Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Pengertian Kekambuhan

Kekambuhan adalah suatu keadaan dimana timbulnya kembali suatu penyakit yang sudah sembuh dan disebabkan oleh berbagai macam faktor penyebab. Pencegahan kekambuhan adalah mencegah terjadinya peristiwa timbulnya kembali gejala-gejala yang sebelumnya sudah memperoleh kemajuan. Pada gangguan jiwa kronis diperkirakan mengalami kekambuhan 50% pada tahun pertama, dan 79% pada tahun ke dua. Kekambuhan biasa terjadi karena adanya kejadian-kejadian buruk sebelum mereka kambuh.

 PREVALENSI KEKAMBUHAN

Masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa juga masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Data Profil Kesehatan Indonesia (2008) menunjukkan bahwa dari 1000 penduduk terdapat 185 penduduk mengalami gangguan jiwa. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 2007, diketahui bahwa prevalensi  gangguan jiwa per 1000 anggota rumah tangga terdapat 140/1000 penduduk usia 15 tahun ke atas, dan diperkirakan sejak awal tahun 2009 jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa sebesar 25% dari populasi penduduk di Indonesia.

Secara global angkan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa ini mencapai 50% hingga 92% yang disebabkan karena ketidakpatuhan dalam berobat maupun karena kurangnya dukungan dan kondisi kehidupan yang rentan dengan meningkatan stress.(Sheewangisaw, 2012)

DAMPAK KEKAMBUHAN

Dampak gangguan jiwa bagi keluarga sangat besar, apalagi ada beberapa anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Dampak dari anggota yang menderita gangguan jiwa bagi keluarga diantaranya keluarga belum terbiasa dengan adanya gangguan jiwa. Dampak-dampak gangguan jiwa bagi keluarga, seperti:

Penolakan

Sering terjadi dan timbul ketika ada keluarga yang menderita gangguan jiwa, pihak anggota keluarga lain menolak penderita tersebut dan menyakini memiliki penyakit berkelanjutan. Selama episode akut anggota keluarga akan khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka cintai. Pada proses awal, keluarga akan melindungi orang yang sakit dari orang lain dan menyalahkan dan merendahkan orang yang sakit untuk perilaku tidak dapat diterima dan kurangnya prestasi. Sikap ini mengarah pada ketegangan dalam keluarga, dan isolasi dan kehilangan hubungan yang bermakna dengan keluarga yang tidak mendukung orang yang sakit.

Tanpa informasi untuk membantu keluarga belajar untuk mengatasi penyakit mental, keluarga dapat menjadi sangat pesimis tentang masa depan. Sangat penting bahwa keluarga menemukan sumber informasi yang membantu mereka untuk memahami bagaimana penyakit itu mempengaruhi orang tersebut. Mereka perlu tahu bahwa dengan pengobatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya, mayoritas orang kembali ke gaya kehidupan normal.

Stigma

Informasi dan pengetahuan tentang gangguan jiwa tidak semua dalam anggota keluarga mengetahuinya. Keluarga menganggap penderita tidak dapat berkomunikasi layaknya orang normal lainnya. Menyebabkan beberapa keluarga merasa tidak nyaman untuk mengundang penderita dalam kegiatan tertentu. Hasil stigma dalam begitu banyak di kehidupan sehari-hari, Tidak mengherankan, semua ini dapat mengakibatkan penarikan dari aktif berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.

Frustrasi, Tidak berdaya dan Kecemasan

Sulit bagi siapa saja untuk menangani dengan pemikiran aneh dan tingkah laku aneh dan tak terduga. Hal ini membingungkan, menakutkan dan melelahkan. Bahkan ketika orang itu stabil pada obat, apatis dan kurangnya motivasi bisa membuat frustasi. Anggota keluarga memahami kesulitan yang penderita miliki. Keluarga dapat menjadi marah marah, cemas, dan frustasi karena berjuang untuk mendapatkan kembali ke rutinitas yang sebelumnya penderita lakukan.

Kelelahan dan Burnout

Seringkali keluarga menjadi putus asa berhadapan dengan orang yang dicintai yang memiliki penyakit mental. Mereka mungkin mulai merasa tidak mampu mengatasi dengan hidup dengan orang yang sakit yang harus terus-menerus dirawat. Namun seringkali, mereka merasa terjebak dan lelah oleh tekanan dari perjuangan sehari-hari, terutama jika hanya ada satu anggota keluarga mungkin merasa benar-benar di luar kendali. Hal ini bisa terjadi karena orang yang sakit ini tidak memiliki batas yang ditetapkan di tingkah lakunya. Keluarga dalam hal ini perlu dijelaskan kembali bahwa dalam merawat penderita tidak boleh merasa letih, karena dukungan keluarga tidak boleh berhenti untuk selalu men-support penderita.

Duka

Kesedihan bagi keluarga di mana orang yang dicintai memiliki penyakit mental. Penyakit ini mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dan berpartisipasi dalam kegiatan normal dari kehidupan sehari-hari, dan penurunan yang dapat terus-menerus. Keluarga dapat menerima kenyataan penyakit yang dapat diobati, tetapi tidak dapat disembuhkan. Keluarga berduka ketika orang yang dicintai sulit untuk disembuhkan dan melihat penderita memiliki potensi berkurang secara substansial bukan sebagai yang memiliki potensi berubah.

 

Kebutuhan Pribadi dan Mengembangkan Sumber Daya Pribadi

Jika anggota keluarga memburuk akibat stres dan terlalu banyak pekerjaan, dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem pendukung yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, keluarga harus diingatkan bahwa mereka harus menjaga diri secara fisik, mental dan spiritual yang sehat. Memang ini bisa sangat sulit ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit mereka. Namun, dapat menjadi bantuan yang luar biasa bagi keluarga untuk menyadari bahwa kebutuhan mereka tidak boleh diabaikan.

 PENYEBAB KEKAMBUHAN

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kekambuhan  pada penderita gangguan jiwa menurut Keliat, 1996 adalah :

  1. Faktor penderita.

Penderita yang tidak teratur dalam meminum obat dapat menyebabkan kekambuhan gangguan jiwa. Menurut penelitian, 25%-50% penderita yang pulang dari rumah sakit jiwa tidak meminum obat secara teratur.

  1. Faktor dokter.

Pemakaian obat secara teratur dapat mengurungi kekambuhan, tetapi pemakain obat neuroleptik dalam jangka lama dapat menyebabkan efek samping berupa Tardive Diskinesia (gerakan tidak terkontrol)yang dapat mengganggu hubungan social.

  1. Factor penanggung jawab klien ( case manajer)

Setelah klien pulang kerumah setelah dirawat di Rumah sakit, maka perawat Puskesmas bertanggung jawab terhadap adaptasi klien dirumah

  1.  Faktor keluarga.

Menurut penelitian (di Inggris dan Amerika),  keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi seperti bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan, menyebabkan 57% penderita kembali kambuh dalam waktu 9 bulan. Sebaliknya keluarga dengan ekspresi emosi yang rendah, hanya 17% penderita yang kambuh. Selain itu faktor yang berpengaruh juga adalah perubahan stres, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

  1. Faktor masyarakat.

Faktor masyarakat lebih banyak berkaitan dengan stigma negatif yang tertuju kepada penderita gangguan kejiwaan. Penderita dijuluki orang gila atau stres, dianggap membahayakan, menakutkan, dan menjadi bahan olok-olokan. Semua stigma itu, justru mempersempit kehidupan sosial mereka yang semestinya dibantu dan diperbaiki. Mereka menjadi sulit mendapat pekerjaan, merasa malu bergaul, takut salah, dan merasa tidak berguna.

Menurut Murphy,MF & Moller, MD (1993), faktor resiko yang menyebabkan kekambuhan pasien gangguan jiwa adalah :

  1. Faktor resiko kesehatan.
    1. Gangguan sebab dan akibat berpikir.
    2. Gangguan proses informasi.
    3. Gizi buruk.
    4. Kurang tidur.
    5. Keletihan.
    6. Kurang olah raga.
    7. Efek samping pengobatan yang tidak dapat ditoleransi.
    8. Faktor resiko lingkungan.
      1. Kesulitan keuangan.
      2. Kesulitan keuangan.
      3. Perubahan yang menimbulkan stress dengan peristiwa kehidupan.
      4. Ketrampilan kerja yang buruk.
      5. Tidak memiliki transportasi.
      6. Ketrampilan sosial yang buruk, isolasi, social, dan kesepian.
      7. Kesulitan interpersonal.
      8. Faktor  resiko perilaku dan emosional.
        1. Tidak ada kontrol dan perilaku agresif.
        2. Perubahan mood.
        3. Pengobatan dan penatalaksanaan gejala yang buruk.
        4. Konsep diri yang rendah.
        5. Penampilan dan tindakan yang berbeda.
        6. Perasaan putus asa.

 E.     PENCEGAHAN KEKAMBUHAN

    1. Aktivitas teratur/terjadual
    2. Perhatikan kegiatan sehari-hari pasien
    3. Jadualkan kegiatan sehari-hari pasien (menyapu, mengepel, mencuci pakaian sendiri, dll)
    4. Beri pujian jika pasien berhasil
      1. Minum obat teratur dan sesuai aturan
      2. Perhatikan dosis, cara, dan waktu minum obat
      3.  Dorong pasien untuk meminum obat secara mandiri
      4. Beri pujian jika pasien bisa minum obat secara mandiri
      5.  Kontrol teratur
      6. Lakukan kontrol secara teratur ke RS sebelum obat habis
        1. Dukungan keluarga
        2. Dukung pasien dalam segala aktivitas yang positif
        3. Tetap memberi semangat kepada pasien
        4. Dukung pasien untuk kontrol teratur

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Nadeed, M., Akter, K. A., Tabassum, F., Malwa, R., & Rahman, M. (2012). Factors contributing the outcome of Schizophrenia in developing and developed countries: A brief review. International Current Pharmateutical Journal, 1(2), 81-85.

 

Sheewangisaw, Z. (2012). Prevalence and Associated Factors of Relapse in Patent with Schizophernia At Amanuel Mental Specialized Hospital. Congress on Public Health, 1(1), 1-10.

 

Cynthia M. Taylor, Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan, EGC, Jakarta, 2010

 

Intansari Nurjanah, Pedoman Gangguan Jiwa, Mocomedia, Yogyakarta, 2004

 

Nanda International, Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011, EGC, Jakarta, 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: