Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

       Pengkajian pada asuhan keperawatan intranatal dilakukan pada 26 Februari 2013 pukul 20.30 WIB di kamar bersalin. Pengkajian terhadap ibu dilakukan setiap kali memasuki kala persalinan yaitu manajemen pada kala 1, kala 2, kala 3, dan kala 4. Data pengkajian diperoleh dari catatan medis, ataupun pernyataan klien dan keluarga. Pada kasus Ny. B, klien sudah merasa kenceng-kenceng sejak tanggal 25 Februari 2013 pukul 21.00 WIB. Lendir darah keluar jam 12.00 WIB tanggal 26 Februari 2012. Pasien datang dalam fase laten pembukaan 2 cm, selaput ketuban belum pecah.

       Pada pemeriksaan keadaan umum klien dalam keadaan sadar, tidak anemis, TD 120/70 mmHg, RR 16 x/menit, dan nadi 92x/menit. Palpasi pada abdomen teraba janin tunggal, memanjang, presentasi kepala, kepala telah turun teraba 4/5 bagian, teraba punggung kiri, TFU 32 cm, dengan his 2-3x dalam 10 menit selama 20-40 detik. DJJ 136 kali/menit. Hasil pemeriksaan dalam : vulva uretra tenang, dinding vagina licin, serviks teraba tipis, pembukaan 2 cm, selaput ketuban belum pecah, lendir darah sudah keluar, janin tunggal memanjang, presentasi kepala 4/5 bagian, penurunan kepala di HI-HII. Ketuban pecah pada pukul 22.00 WIB.

       Ny S mengalami proses persalinan dengan indikasi kala I lama karena terhitung sejak 26 Februari 2013 pukul 12.00 WIB sampai dengan tanggal pengkajian klien belum mengalami pembukaan 4 cm pada jalan lahir. Hal ini disebut dengan fase laten memanjang yaitu pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam in partu dengan HIS teratur3. Lama kala I pada Ny. B adalah 17 jam 45 menit.

       Selain itu ukuran tinggi fundus uterus klien tidak sesuai dnegan umur kehamilan. TFU klien 32 cm jika dihitung dengan rumus McDonald usia kehamilan Ny B adalah 36 minggu 4 hari, namun jika dihitung dari HPHT usia kehamilan sudah mencapai 38 minggu.

 

 

  1. Masalah Keperawatan

       Berdasarkan data-data pengkajian yang telah didapatkan pada setiap kala persalinan, ditemukan 5 diagnosa keperawatan yaitu sebagai berikut :

  1. KALA I

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional

Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus dan proses pembukaan jalan lahir

  1. KALA II

Nyeri berhubungan dengan tekanan mekanik pada bagian presentasi

  1. KALA III

Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan di jalan lahir

  1. KALA IV

Resiko perdarahan maternal berhubungan dengan pelepasan plasenta

 

       Pada kala I klien mengalami ansietas. Berdasarkan pengkajian dengan melakukan wawancara, klien mengatakan bahwa ini kelahiran ini merupakan kelahiran pertama kali pada klien. Ansietas biasanya terjadi ketika ibu belum pernah mengalami persalinan sebelumnya atau trauma dengan persalinan sebelumnya. Ansietas yang tidak teratasi dapat mempengaruhi kondisi ibu dan janin. Respon-respon fisiologis terhadap kecemasan yang dapat mempengaruhi proses persalinan antara lain5 :

  1. Pada sistem kardiovaskuler dapat terjadi palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, perasaan ingin pingsan, denyut nadi melemah, tekanan darah turun.
  2. Pada sistem saluran pernapasan dapat terjadi napas cepat, pernapasan dangkal, rasa tertekan pada dada, pembengkakan pada tenggorokan, rasa tercekik dna terengah-engah.
  3. Pada sistem neuromuskuler terjadi insomnia, ketakutan, gelisah, wajah tegang, dan kelemahan secara umum.
  4. Pada sistem gastrointestinal dapat terjadi kehilangan nafsu makan, menolak makan, nausea dan diare, perasaan panas dan dingin pada kulit, muka pucat.

       Ansietas dapat meningkatkan resiko dalam proses persalinan yaitu mengenai keadaan jalan lahir dan bayi yang akan dilahirkan. Banyak wanita takut akan nyeri dalam persalinan sebab mereka tidak mengatahui tentang anatomi dan prosesnya6.

       Intervensi yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan ansietas sehingga ibu dapat kooperatif dengan tindakan perawatan selanjutnya. Dukungan keluarga terutama dari suami sangat penting bagi ibu. Hal ini dapat membuat ibu lebih percaya diri dan persalinan normal dapat diwujudkan. Pada kasus ini Ny B tampak lebih senang ketika suami menunggu klien di tempat tidur.

       Peningkatan spiritual juga dianjurkan untuk membuat ibu lebih tenang dan nyaman. Dukungan spiritual menjadi salah satu intervensi yang utama dalam meredakan ansietas pada Ny B. Salah satu intervensi yang dilakukan untuk meredakan ansietas adalah dengan memberikan dukungan spiritual. Bentuk dari dukungan spiritual yang diberikan pada klien adalah dengan menganjurkan klien untuk berdzikir maupun mengucapkan istighfar. Penelitian yang dilakukan oleh Mardiyono (2009) menunjukkan bahwa dengan terapi dzikir selama 20-25 menit di pagi maupun malam hari, dengan posisi duduk maupun tidur sambil memejamkan mata, efektif untuk menurunkan kecemasan dan memberikan kesejahteraan emosi bagi klien7. Setelah intervensi terapi dzikir dilakukan selama 25 menit kemudia tanda-tanda vital klien diukur, hasilnya TD : 110/80 mmHg, RR : 16 x/menit, H :80 x/menit. Klien merasa lebih tenang dan rileks.

       Adanya kontraksi uterus membuat klien merasa nyeri. Pada saat uterus berkontraksi maka otot-otot uterus menjadi tegang. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri pada saat terjadinya kontraksi uterus antara lain :

  1. Iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri
  2. Peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
  3. Keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas, atau eksitasi).
  4. Prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress.

       Intervensi dilakukan agar klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dirasakan. Bentuk intervensi yang diberikan untuk menghilangkan nyeri adalah mengajarkan ibu untuk melakukan teknik relaksasi bernapas dalam, dan massage pada bagian yang dirasakan nyeri. Selain itu, menyediakan lingkungan yang nyaman seperti menganjurkan posisi miring kiri diharapkan dapat mengurangi nyeri. Setelah dilakukan massage unruk mengurangi nyeri, klien mengatakan merasa lebih nyaman saat dilakukan massage, klien menunjuk skala nyeri berkurang menjadi 6. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa efek dari massage dapat menenangkan otot-otot yang tegang dan meningkatkan aliran darah ke area yang dimassage sehingga asupan oksigen ke area tersebut adekuat8.

       Teknik relaksasi bernapas dalam juga efektif untuk mengurangi nyeri. Klien diajarkan menggunakan teknik bernapas dalam setiap merasakan nyeri baik pada kala I maupun kala III. Relaksasi bernapas dalam merupakan terapi umum non farmakologi yang digunakan untuk segala kondisi nyeri. Teknik bernapas dalam juga efektif dalam menenangkan otot dari ketegangan. Nyeri yang dirasakan oleh klien pada kala II setelah diberikan intervensi terapi massage dan relaxation therapy sangat efektif ditandai dengan klien menujuk angka 5 untuk skala nyerinya.

       Pada pukul 05.45 WIB klien memasuki kala II, dimana terjadi pembukaan lengkap dan HIS kuat 5 kali dalam 10 meni dengan lama 45-50 detik. Kontraksi uterus yang kuat menyebabkan klien merasakan nyeri. Nyeri yang dirasakan klien pada kala II tidak terkaji skala nyerinya dikarenakan klien fokus terhadap upaya meneran untuk persalinan bayi. Manajemen menolong persalinan pada kala II difokuskan kepada kekuatan ibu(power), kondisi janin (passenger), dan jalan lahir (passage). Manajemen power atau kekuatan ibu untuk meneran perlu diperhatikan untuk keselamatan janin. Upaya meneran yang tidak adekuat membuat janin dapat tertahan terlalu lama di dalam janin maupun janin terjepit di jalan lahir.

       Pada kala II, intervensi yang tepat untuk mengurangi nyeri dan membantu klien untuk meneran adalah dengan teknik bernapas dalam. Teknik bernapas dalam diikuti dengan upaya meneran yang baik akan meningkatkan kekuatan rahim dalam mendorong bayi lahir. Posisi yang optimal dalam meneran adalah posisi dorsal recumbent, kepala fleksi menempel pada dada, mata terbuka, kaki di tarik ke samping kearah perut, mengambil nafas panjang sebelum meneran dan meneran tanpa mengeluarkan suara atau nafas dari mulut. Klien diajarkan bagaimana upaya meneran yang baik dan hanya meneran saat kontraksi rahim kuat sehingga dapat memaksimalkan upaya untuk mengeluarkan janin. Hasil yang diperoleh dengan intervensi-intervensi yang dilakukan klien dapat meneran dengan baik, dan bayi lahir dengan lama kala II 22 menit. Pada Ny B persalinan termasuk persalinan cepat.

       Pada kala III segera setelah bayi lahir pukul 06.07 WIB, segera dilakukan manajemen aktif kala III pada klien. Pemberian oksitosin 10 unit melalui intramuskular dan melakukan peregangan tali pusat. Plasenta lahir 5 menit setelah bayi lahir. Masase fundus uteri juga dilakukan untuk mengeluarkan sisa-sisa perdarahan dalam rahim. Pemantau darah yang keluar juga dilakukan. Apabila perdarahan lebih dari 400 cc maka segera lakukan kompresi bimanual berikan ergometrin 0,1 mg IM. Pada kasus ini, Ny B mengalami perdarahan sekitar 200 cc dan dilakukan masase fundus uteri untuk mengeluarkan sisa-sisa perdarahan yang tertinggal di dalam rahim.

       Klien mengalami ruptur grade I yaitu hanya disekitar mukosa dinding vagina sehingga dilakukan hecting. Pemberian terapi injeksi dengan methergin 1 ampul diharapkan mengatasi secara aktif pengeluaran plasenta, atoni uterus, dan perdarahan purpureal. Klien juga merasakana nyeri saat dilakukan perbaikan luka dengan hecting di jalan lahir. Klien mengatakan skala nyeri 6 namun tidak lebih sakit daripada melahirkan. Teknik bernapas dalam juga digunakan untuk mengatasi nyeri dalam fase ini. Selain menggunakan teknik bernapas dalam, terapi dengan sentuhan fisik seperti memegangi tangan klien saat dilakukan hecting pun dilakukan. Dengan terapi sentuhan dapat meredakan nyeri dan membuat klien merasa mendapatkan dukungan dalam mengatasi nyerinya7. Hasil akhir yang didapatkan dengan intervensi-intervensi tersebut adalah nyeri teratasi ditandai dengan klien menunjuk skala 3 untuk nyeri.

       Kala IV merupakan pengawasan selama dua jam untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum. Pemantauan perdarahan dilakukan untuk mengetahui jumlah perdarahan dan dapat mengatasi efek jika terjadi banyak perdarahan dengan segera. Intervensi yang dilakukan adalah dengan melakukan palpasi fundus uteri dan massage perlahan setelah pengeluaran plasenta. Hal ini bertujuan untuk memudahkan darah yang tertinggal dalam uterus dapat keluar. Pemantauan tanda-tanda vital juga ditujukan untuk melakukan deteksi dini terjadinya resiko syok hipovolemik akibat perdarahan. Hasil yang diperoleh dari intervensi yang dilakukan adalah masalah resiko cedera maternal teratasi ditandai dengan TFU dua jari dibawah umbilikus.

       Evaluasi dari tindakan yang telah dilakukan untuk masing-masing diagnosa yang muncul pada setiap kala adalah semua masalah teratasi. Namuan ada beberapa intervensi yang masih harus dilanjutkan setelah proses persalinan selesai antara lain : pemantauan tanda-tanda vital, menjaga kebersihan luka, pemantauan kondisi ibu dan TFU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: