Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

BAB III

PEMBAHASAN

 

       Lesi desak ruang (space occupying lesion/SOL) merupakan lesi yang meluas atau menempati ruang dalam otak termasuk tumor, hematoma dan abses.2 Pada kasus ini Ny. S (41 tahun) datang ke rumah sakit karena merasa sakit kepala yang hilang timbul sejak satu setengah bulan sebelum masuk rumah sakit, pandangan mata kiri gelap, pendengaran menurun disertai dengan kelemahan anggota gerak kanan, namun klien masih bisa beraktivitas. Hasil MSCT Scan dengan kontras menunjukkan terdapat lesi di sphenoid wings kiri dengan peningkatan intrakranial. Klien didiagnosa dengan SOL meningioma.

       Gejala yang dialami klien seperti nyeri kepala merupakan salah satu dari trias peningkatan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial merupakan peningkatan tekanan pada rongga kranialis. Ruang intrakranial biasanya ditempati oleh jaringan otak, darah dan cairan cerebrospinal. Seuai dengan hukum Monroe-Kellie, bahwa ruang intrakranial merupakan ruang kaku yang berisi jaringan otak 80%, darah 10%, dan cairan cerebrospinal 10%. Tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga apabila salah satu dari ruangan meluas, kedua ruangan lain harus mengkompensasinya.5

       Salah satu ciri khas otak adalah pengendalian sensorik dan motorik, yaitu setiap hemisfer otak terutama mengurus sisi tubuh yang letaknya kontralateral.5 Danya lesi pada salah satu lobus mempengaruhi pengendalian sensorik dan motorik di area lobus tersebut. Lesi yang berada pada lobus oksipital yang merupakan area penglihatan menyebabkan klien mengalami gangguan penglihatan pada mata sebelah kiri. Hemisfer kiri otak mengatur pengendalian motorik tubuh kanan, dalam kasus Ny. S kemungkinan lesi juga mengenai hemisfer kiri sehingga anggota gerak kanan klien mengalami kelemahan.

       Gejala-gejala yang timbul pada klien dengan meningioma sangat bervariasi tergantung dari luas dan area yang terkena lesi. Ny. S mengalami nyeri kepala yang hilang timbul, nyeri bertambah ketika klien bangun pagi, skala nyeri 5 pada area belakang kepala dan berkurang saat istirahat. Lesi pada lobus oksipitalis pada Ny. S membuat klien mengalami gangguan penglihatan pada mata kiri, gangguan pendengaran pada telinga kiri, dan kelemahan anggota gerak kanan. Masalah keperawatan yang timbul dari gejala tersebut adalah ketidakefektifan perfusi jaringan otak.

       Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul dari meningioma adalah dengan kraniektomi untuk pengangkatan tumor. Pada kasus ini Ny. S belum pernah mengalami operasi. Klien juga belum mengetahui bagaimana prosedur sebelum dan sesudah dioperasi. Klien mengungkapakan perasaan takut untuk dioperasi. Pengkajian cemas dengan menggunakan skala HARS adalah 15 menunjukkan skala cemas sedang. Masalah keperawatan yang timbul adalah ansietas.

       Peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan nyeri kepala hilang timbul dirasakan klien sangat mengganggu istirahat klien. Klien mengatakan sering terbangun di malam hari karena merasa pusing. Perawatan di rumah sakit juga membuat perubahan pada pola tidur klien, sehingga klien kadang terlihat mengantuk. Masalah keperawatan yang timbul adalah gangguan pola tidur.

       Kelemahan anggota gerak kanan dan nyeri kepala yang dialami oleh klien membuat klien terbatas dalam melakukan aktivitas fisik. Gangguan persepsi sensori penglihatan akibat lesi di lobus oksipitalis menyebabkan mata kiri klien tidak  dapat melihat sehingga lapang pandang klien terbatas. Masalah keperawatan yang timbul adalah resiko jatuh.

Pembahasan mengenai masalah-masalah keperawatan yang muncul secara lebih jelas dibahas berikut ini :

  1. A.      Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak

       Adanya lesi pada otak dapat menyebabkan perubahan suplai darah ke otak sehingga resiko nekrosis jaringan otak bisa saja terjadi. Gangguan cerebrovaskular yang terjadi dalam kasus ini adalah peningkatan tekanan intrakranial. Pertumbuhan tumor menambah massa dari ruang intrakranial sementara ruang tengkorak adalah ruang yang kaku dan tidak dapat bertambah besar sehingga kompensasi terjadi. Sawar darah otak terganggu yang menyebabkan obstruksi dan edema. Hal tersebut menimbulkan peningkatan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial merupakan kegawatan yang harus diatasi karena dapat membahayakan jiwa.5

       Ketidakefektifan perfusi jaringan otak merupakan prioritas masalah keperawatan utama yang harus diatasi agar dampak buruk dari perfusi jaringan otak yang tidak efektif dapat dikurangi. Tindakan keperawatan ditujukan untuk meningkatkan perfusi jaringan otak dnegan kriteria hasil klien tampak tenang, klien mengatakan nyeri kepala berkurang skala 3, klien tidak mual atau muntah, klien tidak mengalami penurunan kesadaran, TTV dalam batas normal N : 60-100 x/mnt, RR : 16-20x/mnt, S: 36-37˚C, sistol : 100-130 mmHg, diastol : 60-90mmHg.

       Implementasi yang dilakukan adalah memantau status neurologi klien secara teratur seperti GCS, memonitor TTV terutama tekanan darah, memantau kemampuan gerak pada daerah-daerah yang mengalami kelemahan, memberikan posisi tempat tidur elevasi kepala bergantian 0˚, 30˚, dan 60˚, mengevaluasi keadaan klien setiap perubahan posisi dan memberikan medikasi sesuai advise : dexamethason 10 mg/8 jam IV, fenitoin 200 mg/24 jam IV, Ranitidin 50 mg / 8 jam IV.

       Tindakan keperawatan utama adalah dengan memberikan posisi yang nyaman pada klien serta dapat meningkatkan perfusi otak sehingga peningkatan tekanan intrakranial dapat dikurangi. Pemberian posisi tidur dengan elevasi kepala bergantian 0˚, 30˚, dan 60˚ ditujukan untuk mengevaluasi respon klien yang paling baik dengan posisi elevasi kepala antara 0˚, 30˚, dan 60˚.

       Penelitian yang dilakukan oleh Mahfoud, Beck, dan Raabe (2009) tentang pengaruh head elevation terhadap perubahan amplitudo intracranial pressure pulse (ICPP) menunjukkan hasil yang signifikan. Responden dalam penelitian ini berjumlah 33 klien dewasa antara usia 16-84 tahun. Penyebab peningkatan tekanan intrakranial pada klien berbeda-beda diantaranya perdarahan subarachnoid 15 klien, perdarahan intraserebral 6 klien, kombinasi dua penyakit tersebut 3 klien, stroke 1 klien, dan masing-masing 2 klien untuk penyakit subdural hematoma, epidural hematoma, cedera kepala, dan tumor otak. Kriteria responden adalah semua klien disedasi dan menggunakan ventilator namun klien dalam kondisi stabil. Perubahan elevasi kepala bergantian dari 0˚, 30˚, dan 60˚. Sebelum pengukuran posisi kepala klien elevasi antara 25-30˚. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan intrakranial semua klien meningkat ketika posisi elevasi kepala 0˚ yaitu antara 20.3±0,9 mmHg dan merupakan tekanan tertinggi yang ditemukan. Tekanan intrakranial terendah ditemukan pada posisi elevasi kepala 60˚ yaitu antara 11.8±1,1 mmHg. Kriteria waktu dan jeda perubahan posisi elevasi kepala dalam penelitian ini tidak dijelaskan.6

       Perubahan elevasi kepala pada penelitian tersebut dicoba untuk diterapkan pada Ny S dengan modifikasi. Pengukuran tekanan intrakranial pada penelitian dilakukan dengan alat, namun dalam kasus ini di modifikasi dengan ungkapan respon klien terhadap nyeri kepala yaitu skala nyeri yang ditunjukkan. Pemberian waktu untuk setiap perubahan elevasi kepala dilakukan selama 30 menit. Respon klien terhadap perubahan elevasi kepala ditunjukkan dengan grafik berikut.

 

       Grafik diatas menunjukkan perubahan skala nyeri terhadap head elevation. Pada saat posisi kepala sejajar dengan tubuh atau lurus membentuk sudut 0˚ klien mengatakan nyeri kepala dengan skala 5. 30 menit kemudian posisi kepala elevasi 30˚, respon klien masih menyatakan pusing namun skala nyeri berkurang menjadi 4. Pada posisi elevasi kepala 60˚ klien menyatakan amsih merasa nyeri kepala namun sedikit dengan skala 3. Saat dirubah kembali menjadi posisi elevasi kepala 30˚ kemudian 0˚ skala nyeri kepala bertambah menjadi 5. Hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa posisi elevasi kepala paling nyaman untuk klien adalah dengan posisi elevasi kepala 60˚. Hasil tersebut digunakan untuk intervensi selanjutnya apabila klien mengalami nyeri kepala.

       Perubahan posisi elevasi kepala 60˚ selain membuat klien merasa nyaman dan skala nyeri berkurang menjadi 3, juga meningkatkan aliran balik vena dari kepala sehingga akan mengurangi kongesti dan edema atau resiko peningkatan tekanan intrakranial.4 Penurunan tekanan intrakranial yang meninggi juga dapat didukung dengan pemberian obat-obatan seperti dexametahasone yang ditujukan untuk mengurangi edema serebral.

       Pemantauan tanda-tanda vital dan status neurologis juga merupakan intervensi yang penting. Aliran darah ke otak yang konstan penting untuk dipertahankan. Peningkatan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan tekanan intrakranial, jika diikuti penurunan tingkat kesadaran. Perubahan pada frekuensi jantung misal bradikardia dan disritmia serta pola nafas yang tidak teratur menunjukkan adanya depresi pada batang otak sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.4 Berikut ini hasil monitoring tanda-tanda vital pada klien sebelum tindakan kraniotomi :

Tanda-tanda vital

17 Juni 2013

18 Juni 2013

19 Juni 2013

20 Juni 2013

TD (mmHg)

110/80

110/70

120/80

110/80

MAP

90

83,3

93,3

90

Nadi (x/mnt)

80

78

84

80

RR (x/mnt)

20

20

20

20

Suhu (˚J)

36,3

36,5

36,3

36,5

GCS

E4M6V5

E4M6V5

E4M6V5

E4M6V5

 

Tabel diatas menunjukkan bahwa Ny S tidak mengalami depresi apda batang otak dan aliran darah ke otak cenderung konstan. Ny S juga tidak mengalami penurunan kesadaran. Suhu tubuh yang normal pada klien menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan pada hipotalamus.4 Suhu lingkungan yang nyaman juga perlu disesuaikan agar tidak terjadi demam atau menggigil karena jika demam terjadi akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen yang selanjutnya akan menambah peningkatan tekanan intrkranial.4

       Tindakan keperawatan yang dilakukan selama 4 hari untuk mengatasi ketidakefektifan perfusi jaringan otak dengan cerebral perfussion promotion, dan intracranial pressure monitoring teratasi sebagian. Hal tersebut ditandai dengan klien tampak tenang, klien menunjukkan skala nyeri 3, TTV dalam batas normal, dan klien tidak muntah serta kesadaran composmentis.

  1. B.       Ansietas

       Ansietas yang dialami oleh sesorang menimbulkan respon fisiologis yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Respon –respon fisiologis terhadap kecemasan adalah sebagai berikut7:

  1. Pada sistem kardiovaskuler dapat terjadi palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, perasaan ingin pingsan, denyut nadi melemah, tekanan darah turun.
  2. Pada sistem saluran pernapasan dapat terjadi napas cepat, pernapasan dangkal, rasa tertekan pada dada, pembengkakan pada tenggorokan, rasa tercekik dan terengah-engah.
  3. Pada sistem neuromuskuler terjadi insomnia, ketakutan, gelisah, wajah tegang, dan kelemahan secara umum.
  4. Pada sistem gastrointestinal dapat terjadi kehilangan nafsu makan, menolak makan, nausea dan diare, perasaan panas dan dingin pada kulit, muka pucat.

       Ansietas dapat meningkatkan resiko terjadinya penurunan kondisi tubuh pada Ny S sehingga perlu untuk diatasi. Intervensi yang dilakukan ditujukan agar klien kooperatif dalam prosedur bedah kepala atau kraniotomi. Kriteria hasil yang ingin dicapai adalah klien mengetahui persiapan pre operasi dan skala HARS turun menjadi 6 yaitu klien tidak mengalami kecemasan.

       Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah dengan counseling, anxiety reduction dan spiritual support. Intervensi utama yang diberikan pada Ny S adalah dengan terapi spiritual. Bentuk dari dukungan spiritual yang diberikan pada klien adalah dengan menganjurkan klien untuk berdzikir maupun mengucapkan istighfar. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiyono (2009) menunjukkan bahwa dengan terapi dzikir selama 20-25 menit di pagi maupun malam hari, dengan posisi duduk maupun tidur sambil memejamkan mata, efektif untuk menurunkan kecemasan dan memberikan kesejahteraan emosi bagi klien7. Setelah intervensi terapi dzikir dilakukan selama 25 menit kemudia tanda-tanda vital klien diukur, hasilnya TD : 110/80 mmHg, RR : 16 x/menit, H :80 x/menit. Klien merasa lebih tenang dan rileks.8

       Intervensi yang dilakukan selama 3 hari menunjukkan ansietas teratasi ditandai dengan skala HARS turun menjadi 6 dan klien siap ketika akan dioperasi. Klien juga mengungkapkan bahwa persiapan operasi seperti mandi dan keramas bersih sudah dilakukan ketika akan berangkat operasi.

  1. C.      Gangguan Pola Tidur

       Sakit kepala yang hilang timbul pada malam hari membuat klien tidak bisa tidur. Selain itu perubahan lingkungan baru juga menyebabkan klien harus beradaptasi kembali untuk menyesuaikan dnegan pola istirahat. Perawat sebagai caregiver harus mampu untuk memodifikasi lingkungan agar nyaman untuk klien istirahat.

       Intervensi keperawatan yang dilakukan bertujuan agar klien dapat menyesuaikan pola tidur dengan kebutuhan istirahat klien. Kriteria hasil yang diharapkan adalah klien mengungkapkan kepuasan saat bangun tidur, klien tidak terlihat mengantuk, dan klien dapat melakukan melakukan modifikasi lingkungan.

       Tindakan keperawatan yang telah dilakukan antara lain mengkaji pola tidur klien dan perubahan pola tidur selama dirawat di rumah sakit, menciptakan lingkungan yang nyaman seperti mematikan lampu saat tidur, menganjurkan klien untuk tidak melakukan aktivitas seperti makan diantara sela waktu tidur, dan menganjurkan klien untuk meninggikan posisi kepala saat akan tidur.

       Modifikasi lingkungan yang diberikan untuk klien adalah dengan mematikan lampu di malam hari, lampu dinyalakan ketika klien diberikan tindakan. Selain itu menjaga ketenangan klien dengan hanya memperbolehkan penunggu klien hanya satu orang saja. Selain itu posisi tidur dengan kepala tinggi juga dapat membantu membuat klien beristirahat dnegan nyaman. Evaluasi akhir didapatkan kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi dan masalah gangguan pola tidur klien teratasi ditandai dengan klien mengungkapakan perasaan puas saat bangun tidur.

  1. D.      Resiko Jatuh

       Adanya lesi yang mengenai hemisfer kiri menyebabkan kelemahan pada anggota gerak kanan. Pada Ny S mengalami kelemahan anggota kiri namun klien masih dapat melakukan aktivitas, seperti berjalan. Kelemahan dirasakan pada tungkai kanan dan tangan yang terasa lemah ketika menggenggam. Gangguan persepsi sensori yang diakibatkan adanya tumor atau lesi yang mengenai lobus oksipital juga menyebabkan penglihatan kiri klien gelap serta pendengaran kiri menurun sehingga klien termasuk dalam resiko jatuh tinggi.

       Tujuan dari tindakan keperawatan adalah klien tidak mengalami jatuh. Kriteria hasil yang diharapkan yaitu klien tidak mengalami jatuh, pembatas tempat tidur klien terpasang dan klien ditemani oleh keluarga ketika ke kamar mandi.

       Rumah sakit juga selalu menerapkan dalam screening klien dengan resiko jatuh. Screening dilakukan dnegan lembar ceklist humpty dumpty. Setelah klien dinyatakan termasuk dalam resiko jatuh tinggi, segera dikenakan gelang berwarna kuning dan tanda resiko jatuh di tempat tidur klien. Edukasi mengenai resiko jatuh diberikan kepada keluarga klien dan klien sehingga angka kejadian klien jatuh dapat dicegah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: