan klien mengalami gangguan penglihatan pada mata sebelah kiri. Hemisfer kiri otak mengatur pengendalian motorik tubuh kanan, dalam kasus Ny. S kemungkinan lesi juga mengenai hemisfer kiri sehingga anggota gerak kanan klien mengalami kelemahan.

       Gejala-gejala yang timbul pada klien dengan meningioma sangat bervariasi tergantung dari luas dan area yang terkena lesi. Ny. S mengalami nyeri kepala yang hilang timbul, nyeri bertambah ketika klien bangun pagi, skala nyeri 5 pada area belakang kepala dan berkurang saat istirahat. Lesi pada lobus oksipitalis pada Ny. S membuat klien mengalami gangguan penglihatan pada mata kiri, gangguan pendengaran pada telinga kiri, dan kelemahan anggota gerak kanan. Masalah keperawatan yang timbul dari gejala tersebut adalah ketidakefektifan perfusi jaringan otak.

       Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul dari meningioma adalah dengan kraniektomi untuk pengangkatan tumor. Pada kasus ini Ny. S belum pernah mengalami operasi. Klien juga belum mengetahui bagaimana prosedur sebelum dan sesudah dioperasi. Klien mengungkapakan perasaan takut untuk dioperasi. Pengkajian cemas dengan menggunakan skala HARS adalah 15 menunjukkan skala cemas sedang. Masalah keperawatan yang timbul adalah ansietas.

       Peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan nyeri kepala hilang timbul dirasakan klien sangat mengganggu istirahat klien. Klien mengatakan sering terbangun di malam hari karena merasa pusing. Perawatan di rumah sakit juga membuat perubahan pada pola tidur klien, sehingga klien kadang terlihat mengantuk. Masalah keperawatan yang timbul adalah gangguan pola tidur.

       Kelemahan anggota gerak kanan dan nyeri kepala yang dialami oleh klien membuat klien terbatas dalam melakukan aktivitas fisik. Gangguan persepsi sensori penglihatan akibat lesi di lobus oksipitalis menyebabkan mata kiri klien tidak  dapat melihat sehingga lapang pandang klien terbatas. Masalah keperawatan yang timbul adalah resiko jatuh.

Pembahasan mengenai masalah-masalah keperawatan yang muncul secara lebih jelas dibahas berikut ini :

  1. A.      Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak

       Adanya lesi pada otak dapat menyebabkan perubahan suplai darah ke otak sehingga resiko nekrosis jaringan otak bisa saja terjadi. Gangguan cerebrovaskular yang terjadi dalam kasus ini adalah peningkatan tekanan intrakranial. Pertumbuhan tumor menambah massa dari ruang intrakranial sementara ruang tengkorak adalah ruang yang kaku dan tidak dapat bertambah besar sehingga kompensasi terjadi. Sawar darah otak terganggu yang menyebabkan obstruksi dan edema. Hal tersebut menimbulkan peningkatan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial merupakan kegawatan yang harus diatasi karena dapat membahayakan jiwa.5

       Ketidakefektifan perfusi jaringan otak merupakan prioritas masalah keperawatan utama yang harus diatasi agar dampak buruk dari perfusi jaringan otak yang tidak efektif dapat dikurangi. Tindakan keperawatan ditujukan untuk meningkatkan perfusi jaringan otak dnegan kriteria hasil klien tampak tenang, klien mengatakan nyeri kepala berkurang skala 3, klien tidak mual atau muntah, klien tidak mengalami penurunan kesadaran, TTV dalam batas normal N : 60-100 x/mnt, RR : 16-20x/mnt, S: 36-37˚C, sistol : 100-130 mmHg, diastol : 60-90mmHg.

       Implementasi yang dilakukan adalah memantau status neurologi klien secara teratur seperti GCS, memonitor TTV terutama tekanan darah, memantau kemampuan gerak pada daerah-daerah yang mengalami kelemahan, memberikan posisi tempat tidur elevasi kepala bergantian 0˚, 30˚, dan 60˚, mengevaluasi keadaan klien setiap perubahan posisi dan memberikan medikasi sesuai advise : dexamethason 10 mg/8 jam IV, fenitoin 200 mg/24 jam IV, Ranitidin 50 mg / 8 jam IV.

       Tindakan keperawatan utama adalah dengan memberikan posisi yang nyaman pada klien serta dapat meningkatkan perfusi otak sehingga peningkatan tekanan intrakranial dapat dikurangi. Pemberian posisi tidur dengan elevasi kepala bergantian 0˚, 30˚, dan 60˚ ditujukan untuk mengevaluasi respon klien yang paling baik dengan posisi elevasi kepala antara 0˚, 30˚, dan 60˚.

       Penelitian yang dilakukan oleh Mahfoud, Beck, dan Raabe (2009) tentang pengaruh head elevation terhadap perubahan amplitudo intracranial pressure pulse (ICPP) menunjukkan hasil yang signifikan. Responden dalam penelitian ini berjumlah 33 klien dewasa antara usia 16-84 tahun. Penyebab peningkatan tekanan intrakranial pada klien berbeda-beda diantaranya perdarahan subarachnoid 15 klien, perdarahan intraserebral 6 klien, kombinasi dua penyakit tersebut 3 klien, stroke 1 klien, dan masing-masing 2 klien untuk penyakit subdural hematoma, epidural hematoma, cedera kepala, dan tumor otak. Kriteria responden adalah semua klien disedasi dan menggunakan ventilator namun klien dalam kondisi stabil. Perubahan elevasi kepala bergantian dari 0˚, 30˚, dan 60˚. Sebelum pengukuran posisi kepala klien elevasi antara 25-30˚. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan intrakranial semua klien meningkat ketika posisi elevasi kepala 0˚ yaitu antara 20.3±0,9 mmHg dan merupakan tekanan tertinggi yang ditemukan. Tekanan intrakranial terendah ditemukan pada posisi elevasi kepala 60˚ yaitu antara 11.8±1,1 mmHg. Kriteria waktu dan jeda perubahan posisi elevasi kepala dalam penelitian ini tidak dijelaskan.6

       Perubahan elevasi kepala pada penelitian tersebut dicoba untuk diterapkan pada Ny S dengan modifikasi. Pengukuran tekanan intrakranial pada penelitian dilakukan dengan alat, namun dalam kasus ini di modifikasi dengan ungkapan respon klien terhadap nyeri kepala yaitu skala nyeri yang ditunjukkan. Pemberian waktu untuk setiap perubahan elevasi kepala dilakukan selama 30 menit. Respon klien terhadap perubahan elevasi kepala ditunjukkan dengan grafik berikut.

 

       Grafik diatas menunjukkan perubahan skala nyeri terhadap head elevation. Pada saat posisi kepala sejajar dengan tubuh atau lurus membentuk sudut 0˚ klien mengatakan nyeri kepala dengan skala 5. 30 menit kemudian posisi kepala elevasi 30˚, respon klien masih menyatakan pusing namun skala nyeri berkurang menjadi 4. Pada posisi elevasi kepala 60˚ klien menyatakan amsih merasa nyeri kepala namun sedikit dengan skala 3. Saat dirubah kembali menjadi posisi elevasi kepala 30˚ kemudian 0˚ skala nyeri kepala bertambah menjadi 5. Hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa posisi elevasi kepala paling nyaman untuk klien adalah dengan posisi elevasi kepala 60˚. Hasil tersebut digunakan untuk intervensi selanjutnya apabila klien mengalami nyeri kepala.

       Perubahan posisi elevasi kepala 60˚ selain membuat klien merasa nyaman dan skala nyeri berkurang menjadi 3, juga meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan edema atau resiko peningkatan tekanan intrakranial.4 Penurunan tekanan intrakranial yang meninggi juga dapat didukung dengan pemberian obat-obatan seperti dexametahasone yang ditujukan untuk mengurangi edema serebral.

       Pemantauan tanda-tanda vital dan status neurologis juga merupakan intervensi yang penting. Aliran darah ke otak yang konstan penting untuk dipertahankan. Peningkatan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan tekanan intrakranial, jika diikuti penurunan tingkat kesadaran. Perubahan pada frekuensi jantung misal bradikardia dan disritmia serta pola nafas yang tidak teratur menunjukkan adanya depresi pada batang otak sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.4 Berikut ini hasil monitoring tanda-tanda vital pada klien sebelum tindakan kraniotomi :

Tanda-tanda vital

17 Juni 2013

18 Juni 2013

19 Juni 2013

20 Juni 2013

TD (mmHg)

110/80

110/70

120/80

110/80

MAP

90

83,3

93,3

90

Nadi (x/mnt)

80

78

84

80

RR (x/mnt)

20

20

20

20

Suhu (˚J)

36,3

36,5

36,3

36,5

GCS

E4M6V5

E4M6V5

E4M6V5

E4M6V5

 

Tabel diatas menunjukkan bahwa Ny S tidak mengalami depresi apda batang otak dan aliran darah ke otak cenderung konstan. Ny S juga tidak mengalami penurunan kesadaran. Suhu tubuh yang normal pada klien menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan pada hipotalamus.4 Suhu lingkungan yang nyaman juga perlu disesuaikan agar tidak terjadi demam atau menggigil karena jika demam terjadi akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen yang selanjutnya akan menambah peningkatan tekanan intrkranial.4

       Tindakan keperawatan yang dilakukan selama 4 hari untuk mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan otak dengan cerebral perfussion promotion, dan intracranial pressure monitoring teratasi sebagian. Hal tersebut ditandai dengan klien tampak tenang, klien menunjukkan skala nyeri 3, TTV dalam batas normal, dan klien tidak muntah serta kesadaran composmentis.

  1. B.       Ansietas

       Ansietas yang dialami oleh sesorang menimbulkan respon fisiologis yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Respon –respon fisiologis terhadap kecemasan adalah sebagai berikut7:

  1. Pada sistem kardiovaskuler dapat terjadi palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, perasaan ingin pingsan, denyut nadi melemah, tekanan darah turun.
  2. Pada sistem saluran pernapasan dapat terjadi napas cepat, pernapasan dangkal, rasa tertekan pada dada, pembengkakan pada tenggorokan, rasa tercekik dan terengah-engah.
  3. Pada sistem neuromuskuler terjadi insomnia, ketakutan, gelisah, wajah tegang, dan kelemahan secara umum.
  4. Pada sistem gastrointestinal dapat terjadi kehilangan nafsu makan, menolak makan, nausea dan diare, perasaan panas dan dingin pada kulit, muka pucat.

       Ansietas dapat meningkatkan resiko terjadinya penurunan kondisi tubuh pada Ny S sehingga perlu untuk diatasi. Intervensi yang dilakukan ditujukan agar klien kooperatif dalam prosedur bedah kepala atau kraniotomi. Kriteria hasil yang ingin dicapai adalah klien mengetahui persiapan pre operasi dan skala HARS turun menjadi 6 yaitu klien tidak mengalami kecemasan.

       Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah dengan counseling, anxiety reduction dan spiritual support. Intervensi utama yang diberikan pada Ny S adalah dengan terapi spiritual. Bentuk dari dukungan spiritual yang diberikan pada klien adalah dengan menganjurkan klien untuk berdzikir maupun mengucapkan istighfar. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiyono (2009) menunjukkan bahwa dengan terapi dzikir selama 20-25 menit di pagi maupun malam hari, dengan posisi duduk maupun tidur sambil memejamkan mata, efektif untuk menurunkan kecemasan dan memberikan kesejahteraan emosi bagi klien7. Setelah intervensi terapi dzikir dilakukan selama 25 menit kemudia tanda-tanda vital klien diukur, hasilnya TD : 110/80 mmHg, RR : 16 x/menit, H :80 x/menit. Klien merasa lebih tenang dan rileks.8

       Intervensi yang dilakukan selama 3 hari menunjukkan ansietas teratasi ditandai dengan skala HARS turun menjadi 6 dan klien siap ketika akan dioperasi. Klien juga mengungkapkan bahwa persiapan operasi seperti mandi dan keramas bersih sudah dilakukan ketika akan berangkat operasi.

  1. C.      Gangguan Pola Tidur

       Sakit kepala yang hilang timbul pada malam hari membuat klien tidak bisa tidur. Selain itu perubahan lingkungan baru juga menyebabkan klien harus beradaptasi kembali untuk menyesuaikan dnegan pola istirahat. Perawat sebagai caregiver harus mampu untuk memodifikasi lingkungan agar nyaman untuk klien istirahat.

       Intervensi keperawatan yang dilakukan bertujuan agar klien dapat menyesuaikan pola tidur dengan kebutuhan istirahat klien. Kriteria hasil yang diharapkan adalah klien mengungkapkan kepuasan saat bangun tidur, klien tidak terlihat mengantuk, dan klien dapat melakukan melakukan modifikasi lingkungan.

       Tindakan keperawatan yang telah dilakukan antara lain mengkaji pola tidur klien dan perubahan pola tidur selama dirawat di rumah sakit, menciptakan lingkungan yang nyaman seperti mematikan lampu saat tidur, menganjurkan klien untuk tidak melakukan aktivitas seperti makan diantara sela waktu tidur, dan menganjurkan klien untuk meninggikan posisi kepala saat akan tidur.

       Modifikasi lingkungan yang diberikan untuk klien adalah dengan mematikan lampu di malam hari, lampu dinyalakan ketika klien diberikan tindakan. Selain itu menjaga ketenangan klien dengan hanya memperbolehkan penunggu klien hanya satu orang saja. Selain itu posisi tidur dengan kepala tinggi juga dapat membantu membuat klien beristirahat dnegan nyaman. Evaluasi akhir didapatkan kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi dan masalah gangguan pola tidur klien teratasi ditandai dengan klien mengungkapakan perasaan puas saat bangun tidur.

  1. D.      Resiko Jatuh

       Adanya lesi yang mengenai hemisfer kiri menyebabkan kelemahan pada anggota gerak kanan. Pada Ny S mengalami kelemahan anggota kiri namun klien masih dapat melakukan aktivitas, seperti berjalan. Kelemahan dirasakan pada tungkai kanan dan tangan yang terasa lemah ketika menggenggam. Gangguan persepsi sensori yang diakibatkan adanya tumor atau lesi yang mengenai lobus oksipital juga menyebabkan penglihatan kiri klien gelap serta pendengaran kiri menurun sehingga klien termasuk dalam resiko jatuh tinggi.

       Tujuan dari tindakan keperawatan adalah klien tidak mengalami jatuh. Kriteria hasil yang diharapkan yaitu klien tidak mengalami jatuh, pembatas tempat tidur klien terpasang dan klien ditemani oleh keluarga ketika ke kamar mandi.

       Rumah sakit juga selalu menerapkan dalam screening klien dengan resiko jatuh. Screening dilakukan dnegan lembar ceklist humpty dumpty. Setelah klien dinyatakan termasuk dalam resiko jatuh tinggi, segera dikenakan gelang berwarna kuning dan tanda resiko jatuh di tempat tidur klien. Edukasi mengenai resiko jatuh diberikan kepada keluarga klien dan klien sehingga angka kejadian klien jatuh dapat dicegah.

Iklan

Pengertian Kekambuhan

Kekambuhan adalah suatu keadaan dimana timbulnya kembali suatu penyakit yang sudah sembuh dan disebabkan oleh berbagai macam faktor penyebab. Pencegahan kekambuhan adalah mencegah terjadinya peristiwa timbulnya kembali gejala-gejala yang sebelumnya sudah memperoleh kemajuan. Pada gangguan jiwa kronis diperkirakan mengalami kekambuhan 50% pada tahun pertama, dan 79% pada tahun ke dua. Kekambuhan biasa terjadi karena adanya kejadian-kejadian buruk sebelum mereka kambuh.

 PREVALENSI KEKAMBUHAN

Masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa juga masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Data Profil Kesehatan Indonesia (2008) menunjukkan bahwa dari 1000 penduduk terdapat 185 penduduk mengalami gangguan jiwa. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 2007, diketahui bahwa prevalensi  gangguan jiwa per 1000 anggota rumah tangga terdapat 140/1000 penduduk usia 15 tahun ke atas, dan diperkirakan sejak awal tahun 2009 jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa sebesar 25% dari populasi penduduk di Indonesia.

Secara global angkan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa ini mencapai 50% hingga 92% yang disebabkan karena ketidakpatuhan dalam berobat maupun karena kurangnya dukungan dan kondisi kehidupan yang rentan dengan meningkatan stress.(Sheewangisaw, 2012)

DAMPAK KEKAMBUHAN

Dampak gangguan jiwa bagi keluarga sangat besar, apalagi ada beberapa anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Dampak dari anggota yang menderita gangguan jiwa bagi keluarga diantaranya keluarga belum terbiasa dengan adanya gangguan jiwa. Dampak-dampak gangguan jiwa bagi keluarga, seperti:

Penolakan

Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita gangguan jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita tersebut dan menyakini memiliki penyakit berkelanjutan. Selama episode akut anggota keluarga akan khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga akan melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima dan kurangnya prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam keluarga, dan isolasi dan kehilangan hubungan yang bermakna dengan keluarga yang tidak mendukung orang yang sakit.

Tanpa informasi untuk membantu keluarga belajar untuk mengatasi penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat pesimis tentang masa depan. Sangat penting bahwa keluarga menemukan sumber informasi yang membantu mereka untuk memahami bagaimana penyakit itu mempengaruhi orang tersebut. Mereka perlu tahu bahwa dengan pengobatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya, mayoritas orang kembali ke gaya kehidupan normal.

Stigma

Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam anggota keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita tidak dapat berkomunikasi layaknya orang normal lainnya. Menyebabkan beberapa keluarga merasa tidak nyaman untuk mengundang penderita dalam kegiatan tertentu. Hasil stigma dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, Tidak mengherankan, semua ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.

Frustrasi, Tidak berdaya dan Kecemasan

Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan tingkah laku aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan, menakutkan dan melelahkan. Bahkan ketika orang itu stabil pada obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa membuat frustasi. Anggota keluarga memahami kesulitan yang penderita miliki. Keluarga dapat menjadi marah marah, cemas, dan frustasi karena berjuang untuk mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya penderita lakukan.

Kelelahan dan Burnout

Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai merasa tidak mampu mengatasi dengan hidup dengan orang yang sakit yang harus terus-menerus dirawat. Namun seringkali, mereka merasa terjebak dan lelah oleh tekanan dari perjuangan sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota keluarga mungkin merasa benar-benar di luar kendali. Hal ini bisa terjadi karena orang yang sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya. Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam merawat penderita tidak boleh merasa letih, karena dukungan keluarga tidak boleh berhenti untuk selalu men-support penderita.

Duka

Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki penyakit mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dan berpartisipasi dalam kegiatan normal dari kehidupan sehari-hari, dan penurunan yang dapat terus-menerus. Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang dapat diobati, tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki potensi berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki potensi berubah.

 

Kebutuhan Pribadi dan Mengembangkan Sumber Daya Pribadi

Jika anggota keluarga memburuk akibat stres dan terlalu banyak pekerjaan, dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem pendukung yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, keluarga harus diingatkan bahwa mereka harus menjaga diri secara fisik, mental dan spiritual yang sehat. Memang ini bisa sangat sulit ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit mereka. Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi keluarga untuk menyadari bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan.

 PENYEBAB KEKAMBUHAN

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kekambuhan  pada penderita gangguan jiwa menurut Keliat, 1996 adalah :

  1. Faktor penderita.

Penderita yang tidak teratur dalam meminum obat dapat menyebabkan kekambuhan gangguan jiwa. Menurut penelitian, 25%-50% penderita yang pulang dari rumah sakit jiwa tidak meminum obat secara teratur.

  1. Faktor dokter.

Pemakaian obat secara teratur dapat mengurungi kekambuhan, tetapi pemakain obat neuroleptik dalam jangka lama dapat menyebabkan efek samping berupa Tardive Diskinesia (gerakan tidak terkontrol)yang dapat mengganggu hubungan social.

  1. Factor penanggung jawab klien ( case manajer)

Setelah klien pulang kerumah setelah dirawat di Rumah sakit, maka perawat Puskesmas bertanggung jawab terhadap adaptasi klien dirumah

  1.  Faktor keluarga.

Menurut penelitian (di Inggris dan Amerika),  keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi seperti bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan, menyebabkan 57% penderita kembali kambuh dalam waktu 9 bulan. Sebaliknya keluarga dengan ekspresi emosi yang rendah, hanya 17% penderita yang kambuh. Selain itu faktor yang berpengaruh juga adalah perubahan stres, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

  1. Faktor masyarakat.

Faktor masyarakat lebih banyak berkaitan dengan stigma negatif yang tertuju kepada penderita gangguan kejiwaan. Penderita dijuluki orang gila atau stres, dianggap membahayakan, menakutkan, dan menjadi bahan olok-olokan. Semua stigma itu, justru mempersempit kehidupan sosial mereka yang semestinya dibantu dan diperbaiki. Mereka menjadi sulit mendapat pekerjaan, merasa malu bergaul, takut salah, dan merasa tidak berguna.

Menurut Murphy,MF & Moller, MD (1993), faktor resiko yang menyebabkan kekambuhan pasien gangguan jiwa adalah :

  1. Faktor resiko kesehatan.
    1. Gangguan sebab dan akibat berpikir.
    2. Gangguan proses informasi.
    3. Gizi buruk.
    4. Kurang tidur.
    5. Keletihan.
    6. Kurang olah raga.
    7. Efek samping pengobatan yang tidak dapat ditoleransi.
    8. Faktor resiko lingkungan.
      1. Kesulitan keuangan.
      2. Kesulitan keuangan.
      3. Perubahan yang menimbulkan stress dengan peristiwa kehidupan.
      4. Ketrampilan kerja yang buruk.
      5. Tidak memiliki transportasi.
      6. Ketrampilan sosial yang buruk, isolasi, social, dan kesepian.
      7. Kesulitan interpersonal.
      8. Faktor  resiko perilaku dan emosional.
        1. Tidak ada kontrol dan perilaku agresif.
        2. Perubahan mood.
        3. Pengobatan dan penatalaksanaan gejala yang buruk.
        4. Konsep diri yang rendah.
        5. Penampilan dan tindakan yang berbeda.
        6. Perasaan putus asa.

 E.     PENCEGAHAN KEKAMBUHAN

    1. Aktivitas teratur/terjadual
    2. Perhatikan kegiatan sehari-hari pasien
    3. Jadualkan kegiatan sehari-hari pasien (menyapu, mengepel, mencuci pakaian sendiri, dll)
    4. Beri pujian jika pasien berhasil
      1. Minum obat teratur dan sesuai aturan
      2. Perhatikan dosis, cara, dan waktu minum obat
      3.  Dorong pasien untuk meminum obat secara mandiri
      4. Beri pujian jika pasien bisa minum obat secara mandiri
      5.  Kontrol teratur
      6. Lakukan kontrol secara teratur ke RS sebelum obat habis
        1. Dukungan keluarga
        2. Dukung pasien dalam segala aktivitas yang positif
        3. Tetap memberi semangat kepada pasien
        4. Dukung pasien untuk kontrol teratur

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Nadeed, M., Akter, K. A., Tabassum, F., Malwa, R., & Rahman, M. (2012). Factors contributing the outcome of Schizophrenia in developing and developed countries: A brief review. International Current Pharmateutical Journal, 1(2), 81-85.

 

Sheewangisaw, Z. (2012). Prevalence and Associated Factors of Relapse in Patent with Schizophernia At Amanuel Mental Specialized Hospital. Congress on Public Health, 1(1), 1-10.

 

Cynthia M. Taylor, Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan, EGC, Jakarta, 2010

 

Intansari Nurjanah, Pedoman Gangguan Jiwa, Mocomedia, Yogyakarta, 2004

 

Nanda International, Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011, EGC, Jakarta, 2010.

 

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK : STIMULASI PERSEPSI DENGAN PERMAINAN TALI BERDERET PADA KLIEN YANG DIRAWAT DI RUANG IRAWAN RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

       Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Orang yang memiliki kesejahteraan emosional, fisik, dan sosial dapat memenuhi tanggung jawab kehidupan, berfungsi dengan efektif dalam kehidupan sehari-hari, dan puas dengan hubungan interpersonal dan diri mereka sendiri.

       Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terkihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku, dan koping yang efektif, konsep diri positif, dan kestabilan emosional. Kesehatan jiwa dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut antara lain otonomi dan kemandirian, memaksimalkan potensi diri, menoleransi ketidakpastian hidup, harga diri, menguasai lingkungan, orientasi realitas dan manajemen stress.

       American Psychiatric Association (1994) mendefinisikan gangguan jiwa sebagai suatu sindrom atau pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distres atau disabilitas disertai peningkatan resiko kematian, nyeri, disabilitas, atau sangat kehilangan kebebasan. Gangguan jiwa menyebabkan penderitanya tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak dapat lagi menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau merusak/menyakiti dirinya sendiri (Baihaqi,dkk, 2005).

       Setiap tahun, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia terus meningkat, baik gangguan jiwa berat maupun ringan. Berdasarkan data hasil Riskesdas tahun 2007, persentase gangguan jiwa mencapai 11,6 persen dari sekitar 19 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun. Namun masih sedikit yang memiliki perhatian terhadap kesehatan jiwa di Indonesia. Program promosi kesehatan jiwa di masyarakat pun masih belum banyak, sehingga diperlukan mental health nurses(perawat jiwa) di masyarakat yang melakukan promosi kesehatan, terutama kesehatan jiwa.

       Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan yang komprehensif meliputi kesehatan jiwa dan fisik sangat diperlukan untuk mencegah meningkatnya angka gangguan jiwa. Perawatan klien gangguan jiwa di rumah sakit membutuhkan dukungan dari banyak aspek sehingga kesejahteraan klien dapat tercapai. Salah satu tujuan perawatan klien dengan gangguan jiwa di rumah sakit adalah dengan melatih klien untuk mandiri dan mampu berinteraksi dengan orang lain. Ketika klien mampu berinteraksi diharapkan klien dapat kembali berfungsi di masyarakat dan mampu melakukan perannya di masyarakat. Bentuk pelatihan berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain adalah dengan melakukan terapi aktivitas kelompok.

       Terapi aktivitas kelompok diperlukan dalam praktik keperawatan jiwa untuk mengatasi gangguan interaksi dan komunikasi serta merupakan salah satu keterampilan terapeutik. Terapi aktivitas kelompok merupakan bagian dari terapi modalitas yang berupaya meningkatkan psikoterapi dengan sejumlah klien dalam waktu yang bersamaan. Terapi aktivitas kelompok memiliki dua tujuan umum, yaitu tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif.

       Tujuan terapeutik untuk memfasilitasi interaksi, mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien), meningkatkan stimulus realitas dan respon individu, memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektif, meningkatkan rasa dimiliki, meningkatkan rasa percaya diri, dan belajar cara baru dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan tujuan rehabilitatif untuk meningkatkan kemampuan untuk ekspresi diri, meningkatkan kemampuan empati, meningkatkan keterampilan sosial, serta meningkatkan pola penyelesaian masalah.

       Terapi aktivitas kelompok dengan game tali berderet dimana klien harus berbaris sesuai dengan perintah namun tidak boleh keluar dari tali saat mengurutkan barisan. Permainan ini diharapakan dapat memberikan stimulus kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk klien. Selain itu juga dapat menjalin komunikasi dan kerjasama antar klien. Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka kami bermaksud untuk melakukan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi berupa permainan tali berderet pada klien di ruang Irawan Wibisono RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang.

 

  1. B.     TUJUAN

Tujuan Umum     : Klien mampu bekerjasama dengan klien yang lain.

Tujuan Khusus    :

  1. Klien mampu memahami perintah dari leader
  2. Klien mampu berkoordinasi dengan klien yang lain untuk melaksanakan perintah leader.
  3. Klien mampu mengenal nama, tanggal lahir, usia klien lain.
  4. Klien mampu mempertahankan kontak mata saat berinteraksi dengan klien yang lain.
  5. Klien mampu mengikuti aturan selama permainan.
  6. Klien mampu mengemukakan pendapat tentang permainan yang telah dilakukan.

 

  1. C.    LANDASAN TEORI

Terapi Aktivitas Kelompok

       Terapi aktivitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.

Tahapan -Tahapan dalam Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK )

       Menurut Yalom, yang dikutip Stuart & Sundeen, 1995. Menggambarkan fase-fase dalam terapi aktivitas kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Pre kelompok

Dimulai dengan membuat tujuan, merencanakan siapa yang menjadi leader, anggota, tempat dan waktu kegiatan kelompok akan dilaksanakan serta membuat proposal lengkap dengan media yang akan digunakan beserta dana yang dibutuhkan.

  1. Fase awal

Pada fase ini terhadap 3 tahapan yang terjadi, yaitu: orientasi, konflik atau kebersamaan

  1. Orientasi :

Anggota mulai mencoba mengembangkan sistem sosial masing-masing, leader mulai menunjukkan rencana terapi dan mengambil kontrak dengan anggota.

  1. Konflik :

Merupakan masa sulit dalam proses kelompok, anggota mulai memikirkan siapa yang berkuasa dalam kelompok, bagaimana peran anggota, tugasnya, dan saling ketergantungan yang akan terjadi.

  1. Kebersamaan :

Anggota mulai bekerjasama untuk mengatasi masalah, anggota mulai menemukan siapa dirinya.

  1. Fase kerja

Pada tahap ini kelompok sudah menjadi tim ;

  1. Merupakan fase yang menyenangkan bagi pemimpin dan anggotanya
  2. Perasan positif dan negatif dapat dikoreksi dengan hubungan saling percaya yang telah terbina
  3. Semua anggota bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati
  4. Tanggung jawab merata, kecemasan menurun, kelompok lebih stabil dan realistis
  5. Kelompok mulai mengeksplorasi lebih jauh sesuai dengan tujuan dan tugs kelompok dalam menyelesaikan tugasnya
  6. Fase ini ditandai dengan penyelesaian masalah yang kreatif

Petunjuk untuk leader pada fase ini :

  1. Intervensi leader didasari pada kerangka kerja teoritis, pengalaman, personality dan kebutuhan kelompok serta anggotanya
  2. Membantu perkembangan keutuhan kelompok dan mempertahankan batasannya, mendorong kelompok bekerja pada tugasnya
  3. Intervensi langsung ditujukan untuk menolong kelompok mengatasi masalah khusus.
  4. Fase terminasi

       Ada 2 jenis terminasi yaitu terminasi akhir dan terminasi sementara. Anggota kelompok mungkin mengalami terminasi premature, tidak sukses atau sukses. Terminasi dapat menyebabkan kecemasan, regresi dan kecewa. Untuk menghindari hal ini, terapis perlu mengevaluasi kegiatan dan menunjukkan sikap betapa bermaknanya kegiatan tersebut, menganjurkan anggota untuk memberi umpan balik pada tiap anggota

       Terminasi tidak boleh disangkal, tetapi harus tuntas didiskusikan. Akhir terapi aktivitas kelompok harus dievaluasi, bisa melalui pre dan post test.

 

 

 

 

  1. D.    SASARAN
    1. Peserta adalah klien yang dirawat di ruang Irawan Wibisono.
    2. Kriteria Inklusi
      1. Klien yang sudah mampu berinteraksi dengan klien lain.
      2. Klien dengan kondisi yang stabil.
      3. Klien bersedia mengikuti permainan.
      4. Kriteria eksklusi :
        1. Klien dengan gangguan menarik diri yang belum mampu berinteraksi dengan orang lain.
        2. Klien dengan gangguan mental organik berat.
        3. Klien yang memiliki keterbatasan dalam bergerak.
      5. Proses seleksi peserta
        1. Menyeleksi klien sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
        2. Mengidentifikasi nama klien dan masalah keperawatan yang dialami.
        3. Membuat kontrak waktu dengan klien.
        4. Membagi klien dalam dua kelompok sesuai dengan nomor urut ganjil genap.

 

  1. E.     PENGORGANISASIAN

1.  Leader           : Isa Tri Edi

2.  Co-Leader     : Misgiyanto

3.  Observer       : Jeanny Ivones

4.  Fasilitator      : Suko Basuki, Nur Aini Farida

Uraian Tugas   :

  1. Leader
  2. Membacakan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai.
  3. Memberikan memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan memperkenalkan dirinya.
  4. Mampu  memimpin terapi aktifitas kelompok dengan baik dan tertib.
  5. Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok.
  6. Menjelaskan permainan.
    1. Co-Leader
    2. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas klien.
    3. Membantu leader dalam memimpin permainan.
    4. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
    5. Memberikan reward bagi kelompok yang menyelesaikan perintah dengan cepat.
    6. Memberikan punishment bagi kelompok yang kalah.
      1. Fasilitator
      2. Memfasilitasi klien yang kurang aktif.
      3. Memberikan stimulus pada anggota kelompok.
      4. Berperan sebagai role play bagi klien selama kegiatan.
        1. Observer
        2. Mengobservasi dan mencatat jalannya proses kegiatan.
        3. Mencatat prilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan berlangsung.
        4. Mencatat peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok.
        5. Mencatat jika ada peserta yang drop out dan alasan drop out.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.     PELAKSANAAN

Hari/Tanggal       : Jumat/ 24 Mei 2013

Pukul                   : 09.00 WIB – 10.00 WIB

Setting Tempat   :

               
     
 
     
       
   
 
 

 

 

: Fasilitator

                                                                                    : Leader dan Co Leader

                                                                                    : Observer

                                                                                    : Klien

                                                                                    : Tali

 

 

 

  1. G.    LANGKAH-LANGKAH
    1. 1.      Persiapan
      1. Membuat pre planning.
      2. Menyeleksi peserta.
      3. Membuat kontrak waktu dengan klien
      4. Mempersiapkan alat dan tempat.

Alat dan bahan yang diperlukan : tali rafia, alat tulis.

Tempat : area RSJD Amino Gondohutomo.

  1. 2.      Orientasi
    1. Memberikan salam terapeutik.
    2. Memperkenalkan diri.
    3. Menanyakan perasaan klien saat ini.
    4. Kontrak :

1)      Menjelaskan tujuan permainan yaitu untuk meningkatkan kerjasama.

2)      Menjelaskan aturan permainan sebagai berikut :

a)      Peserta berdiri diatas tali dan tidak boleh keluar dari tali.

b)      Peserta mengikuti permainan sampai dengan selesai.

c)      Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok harus meminta ijin pada leader.

d)     Lama permainan 30 menit.

  1. Tahap orientasi dilakukan dalam waktu 5 menit.
  2. 3.      Tahap Kerja
    1. Peserta yang telah dibagi menjadi dua kelompok diarahkan untuk berbaris diatas tali yang telah disediakan.
    2. Leader memberikan perintah permainan yaitu berbaris sesuai dengan nama berdasarkan urutan abjad.
    3. Peserta mengurutkan diri tanpa keluar dari tali, jika ada yang keluar dari tali dianggap kalah.
    4. Fasilitator mengamati apabila ada yang melanggar peraturan dan memfasilitasi peserta dalam mengikuti permainan.
    5. Peserta yang menyelesaikan perintah dengan cepat dan benar mendapat reward.
    6. Peserta yang terlambat menyelesaikan perintah mendapat hubungan menyanyi dan menari.
    7. Leader memberi perintah selanjutnya seperti berbaris sesuai dengan usia, tinggi badan, tanggal lahir, dan lain-lain.
    8. Langkah-langkah diatas dilanjutkan hingga waktu yang disediakan habis.
    9. Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara dan mencatat jalannya acara.
    10. Permainan dilakukan dalam waktu 30 menit.
    11. 4.      Antisipasi Masalah
      1. Penanganan klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok

1)   Memanggil klien

2)   Memotivasi klien untuk ikut aktif dalam permainan.

  1. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :

1)   Panggil nama klien

2)   Tanya alasan klien meninggalkan permainan

3)   Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi.

  1. Bila ada klien lain ingin ikut

1)   Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien yang telah dipilih

2)   Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut.

3)   Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi peran pada permainan tersebut

  1. 5.      Tahap Terminasi
    1. Evaluasi

1)      Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.

2)      Memberikan pujian atar keberhasilan kelompok.

3)      Menanyakan pada klien tentang manfaat dan tujuan dari TAK.

  1. Rencana tindak lanjut

1)      Menganjurkan klien untuk tetap menjaga kekompakan dengan klien lain.

2)      Menganjurkan klien untuk bercakap-cakap dengan klien lain tentang perasaannya.

  1. Kontrak yang akan datang

1)      Menyampaikan kegiatan berikut untuk melakukan permainan yang berbeda.

2)      Menyepakati tempat dan waktu.

 

 

  1. H.    EVALUASI KEGIATAN
    1. 1.      Evaluasi Struktur
      1. Pre planning telah disiapkan sebelumnya.
      2. Kontrak waktu sudah tepat dan mempertimbangkan kondisi klien.
      3. Media dan alat yang dipilih sduah tepat.
      4. Tempat luas dan sesuai untuk permainan.
      5. Materi TAK sesuai dengan kondisi klien.
      6. Tidak ada kesulitan memilih klien yang sesuai dengan kriteria dan karakteristik klien untuk melakukan terapi aktifitas kelompok.
      7. 2.      Evaluasi Proses
        1. Leader menjelaskan aturan main dengan jelas
        2. Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien
        3. Observer menempatkan diri di tempat yang memungkinkan untuk dapat mengawasi jalannnya permainan
        4. 100% klien yang mengikuti permainan dapat mengikuti kegiatan dengan aktif dari awal sampai selesai.
        5. Di akhir kegiatan sudah dievaluasi jalannya kegiatan dan dilakukan kontrak yang akan datang.
        6. 3.      Evaluasi Hasil
          1. Kegiatan sudah dilaksanakan sesuai dengan jadwal.
          2. 100 % klien mampu memahami perintah dari leader.
          3. 100% klien mampu berkoordinasi dengan klien yang lain untuk melaksanakan perintah leader.
          4. 80% klien mampu mengenal nama, tanggal lahir, usia klien lain.
          5. 100% klien mampu mempertahankan kontak mata saat berinteraksi dengan klien yang lain.
          6. 100% klien mampu mengikuti aturan selama permainan.
          7. 80% klien mampu mengemukakan pendapat tentang permainan yang telah dilakukan.


Lampiran

Lembar Penilaian Kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok

No

ASPEK YANG DINILAI

NAMA KLIEN

 

 

 

 

 

 

 

1

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

 

 

 

 

 

 

2

Mengikuti perintah/aturan main dengan tepat

 

 

 

 

 

 

3

Mendengarkan saat klien lain berbicara

 

 

 

 

 

 

4

Mengurutkan barisan dengan benar sesuai perintah

 

 

 

 

 

 

5

Mengungkapkan perasaan setelah selesai kegiatan

 

 

 

 

 

 

6

Mengetahui nama dan usia klien lain

 

 

 

 

 

 

7

Menyebutkan tujuan kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

JUMLAH

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Dilakukan             : Nilai 1

Tidak dilakukan  : Nilai 0

 

DAFTAR HADIR PESERTA

No.

NAMA

KETERANGAN

TTD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Definisi

Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein dalam urin secara bermakna , penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema, dan serum kolestrol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). Tanda-tanda tersebut dijumpai di setiap kondisi yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus1. Kadang-kadang terdapat hematuria, dan penurunan fungsi ginjal. Insiden tertinggi pada anak usia 3-4 tahun, rasio laki-laki dibanding dengan perempuan adalah 2:12.

  1. B.     Etiologi

Sindrom nefrotik belum diketahui sebab pastinya, secara umum penyebab dibagi menjadi berikut2 :

  1. Sindrom Nefrotik Bawaan

Adanya reaksi fetomaternal terhadap janin ataupun karena gen resesif autosom menyebabkan sindrom nefrotik.

  1. Sindrom Nefrotik Sekunder

Sindroma nefrotik disebabkan oleh adanya penyakit lain seperti parasit malaria, penyakit kolagen, trombosis vena renalis, pemajanan bahan kimia (trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, raksa, amiloidosis dan lain-lain. Sebab paling sering sindrom nefrotik sekunder adalah glomerulonefritis primer dan sekunder akibat infeksi keganasan penyakit jaringan penghubung, obat atau toksin dan akibat penyakit sistemik seperti3 :

  1. Glomerulonefritis primer

1)      Glomerulonefritis lesi minimal

2)      Glomerulosklerosis fokal

3)      Glomerulonefritis membranosa

4)      Glomerulonefritis membranoproliferatif

5)      Glomerulonefritis proliferatif lain

  1. Glomerulonefritis sekunder

1)      Infeksi : HIV, Hepatitis virus B dan C. Sifilis, malaria, skisotoma, TBC, Lepra

2)      Keganasan : Adenokarsinoma paru, payudara, kolon, limfoma Hodgkin, mieloma multipel, dan karsinoma ginjal.

3)      Penyakit jaringan penghubung : Lupus eritematosus sistemik, artritis reumathoid, MCTD

4)      Efek obat dan toksin : obat antiinflamasi nonsteroid, preparat emas, penisilinamin, probenesid, air raksa, kaptopril, heroin.

5)      Lain-lain : DM, amiloidosis, preeklampsia, rejeksi alograf kronik, refluks vesicoureter, atau sengatan lebah

  1. Sindrom Nefrotik Idiopatik

Sindrom nefrotik yang belum diketahui jelas sebabnya.

  1. C.    Patofisiologi4

Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Kelanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskular berpindah ke dalam interstisial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hipovolemia.

Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan merangsang produksi renin angiotensin dan peningkatan sekresi hormon ADH dan sekresi aldosteron yang kemudian terjaddi retensi natrium dan air. Dengan retensi natrium dan air, akan menyebabkan edema.

Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin atau penurunan onkotik plasma.Adanya hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein dan lemak akan banyak dalam urin atau lipiduria. Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebnabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia atau defisiensi seng.

  1. D.    Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala sindrom nefrotik adalah sebagai berikut5 :

  1. Kenaikan berat badan
  2. Wajah tampak sembab (edema fascialis) terutama di sekitar mata, tampak pada saat bangun di pagi hari dan berkurang di siang hari
  3. Pembengkakan abdomen (asites)
  4. Efusi pleura
  5. Pembengkakan labia atau skrotum
  6. Edema pada mukosa intestinal yang dapat menyebabkan diare, anoreksia, dan absorpsi intestinal buruk
  7. Pembengkakan pergelangan kaki / tungkai
  8. Iritabilitas
  9. Mudah letih
  10. Letargi
  11. Tekanan darah normal atau sedikit menurun
  12. Rentan terhadap infeksi
  13. Perubahan urin seperti penurunan volume dan urin berbuih
  1. E.     Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi1,2,4 :

  1. Hipovolemi
  2. Infeksi pneumokokus
  3. Emboli pulmoner
  4. Peritonitis
  5. Gagal ginjal akut
  6. Dehidrasi
  7. Venous trombosis
  8. Aterosklerosis
  1. F.     Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang dilakukan untuk mengatasi gejala dan akibat yang ditimbulkan pada anak dengan sindrom nefrotik sebagai berikut2 :

  1. Istirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium sampai kurang lebih 1 gram per hari, secara praktis dengan menggunakan garam secukupnya dalam makanan dan menghindari makanan yang diasinkan. Diet protein 2-3 gram/kgBB/hari.
  2. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat digunakan diuretik, biasanya furosemid 1 mg/kgBB/kali, bergantung pada beratnya edema dan respon pengobatan. Bila edema refrakter, dapat digunakan hidroklortiazid (25-50 mg/hari). Selama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemia, alkalosis metabolik, atau kehilangan caitan intravaskular berat.
  3. Pemberian kortikosteroid berdasarkan ISKDC (international Study of kidney Disease in Children) : prednison dosis penuh : 60 mg/m2 luas permukaan badan/hari atau 2 mg/kgBB/hari (maksimal 80 mg/kgBB/hari) selama 4 minggu dilanjutkan pemberian prednison dosis 40 mg/m2 luas permukaan badan/hari atau 2/3 dosis penuh, yang diberikan 3 hari berturut-turut dalam seminggu (intermitten dose) atau selang sehari (alternating dose) selama 4 minggu, kemudian dihentikan tanpa tappering off lagi. Bila terjadi relaps diberikan prednison dosis penuh seperti terapi awal sampai terjadi remisi (maksimal 4 minggu), kemudian dosis diturunkan menjadi 2/3 dosis penuh. Bila terjadi relaps sering atau resisten steroid, lakukan biopsi ginjal.
  4. Cegah infeksi. Antibiotik hanya diberikan bila terjadi infeksi.
  5. Pungsi asites maupun hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital.
  1. G.    Pengkajian1,2,5,6,7
    1. Identitas

Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada  usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi sindrom nefrotik.

  1. Keluhan Utama

Badan bengkak, sesak napas, muka sembab dan napsu makan menurun

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Edema masa neonatus, malaria, riwayat glomerulonefritis akut dan glomerulonefritis kronis, terpapar bahan kimia.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine menurun.

  1. Riwayat kesehatan Keluarga

Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.

  1. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Daerah endemik malaria sering dilaporkan terjadinya kasus sindrom nefrotik sebagai komplikasi dari penyakit malaria.

  1. Riwayat Nutrisi

Nafsu makan menurun, berat badan meningkat akibat adanya edema.

Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8

Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir.

Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).

  1. Pengkajian Kebutuhan Dasar
    1. Kebutuhan Oksigenasi

Dispnea terjadi karena telah terjadi adanya efusi pleura. Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Nadi 70 – 110 X/mnt.

  1. Kebutuhan Nutrisi dan Cairan

Nafsu makan menurun, berat badan meningkat akibat adanya edema, nyeri daerah perut, malnutrisi berat.

  1. Kebutuhan Eliminasi

Urine/24 jam 600-700 ml, hematuria, proteinuria, oliguri. Perubahan urin seperti penurunan volume dan urin berbuih.

  1. Kebutuhan Aktivitas dan Latihan

Mudah letih dalam beraktivitas. Edema pada area ektrimitas (sakrum, tumit, dan tangan). Pembengkakan pergelangan kaki / tungkai.

  1. Kebutuhan Istirahat dan Tidur

Kesulitan tidur karena mungkin terdapat nyeri, cemas akan hospitalisasi.

  1. Kebutuhan Persepsi dan Sensori

Perkembangan kognitif anak usia pra sekolah sampai pada tahap pemikiran prakonseptual ditandai dengan anak-anak menilai orang, benda, dan kejadian di luar penampilan luar mereka.

  1. Kebutuhan Kenyamanan

Sakit kepala, pusing, malaise, nyeri pada area abdomen, adanya asites.

  1. Kebutuhan Personal Hygiene

Kebutuhan untuk perawatan diri pada anak usia pra sekolah selama di rumah sakit mungkin dibantu oleh keluarga. Kaji perubahan aktifitas perawatan diri sebelum dan selama dirawat di rumah sakit.

  1. Kebutuhan Informasi

Pengetahuan keluarga tentang diet pada anak dengan sindrom nefrotik, pertumbuhan dan perkembangan anak, serta proses penyakit dan penatalakasanaan.

  1. Kebutuhan Komunikasi

Anak usia pra sekolah dapat mengungkapkan apa yang dirasakan. Kosakata sudah mulai meluas, kalimat kompleks sederhana tapi dipahami. Untuk usia 3 tahun, komunikasi lebih sering berbentuk simbolis.

  1. Kebutuhan Seksualitas

Anak usia pra sekolah mulai membedakan perilaku sesuai jender. Anak mulai menirukan tindakan orangtua yang berjenis kelamin sama. Eksplorasi tubuh mencakup mengelus diri sendiri, manipulasi genital, memeluk boneka.

  1. Kebutuhan Konsep Diri

Konsep diri pada anak usia pra sekolah sudah mulai terbentuk dengan anak mengetahui tentang identitas dirinya.

  1. Kebutuhan Rekreasi

Anak yang mengalami hospitalisasid alam waktu lama akan mengalami kejenuhan. Kebiasaan yang sering dilakukan mungkin berubah pada saat anak hospitalisasi.

  1. Kebutuhan Spiritual

Kebutuhan spiritual pada anak mengikuti orangtua.

  1. Pengkajian Fisik
    1. Pemeriksaan Kepala

Bentuk kepala mesochepal, wajah tampak sembab karena ada edema fascialis.

  1. Pemeriksaan Mata

Edema periorbital, mata tampak sayu karena malnutrisi.

  1. Pemeriksaan Hidung

Adanya pernapasan cuping hidung jika klien sesak napas.

  1. Pemeriksaan Telinga

Fungsi pendengaran, kebersihan telinga, ada tidaknya keluaran.

  1. Pemeriksaan Gigi dan Mulut

Kebersihan gigi, pertumbuhan gigi, jumlah gigi yang tanggal, mukosa bibir biasanya kering, pucat.

  1. Pemeriksaan Leher

Adanya distensi vena jugularis karena edema seluruh tubuh dan peningkatann kerja jantung.

  1. Pemeriksaan Jantung

Mungkin ditemukan adanya bunyi jantung abnormal, kardiomegali.

  1. Pemeriksaan Paru

Suara paru saat bernapas mungkin ditemukan ronkhi karena efusi pleura, pengembangan ekspansi paru sama atau tidak.

  1. Pemeriksaan Abdomen

Adanya asites, nyeri tekan, hepatomegali.

  1. Pemeriksaan Genitalia

Pembengkakan pada labia atau skrotum.

  1. Pemeriksaan Ektstrimitas

Adanya edema di ekstrimitas atas maupun bawah seperti di area sakrum, tumit, dan tangan.

  1. H.    Pemeriksaan Penunjang

Selain proteinuria masif, sedimen urin biasanya normal. Bila terjadi hematuria mikroskopik lebih dari 20 eritrosit/LPB dicurigai adanya lesi glomerular (misal sklerosis glomerulus fokal). Albumin plasma rendah dan lipid meningkat. IgM dapat meningkat, sedangkan IgG menurun. Komplemen serum normal dan tidak ada krioglobulin2.

Anamnesis penggunaan obat, kemungkinan berbagai infeksi, dan riwayat penyakit sistemik klien perlu diperhatikan. Pemeriksaan serologit dan biopsi ginjal sering diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab GN sekunder. Pemeriksaan serologit sering tidak banyak memberikan informasi dan biayanya mahal. Karena itu sebaiknya pemeriksaan serologit hanya dilakukan berdasarkan indikasi yang kuat3.

  1. I.       Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada anak dengan sindrom nefrotik adalah sebagai berikut8 :

  1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (00026).
  2. Ansietas berhubungan dengan hospitalisasi (00146).
  3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien (00002).
  4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum (00092).
  5. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit : pusing, malaise (00214).
  6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dnegan faktor internal : perubahan status cairan, penurunan sirkulasi (00046).
  7. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder : imunosuprsi, malnutrisi (00004).
  8. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan faktor resiko individual : penyakit kronis, nutrisi yang tidak adekuat (00112).
  9. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hospitalisasi (00198).
  10. Penurunan koping keluarga berhubungan dengan krisis situasional yang dapat dihadapi orang yang penting bagi klien (00074).
  1. J.      Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa yang muncul adalah sebagai berikut9,10 :

  1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (00026).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan volume cairan tercapai dengan kriteria hasil :

  1. Tidak ada edema
  2. Berat badan stabil
  3. Intake sama dengan output
  4. Berat jenis urin atau hasil laboratorium mendekati normal
  5. TTV dalam batas normal

Intervensi yang dilakukan adalah :

  1. Fluid and Electrolyte Management (2080)

1)      Monitor tanda vital.

2)      Monitor hasil laboratorium terkait keseimbangan cairan dan elektrolit seperti penurunan hematokrit, peningkatan BUN, kadar natrium serum dan kalium.

3)      Pertahankan terapi intravena pada flow rate yang konstan.

4)      Kolaborasi dengan dokter jika tanda dan gejala kelebihan cairan tetap atau semakin memburuk.

5)      Monitor intake dan output cairan.

6)      Monitor kuantitas dan warna haluaran urin

  1. Fluid monitoring (4130)

1)      Pantau hasil laboratorium berat jenis urin.

2)      Monitor serum albumin dan total protein dalam urin.

3)      Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan rasa haus.

4)      Monitor tanda dan gejala asites.

5)      Timbang berat badan setiap hari

  1. Ansietas berhubungan dengan hospitalisasi (00146).

Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam ansietas teratasi dengan kriteria hasil :

  1. Anak tidak rewel
  2. Anak tidak menangis saat dilakukan tindakan
  3. Anak kooperatif dalam perawatan

Intervensi keperawatan yang akan dilakukan adalah :

  1. Mood Management (5330)

1)      Kaji perasaan anak tentang hospitalisai.

2)      Kaji persepsi anak tentang hospitalisasi.

3)      Tanyakan pada keluarga tentang perubahan sikap, emosi, ataupun ekspresi klien saat dirawat di rumah sakit.

  1. Therapeutic Play (4430)

1)      Kaji kebutuhan anak tentang bermain yang dapat dilakukan di rumah sakit.

2)      Lakukan pendekatan terapeutik dengan anak.

3)      Rencanakan untuk terapi bermain sesuai dengan kebutuhan anak.

  1. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien (00002).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam maka nutrisi pada klien seimbang dnegan kriteria hasil :

  1. Anak tidak mengeluh mual
  2. Keluarga mengatakan nafsu makan anak meningkat
  3. Protein dan albumin dalam batas normal

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah :

  1. Nutritiont Management (1100)

1)      Kaji makanan yang disukai oleh klien

2)      Anjurkan klien untuk makan sedikit namun sering, misal dengan mengemil tiap jam

3)      Anjurkan keluarga untuk menyuapi klien apabila klien kesulitan untuk makan sendiri

  1. Nutritiont Therapy (1120)

1)      Anjurkan keluarga untuk tidak membolehkan anak makan-makanan yang banyak mengandung garam.

2)      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet yang tepat bagi anak dengan sindrom nefrotik.

  1. c.       Nutritional Monitoring (1160)

1)      Pantau perubahan kebiasaan makan pada klien.

2)      Pantau adanya mual atau muntah.

3)      Pantau kebutuhan kalori pada catatan asupan.

  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum (00092).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat beraktivitas dengan normal dengan kriteria hasil :

  1. Energy Conservation

1)      Istirahat dan aktivitas seimbang

2)      Mengetahui keterbatasan energinya

3)      Mengubah gaya hidup sesuai tingkat energi

4)      Memelihara nutrisi yang adekuat

5)      Persediaan energi cukup untuk beraktivitas

  1. Activity Tolerance

1)      Saturasi oksigen dalam batas normal / dalam respon aktivitas

2)      Nadi dalam batas normal / dalam respon aktivitas

3)      Pernafasan dalam batas normal / dalam respon aktivitas

4)      Tekanan darah dalam batas normal/dalam respon aktivitas

5)      Kekuatan ADL telah dilakukan

Intervensi keperawatan sebagai berikut :

Activity Therapy (4310)

  1. Menentukan penyebab intoleransi aktivitas.
  2. Berikan periode istirahat saat beraktivitas.
  3. Pantau respon kardipulmonal sebelum dan setelah aktivitas.
  4. Minimalkan kerja kardiopulmonal.
  5. Tingkatkan aktivitas secara bertahap.
  6. Ubah posisi pasien secara perlahan dan monitor gejala intoleransi aktivitas.
  7. Monitor dan catat kemampuan untuk mentoleransi aktivitas.
  8. Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sumber energy.
  9. Ajarkan pasien tehnik mengontrol pernafasan saat aktivitas.
  10. Kolaborasikan dengan terapi fisik untuk peningkatan level aktivitas
  11. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit : pusing, malaise (00214).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, gangguan rasa nyaman teratasi dnegan kriteria hasil :

  1. Klien tidak mengeluh lemas
  2. Klien tidak mengeluh merasa pusing
  3. Klien dapat meningkatkan ADL

Intervensi keparawatan yang dilakukan sebagai berikut :

  1. Relaxation Theraphy (6040)

1)      Anjurkan klien untuk bernapas dalam ketika merasa tidak nyaman.

2)      Anjurkan klien untuk beristirahat.

  1. Environtmental Management : Comfort (6482)

1)      Kaji ketidaknyamanan yang dirasakan oleh klien.

2)      Berikan posisi yang nyaman pada klien.

3)      Batasi pengunjung saat klien beristirahat.

  1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dnegan faktor internal : perubahan status cairan, penurunan sirkulasi (00046).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kerusakan integritas kulit teratasi dengan kriteria hasil :

  1. Capilarry refill < 3 detik
  2. Tidak ada pitting edema
  3. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah :

Pressure Management (3500)

  1. Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan terjadinya tekanan.
  2. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
  3. Hindari adanya lipatan pada tempat tidur.
  4. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
  5. Lakukan mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali.
  6. Monitor integritas kulit akan adanya kemerahan.
  7. Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan .
  8. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien.
  9. Monitor status nutrisi pasien.
  10. Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat.
  11. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder : imunosuprsi, malnutrisi (00004).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, resiko infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil :

  1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
  2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  3. Jumlah leukosit dalam batas normal
  4. Menunjukkan perilaku hidup sehat
  5. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

Intervensi keperawatan sebagai berikut :

Infection Control (6550)

  1. Pertahankan teknik aseptic.
  2. Batasi pengunjung bila perlu.
  3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawtan.
  4. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.
  5. Tingkatkan intake nutrisi.
  6. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
  7. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.
  8. Anjurkan klien untuk meningkatkan istirahat.
  9. Ajarkan keluarga pasien  tanda dan gejala infeksi.
  10. Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam.
  11. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan faktor resiko individual : penyakit kronis, nutrisi yang tidak adekuat (00112).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, reiko keterlambatan perkembangan dapat teratasi dnegan kriteria hasil :

  1. Anak mampu melakukan kebiasaan sesuai dengan umur.
  2. Kemampuan kognitif anak sesuai dengn usia tumbuh kembang.
  3. Kemampuan motorik anak sesuai dengan usia tumbuh kembang.

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Parent Education : Adolescent (5562)

1)      Tanyakan pada orang tua tentang karakteristik anak.

2)      Diskusikan pola asuh yang biasa dilakukan pada anak.

3)      Monitor perasaan orang tua terhadap anak.

4)      Ajarkan pada orang tua tentang metode komunikasi yang tepat pada anak sesuai dengan karakteristik anak.

  1. Developmental Enhancement : Adolescent (8272)

1)      Informasikan pada orang tua tentang perkembangan anak yang seharusnya telah dipenuhi.

2)      Jelaskan pada orang tua tentang perkembangan yang belum terpenuhi.

3)      Rencanakan untuk kegiatan stimulus perkembangan anak.

  1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hospitalisasi (00198).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, gangguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil :

  1. Klien mengatakan dapat tidur dengan nyenyak.
  2. Klien tampak segar dan tidak mengantuk.

Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Sleep Enhancement (1850)

  1. Kaji kebiasaan tidur klien selama di rumah.
  2. Kaji penyebab klien susah tidur.
  3. Modifikasi lingkungan yang nyaman agar klien bisa tidur nyenyak.
  4. Batasi pengunjung saat jam klien istirahat.
  5. Anjurkan keluarga untuk mengingatkan klien saat waktu tidur.
  6. Penurunan koping keluarga berhubungan dengan krisis situasional yang dapat dihadapi orang yang penting bagi klien (00074).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, koping keluarga meningkat dengan kriteria hasil :

  1. Keluarga mengungkapkan kesiapan dalam perawatan anak.
  2. Keluarga menemukan solusi untuk pemcahan masalah yang sedang dialami.
  3. Keluarga kooperatif dalam perawatan.

Intervensi keperawatan yang dilakukan sebagai berikut :

  1. Counseling (5240)

1)      Dorong keluarga untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dialami.

2)      Gunakan teknik komunikasi terapeutik.

  1. Family Therapy (7150)

1)      Kaji sumber kekuatan keluarga.

2)      Kaji persepsi setiap keluarga tentang kondisi yang dialami oleh klien.

3)      Fasilitasi keluarga untuk diskusi.

4)      Berikan informasi mengenai kondisi klien dan tindakan perawatan yang akan dilakukan.

5)      Bantu keluarga untuk mencari solusi.

  1. Emotional Support (5270)

1)      Berikan dukungan emosional pada keluarga dengan memberikan motivasi untuk kooperatif dalam tindakan perawatan.

2)      Informasikan kepada keluarga tentang perkembangan kondisi klien.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta : EGC
  2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. Jakarta : Media Aesculapius
  3. Sudoyo, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FK UI.
  4. Surjadi dan Rita Yuliani. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Ed. 2. Jakarta : Sugeng Seto
  5. Wong, Donna L. 2006.  Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Ed. 6. Jakarta : EGC.
  6. Potter, Patricia A. Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fudamental  Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktis Volume 2. EGC :Jakarta
  7. Doengoes, Marilynn E. 2000.  Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk Perencanaan Dan  Pendekumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC.
  8. NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-2014. Jakarta : EGC
  9. Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012. Nursing Interventions Classification (NIC). Fifth Edition. Iowa : Mosby Elsavier.
  10.  Jhonson,Marion. 2012. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St. Louis ,Missouri ; Mosby.

 

HEMODIALISA

Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa minggu) atau pada pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal (ESRD, end stage renal diasease) yang membutuhkan terapi jangka panjang dan atau terapi permanen.6

Tujuan hemodialisis adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebih. Dalam proses hemodialisa sendiri terjadi 2 proses yaitu proses difusi merupakan proses berpindahnya suatu zat terlarut yang disebabkan karena adanya perbedaan konsentrasi zat-zat terlarut dalam darah dan dialisat. Perpindahan molekul terjadi dari zat yang berkonsentrasi tinggi ke yang berkonsentrasi lebih rendah. Yang kedua proses ultrafiltrasi yaitu

berpindahnya zat pelarut (air) melalui membrane semi permeable akibat perbedaan tekanan hidrostatik pada kompartemen darah dan kompartemen dialisat. Tekanan hidrostatik / ultrafiltrasi adalah yang memaksa air keluar dari kompartemen darah ke kompartemen dialisat.6

          Dalam proses hemodialisis harus memperhatikan tanda-tanda vital yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah proses dilakukan karena proses hemodialisa mampu mempengaruhi tekanan darah bisa meningkat drastis karena pengaruh pemggunaan Natrium selama proses hemodialisa dan bisa menurun dengan drastis karena banyaknya cairan yang keluar selama proses dialysis berlangsung, oleh sebab itu sangat penting dilakukan pengkajian sebelum proses, observasi selama proses, dan evaluasi setelah proses dialysis dilakukan.

 

TERAPI KLASIK

Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik dan elemen musik oleh seorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik, mental emosional dan spiritual.3,4 Musik yang terdiri dari kombinasi ritme, irama, harmonic dan melodi sejak dahulu mempunyai pengaruh terhadap pengobatan orang sakit. Kerja musik dalam mempengaruhi kesehatan bisa dilihat dari pengaruh musik dalam menurunkan rasa nyeri. Musik  mempengaruhi autonomic merangsang kelenjar endofisis yang menyebabkan keluarnya endorphin (opiat alami) sehingga bisa terjadi penurunan rasa sakit dan akan mengurangi penggunaan analgetik.1

 Dalam hal penurunan tekanan darah dan stres diduga bahwa konsentrasi katekolamin plasma mempengaruhi aktivasi simpatoadrenergik, dan juga menyebabkan terjadinya pelepasan stress-released hormones.40 Berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa musik klasik dapat memfasilitasi respon kardivaskuler terhadap stresor. 2

Pemberian musik dengan irama lambat seperti musik klasik akan mengurangi pelepasan katekolamin kedalam pembuluh darah, sehingga konsentrasi katekolamin dalam plasma rendah.40 Hal ini mengakibatkan tubuh mengalami relaksasi, denyut jantung berkurang dan tekanan darah menjadi turun.1

Prosedur intradialytic exercise:

Persiapan Alat

  1. VCD player / tape recorder / winamp pada Laptop
  2. CD / kaset

Persiapan Pasien

  1. Mengkaji keadaan umum
  2. Mengukur vital sign (tekanan darah, pernafasan, denyut nadi, suhu tubuh)

 

 

Pelaksanaan

  1. Latihan peregangan
    1. Peregangan leher

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur

2)      Tundukkan kepala sampai dagu menyentuh dada.

3)      Tolehkan kepala kearah telinga kiri dan kanan bergantian.

4)      Ulangi Peregangan Pada Leher. 

5)      Dengan perlahan gerakan kepala ke arah bahu kanan, kembali tegak kemudian gerakan kepala kearah bahu  kiri

6)      Setiap gerakan dilakukan 8 hitungan

  1. Peregangan tangan /Lengan [Tangan dan pergelangan]

1)      Posisi duduk atau berbaring

2)      Angkat tangan anda, luruskan sejajar dengan bahu.

3)      Regangkan semua jari-jari tangan, kemudian ikuti gerakan mengepal. 

4)      Tiap gerakan dilakukan  sebanyak  8 kali

  1. Peregangan Bahu, punggung atas dan dada (Gerakan mengangkat bahu dan memutar bahu)     

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur

2)      Angkat bahu kearah  telinga dengan gerakan turun naik.

3)      Putar bahu kanan kearah belakang kemudian kearah depan. Ganti bahu sebelah kiri degan gerakan yang sama.

4)      Putar  secara bersamaan kedua bahu kearah belakang dan depan .

5)      Setiap Gerakan dilakukan sebanyak 8 kali

  1. Peregangan dada dan punggung bagian atas (Bahu, punggung atas dan dada).

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur

2)      Letakkan tangan di atas bahu dengan siku menekuk..

3)      Gerakkan memutar siku. Pertama kedepan, kemudian kebelakang.

4)      Gerakkan memutar dengan gerakan memutar siku anda, pertama kearah depan, lalu kebelakang.

5)      Hentikan putaran dan sentuhkan kedua siku di depan dada.

6)      Buka kedua siku ke arah luar dan tarik bahu bagian belakang bersama-sama. Rasakan regangan di dada.

7)      Ulangi gerangan kembali sebanyak 8 kali

 

  1. Peregangan bagian leher dan bagian samping

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur

2)      Angkat kedua tangan atau salah satu tangan yang tidak diakses lurus ke atas, kemudian tangan diturunkan. Rasakan peregangan pada dada bagian samping

3)      Lakukan gerakan sebanyak 8 kali

 

  1. Peregangan kaki bagian depan dan belakang, pergelangan kaki

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur dengan kaki lurus

2)      Dengan perlahan tekuk  kedua atau salah satu telapak kaki (bagian kaki yang tidak diakses) kearah badan, kemudian luruskan  kearah depan

3)      Lakukan gerakan sebanyak 8 kali

  1. Latihan Penguatan
    1. Penguatan Lengan Atas, depan (Lengkungkan lengan)

1)      Posisi duduk atau berbaring di atas tempat tidur

2)      Pertahankan siku tetap berada di sisi badan, dan tekuk lengan anda.

3)      Putar telapak tangan ke atas dan buat kepalan, begitu juga dengan  dengan tangan yang lain.

4)      Perlahan-lahan naikan satu kepalan (dengan atau tanpa beban) ke arah bahu dan ke bawah.

  1. Penguatan  bagian  paha        

1)      Posisi duduk atau berbaring  di atas tempat tidur dengan kaki lurus

2)      Dengan perlahan tekuk kaki kanan kearah badan, kemudian kaki diluruskan kembali.

3)      Secara bergantian dilakukan antara gerakan kakisebelah kanan dengan kaki yang  sebelah kiri.

4)      Lakukan gerakan sebanyak 8 kali

  1. Penguatan paha

1)      Sandarkan punggung di kursi atau tempat dengan kaki dinaikkan di tempat kaki (footrest).

2)      Lengan berpegangan di kursi atau sisi tempat duduk untuk keseimbangan.

3)      Perlahan angkat kaki tanpa menekuk kaki. (Beban untuk pergelangan kaki dapat digunakan).

4)      Hitung sampai  hitungan 5 (lima) kali .

5)      Perlahan turunkan. Ulangi untuk kaki yang lain

  1. Penguatan paha depan, belakang dan perut

1)      Sandarkan punggung di kursi/tempat tidur dan kaki dinaikan di tempat kaki (foot rest).

2)      Tekuk kaki pada lutut, dalam satu waktu, perlahan arahkan ke dada seperti anda mengayuh sepeda

  1. Penguatan paha samping

1)      Tiduran dengan posisi berbaring di atas tempat tidur

2)      Luruskan kedua kaki.

3)      Gerakan kaki kanan ke arah samping dengan bertumpu pangkal paha. Kemudian gerakan kearah  posisi semula (lurus dengan badan)..

4)      Secara bergantian lakukan gerakan pada kaki yang sebelahnya

5)      Lakukan gerakan masing-masing kaki sebanyak 8 kali hitungan

  1. Latihan pendinginan
  2. Tarik nafas melalui hidung dan keluarkan melalui mulut, sambil angkat kedua tangan setinggi kepala
  3. Lakukan 8 kali hitunga

Evaluasi

  1. Mengobservasi keadaan umum
  2. Mengukur vital sign (tekanan darah, pernafasan, suhu dan denyut nadi)

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aru W. Sudoyo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.
  2. Riarai. 2009. Tugas Akhir tentang Gagal Ginjal Kronik. Diakses tanggal 16 Mei 2011. Http://tutorialkuliah.onsugar.com/Tugas-Akhir-Tentang-Gagal-Ginjal-Kronik-CRF-13748820.
  3. Birinder Singh Bobby Cheema, etc. 2005. A Rationale for Intradialitic Exercise Training as Standart Clinical Practice in ERSD. Article of National Kidney Foundation : Australia.
  4. Niken D Cahyaningsih. 2009. Hemodialisis (Cuci Darah) Panduan Praktis Perawatan Gagal Ginjal. Yogyakarta : Mitra Cendekia Press.
  5. Yuni Aryanti. 2011. Studi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik (Penelitian dilakukan di IRNA Interna Laki-laki dan Wanita RSU Dr. Soetomo Surabaya). Diakses tanggal 16 Maret 2011. Http://adln.lib.unair.ac.id/print.php?id=gdlhub-gdl-s1-2011-aryantiyun-15831&PHPSESSID=af933c04f6809b9e443f9b099681c960.
  6. Maria Takhreem. 2008. The effectiveness of Intradialytic Exercise Prescription on Quality of Life in Patient with Chronic Kidney Disease. The Medscape Jurnal, published October 2008.
  7. Sukandar Enday, Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Bandung: RS. Dr. Hasan Sadikin; 2006
  8. Merritt S. Simfoni otak 39 aktivitas music yang  merangsang IQ, EQ, SQ untuk membangkitkan kreativitas dan imajinasi. Cetakan ke-1. Bandung: Kaifa;2003.h. 68-106.
  9. Halim S. Efek Mozart dan terapi music dalam dunia kesehatan. Medika 2003; No.1 tahun XXIX:30-34.
  10. Hatem TP, Lira PI, Mattos SS. The therapeutic effects of music in children following cardiac surgery. J Pediatric (Rio J) 2006;82:186-92.
  11. Yamamoto T, Ohkuwa T, Itoh H, Kitoh M, Terasawa J, Tsuda T, dkk. Effects of pre-exercise and selected metabolic variables. Arch Physiol Biochem 2003; 111:211-14.
  12. Chafin S, Roy M, Gerin W, Christenfeld N. Music can facilitate blood pressure recovery from stress. Br  J Health Psychol 2004;9:393-404.

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Kecemasan yang berat akan mempengaruhi hipotalamus dan menimbulkan dua mekanisme yang berbeda. Impuls pertama didukung oleh sistem saraf simpatis yang akan mempengaruhi medula adrenal dalam memproduksi epinephrin dan nor epinephrin. Dalam keadaan normal, kedua substansi ini akan memberikan sirkulasi darah yang adekuat sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, suhu tubuh stabil sehingga energi terpenuhi. Tetapi jika produksinya patologis akan meningkatkan rate dan kontraksi jantung, dilatasi pupil, penurunan motilitas gastrointestine tract hingga terjadi glikogenolisis dan gluko-neogenesis di hepar. Sedangkan mekanisme kedua akan mempengaruhi kelenjar hipofise anterior sehingga merangsang produksi hormon adrenokortikosteroid yaitu aldosteron dan glukokortikoid.

Aldosteron berperan dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, reabsorbsi air dan natrium. Glukokortikoid menyediakan energi pada kondisi emergensi dan penyembuhan jaringan. Kecemasan dapat timbul karena kesiapan psikologis terhadap pembedahan belum terjadi.

Pengurangan tingkat kecemasan preoperasi sangat penting karena akan mempengaruhi hemodinamik responden sebelum dan selama operasi. Indikator hemodinamik yang paling berpengaruh yaitu perubahan tekanan darah dan frekuensi jantung. Kondisi ini akan mempengaruhi macam obat anestesi yang diberikan saat operasi untuk mencapai kondisi responden yang stabil. Penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi perubahan hemodinamik antara lain status fisik, usia, jenis kelamin, berat badan, kecemasan, nyeri, riwayat pemakaian obat sebelumnya, status hidrasi, suhu tubuh, pilihan obat premedikasi dan induksi anestesi. oleh karena itu, perlu dilakukan penurunan tingkat kecemasan untuk mencegah terjadinya perubahan hemodinamik sebelum operasi.

Cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian SEFT (spiritual emotion freedom technique), latihan napas dalam, terapi musik, dan distraksi. Seluruh intervensi yang dilakukan memiliki tujuan akhir yang sama yaitu membuat responden lebih rileks. Teknik SEFT ini berfokus pada kata atau kalimat tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah pada Tuhan sesuai dengan keyakinan responden. Tujuan dari intervensi ini untuk mengatasi berbagai macam masalah fisik, emosi, fikiran, sikap, motivasi, perilaku, dan pengembangan diri.

Spiritual menimbulkan rasa percaya diri, mendatangkan ketenangan, rileks, dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa sehingga mengakibatkan rangsangan ke hipotalamus untuk menurunkan produksi CRF (Cortictropin Releasing Factor). CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk menurunkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon). Hormon ini yang akan merangsang kortek adrenal untuk menurunkan sekresi kortisol. Kortisol ini yang akan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi tingkat kecemasan. Berbeda dengan psikoterapi konvensional, EFT berasumsi bahwa memang benar beberapa ingatan (sadar atau bawah sadar) tentang masa lalu dapat membangkitkan gangguan psikologis, tetapi proses ini tidak berjalan secara langsung, melainkan ada “proses antara“ yang dinamakan “Disruption of Body Energy System” (terganggunya sistem energi tubuh). Inilah yang sebenarnya secara langsung menyebabkan gangguan emosi. EFT langsung menangani gangguan sistem energi tubuh untuk menghilangkan emosi negatif. Dengan begitu, cukup menyelaraskan kembali sistem energi tubuh, maka emosi negatif yang dirasakan akan hilang dengan sendirinya. Hasil implementasi menunjukkan, bahwa SEFT berpengaruh terhadap penurunan kecemasan dan perubahan tanda-tanda vital dalam rentang normal pada 8 responden pre operasi. 

Alhamdulillah, Ulung Dwiputra Wijaya sudah keterima kerja lagi di PT Surganya Motor Indonesia, tepatmnya jadi assistant kepala toko..ya meski gajinya gak sebanding dengan kerjanya,,tapi aku bersyukur akhirnya dia bisa belajar lagi mencari pengalaman sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Terimakasih ya Allah engkau berikan rejeki yang halal untuknya…

ini potonya yang sedang kecapekan…huhuhuhuhuhu..ngegemesin deh ini orang..
I love you Kio Chan

Awan Tag