Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Fraktur

DEFINISI

Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992).

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price and Wilson, 1995).

ETIOLOGI

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya patah tulang adalah :

Faktor Presipitasi

  • Kekerasan Langsung

Kekerasan secara langsung menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bamper moil, maka tulang akan patah tepat di tempat terjadi benturan tersebut.

  • Kekerasan Tidak Langsung

Kekerasan tidak langsung menyebabkan tulang patah di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kecelakaan atau kekerasan, dan biasanya yang patah adalah bagian yang lemah dalam jalur hantaman vektor kekerasan, contoh apabila seseorang jatuh dari tempat ketinggian dengan posisi tumit kaki terlebih dahulu, maka yang patah selain tumit itu sendiri terjadi patah tulang tibia, fibula, femur dan kemungkinan juga patah tulang vertebra.

  • Kekerasan Akibat Tarikan Otot

Patah tulang oleh karena tarikan otot jarang terjadi, contoh pada patah tulang ini adalah fraktur patela dikarenakan otot lecep dan otot tricep berkontraksi secara mendadak.

Faktor Predisposisi

  • 17 faktor ekstrinsik adalah gaya dari luar yang bereaksi pada tulang serta tergantung dari besarnya, waktu atau lamanya dan arah gaya tersebut dapat menyebabkan patah tulang.
  • Faktor instrensik adalah beberapa sifat penting dari tulang yang menentukan daya tahan timbulnya fraktur, yaitu kapasitas absorbsi dari sendi, daya elastisitas, daya terhadap kelelahan dan aktivitas atau kepadatan, usia lanjut.

PATOFISIOLOGI

Terjadinya trauma yang mengakibatkan fraktur akan dapat merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot fascia, kulit sampai struktur neuromuskuler atau organ- organ penting lainnya, pada saat kejadian kerusakan terjadilah respon peradangan dengan pembentukan gumpulan atau bekuan fibrin , osteoblas mulai muncul dengan jumlah yang besar untuk membentuk suatu metrix baru antara Fragmen- fragmen tulang. Klasifikasi terjadinya fraktur dapat dibedakan yang terdiri dari fraktur tertutup dan fraktur terbuka, fraktur tertutup yaitu tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan kulit, fraktur terbuka yaitu terdapat luka yang menghubungkan luka dengan kulit,(Suriadi & Rita yuliani, 1995).

Adanya fraktur dapat merusak jaringan lunak, pembuluh darah, serabut saraf dan sum-sum tulang, periotium dan kortek tulang. Pada kerusakan jaringan lunak dapat terjadi luka, menyebabkan port de entry yang akan terjadi infeksi dan non infeksi, pada infeksi bisa terjadi delayed union dan malunion, pada non infeksi terjadi union. Pada kerusakan pembuluh darah dapat terjadi perdarahan dan akan mengakibatkan hematoma dan hipovolemik. Pada hematoma terjadi vasodilatasi eksudasi plasma migrasi leukosit yang akan menyebabkan inflamasi, bengkak, terjadi penekanan saraf dan timbul nyeri. Pada hipovolemik dapat terjadi hipotensi akan menyebabkan suplay darah ke otak menurun, kesadaran menurun dan dapat terjadi syok hipovolemik. Pada kerusakan serabut saraf dan sum-sum tulang dapat menyebabkan hilangnya sensasi dan terjadi anesthesia, dapat juga merusak reseptor nyeri dan terjadi nyeri. Pada kerusakkan periostium dan kortek tulang dapat terjadi deformitas, krepitasi dan pemendekan extremitas.

Setelah terjadinya fraktur, periosteum tulang terkelupas dari tulang dan terobek terus kesisi berlawanan dari sisi yang mendapat truma, akibatnya darah keluar melalui celah- celah periosteum dan ke otot disekitarnya dan disertai dengan edema, selain keluar melalui celah periosteum yang rusak, darah juga keluar akibat terputusnya pembuluh darah didaerah terjadinya fraktur.

Infiltrasi dan pembengkakan segera terjadi dan bertambah selam 24 jam pertama, menjelang akhir periode ini otot menjadi hilang elastisitasya, oleh karena itu reposisi lebih mudah dilakukan selama beberapa jam setelah cedera, setelah dilakukan reposisi atau immobilitas maka pertumbuhan atau penyatuan tulang dimulai dengan pembentukan kallus, (Sjamsuhidajat & wim de jong, 1998)

KLASIFIKASI FRAKTUR

Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu dideskripsikan adalah (Mansjoer arif at al, 2000) :

Komplit / tidak komplit

  1. Fraktur kompit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
  2. Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti :

1)        Hairline fracture.

2)        Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di dalamnya, biasanya pada distal radius anak-anak.

3)        Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.

  1. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
  2. Garis patah melintang : trauma angulasi
  3. Garis patah oblik : taruma angulasi
  4. Garis patah spiral : trauma rotasi
  5. Fraktur kompresi : trauma aksial fleksi pada tulang spongiosa
  6. Fraktur avulasi : trauma tarikan / traksi otot pada insersinya di tulang, misal fraktur pada patella
  7. Jumlah garis patah
  8. Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
  9. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.
  10. Fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruris, dan fraktur tulang belakang.
  11. Bergeser / tidak bergeser
  12. Fraktur tidak bergeser, garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.
  13. Fraktur bergeser, terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi :

1)        Dislokasi ad longitudinum cum contructionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping)

2)        Dislokasi ada axim (pergeseran yang membentuk sudut)

3)        Dislokasi ad lotus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh)

  1. Terbuka / tertutup
  2. Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
  3. Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu :

1)        Derajat I : luka < 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk, fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif ringan.

2)        Derajat II : laserasi > 1 cm, kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulsi, fraktur kominutif sedang, kontaminasi senang.

3)        Derajat III : terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskuler, serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas :

a)      Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas, atau fraktur segmental / sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.

b)      Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif.

c)      Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

  1. Komplikasi / tanpa komplikasi, bila ada harus disebut. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma atau akibat pengobatan.

MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinik dari fraktur adalah (Brunner & Suddarth, 2001) :

  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
  2. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
  3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
  4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.

  1. C. KOMPLIKASI

Komplikasi yang terjadi saat terjadi fraktur adalah :

  1. Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring.
  2. Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
  3. Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali.
  4. Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
  5. Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
  6. Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor resiko terjadinya emboli lemak ada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40 tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.
  7. Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam sering terjadi pada individu yang imobiil dalam waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedi.
  8. Infeksi, Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
  9. Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia.

10.  Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri, perubahan tropik dan vasomotor instability.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma.
  2. Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
  3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
  4. Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma).
  5. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal

(Doengoes et al, 2000)

PENATALAKSANAAN

Terdapat penatalaksanaan yang umum dilakukan pada klien dengan fraktur yang terdiri dari 4 konsep dasar yaitu:

  • Rekognisi

Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.

  • Reduksi

Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.

  • Retensi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.

  • Rehabilitasi

Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.

Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF.

Tujuan Pengobatan fraktur :

  1. Reposisi dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi

Tertutup  :  fiksasi eksterna,  Traksi  (kulit, sekeletal)

Terbuka  :  Indikasinya

  1. Reposisi tertutup gagal
  2. Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan
  3. Mobilisasi dini
  4. Fraktur multiple
  5. Fraktur Patologis
    1. Imobilisasi / fiksasi

Tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai Union.

Jenis Fiksasi :

  1. Eksternal / OREF

1)        Gips ( plester cast)

2)        Traksi

Indikasi :

1)        Pemendekan (shortening)

2)        Fraktur unstabel : oblique, spiral

3)        Kerusakan hebat pada kulit dan jaringan  sekitar

Jenis traksi :

1)        Traksi Gravitasi :  U- Slab pada fraktur hunerus

2)        Skin traksi : Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali ke posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas

3)        Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.

Dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut),  pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris)

Komplikasi Traksi :

1)        Gangguan sirkulasi darah beban > 12 kg

2)        Trauma saraf peroneus (kruris)

3)        Sindroma kompartemen

4)        Infeksi tempat masuknya pin

Indikasi OREF :

1)        Fraktur terbuka derajat III

2)        Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

3)        fraktur dengan gangguan neurovaskuler

4)        Fraktur Kominutif

5)        Fraktur Pelvis

6)        Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

7)        Non Union

8)        Trauma multiple

  1. Internal / ORIF :  K-wire, plating, screw, k-nail
    1. Union
    2. Rehabilitasi

Penyembuhan fraktur ada  5 Stadium :

  1. Pembentukan Hematom : kerusakan jaringan lunak dan penimbunan darah
  2. Organisasi Hematom  / Inflamasi. Dalam beberapa jam post fraktur terbentuk fibroblast ke hematom dalam beberapa hari terbentuk kapiler  kemudian terjadi jaringan granulasi
  3. Pembentukan kallus. Fibroblast pada jaringan granulasi  menjadi kolagenoblast kondroblast kemudian dengan partisipasi osteoblast sehat terbentuk kallus (Woven bone)
  4. Konsolidasi  : woven bone berubah menjadi lamellar bone
  5. Remodelling  : Kalus berlebihan menjadi tulang normal

Prinsip terjadinya Union  :

  • Dewasa  :  Kortikal  3 bulan, Kanselus 6 minggu
  • Anak-anak  :  separuh dari orang dewasa

Comments on: "Fraktur" (1)

  1. vetri handayani said:

    Artikelnya bagus tapi alangkah baiknya kalau di cantumkan refferencenya juga,,,^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: