Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Perawat dan Semut

Perawat dan Semut, suatu analogi yang menurutku cukup tepat. Mengapa aku bilang seperti itu, lihat saja kawan, begitu banyak perawat di negeri kita, bak semut berada dalam sebuah koloni. Bahkan mungkin jumlah perawat ataupun calon perawat di negri kita sudah mengalahkan jumlah semut (mungkinkah?). Begitu banyak berdiri institusi pendidikan di daerah-daerah yang mencetak perawat. Dan hal ini dapat menjadi bumerang sendiri bagi perawat.

Kenapa tidak? Kawan-kawan pasti mengeri keadaan ini. Bak perang antar koloni semut.  Ajang kompetitif dengan rekan seprofesi, sungguh sangat memprihatinkan. Saling menjatuhkan, dan ini akan membuat banyak pengangguran perawat. Memang sungguh menjadi ketakutan sendiri pada diri kawan-kawan semua bukan?

Tapi kawan, tunggulah dulu jangan kecewa. Kita masih belum selesai dengan sang Semut. Kawan pernah lihat tentang bagaimana semut bekerja sama dalam membangun koloni?

Hebat bukan?..

Semut hidup berkoloni, di dalam sarang dengan struktur sosial yang sangat maju. dan mereka tidak mengenal konsep semacam diskriminasi, kaya, miskin atau perebutan kekuasaan seperti yang terjadi pada manusia. Semut merupakan salah satu kelompok yang paling “sosial” dalam genus serangga dan hidup sebagai masyarakat yang disebut “koloni”, yang “terorganisasi” luar biasa baik. Tatanan organisasi mereka begitu maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini mereka memiliki per-adaban yang mirip dengan peradaban manusia.

Sama halnya dengan perawat, jumlahnya membludak setiap tahun, dan bisa anda bayangkan berapa jumlahnya yang diluluskan tiap institusi tiap tahunnya. Sungguh angka yang sangat mengesankan, seperti koloni yang mengirim pasukannya untuk menyerbu sebuah objek yang tak lain dan tak bukan adalah rumah sakit. Ironisnya jumlah rumah sakit perbandingannya dengan jumlah perawat sangatlah sedikit.

Apabila kita sadar akan fenomena perawat saat ini, alangkah baiknya kita berpikir kedepannya untuk bagaiman memajukan para perawat yang sekian banyak ini, utamanya dalam bidang keprofesiannya. Agar perawat dan ilmu keperawatan ini tidak dianggap remeh oleh masyarakat luas khususnya di Indonesia.

Banyak sekali perilaku koloni semut yang patut kita contoh. Seperti sistem komunikasi yang sempurna dari semut. Semut menggunakan feromon untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam penelitian yang dilakukan pada makhluk sosial seperti semut, lebah, dan rayap yang hidup berkoloni, respon hewan-hewan ini dalam proses komunikasi digolongkan dalam beberapa kategori utama: mengambil posisi siaga, bertemu, membersihkan, bertukar makanan cair, mengelompok, mengenali, mendeteksi kasta.

Semut, yang membentuk struktur sosial yang tertib dengan berbagai respon ini, menjalani hidup berdasarkan pertukaran berita timbal balik, dan tidak mengalami kesulitan melakukannya. Dapat dikatakan bahwa semut, dengan sistem komunikasi yang mengesankan itu, seratus persen berhasil dalam hal-hal yang kadang tak dapat diselesaikan atau di-sepakati manusia melalui berbicara (misalnya bertemu, bercerita, mem-bersihkan, bertahan dan lain-lain).

Seandainya antar perawat memiliki sistem komunikasi seperti yang dimiliki oleh semut, alangkah dahsyatnya kekuatan perawat diseluruh negeri ini. Bersama dalam membantu menolong pasien. Sungguh jalinan komunikasi yang erat antar perawat dapat membuat informasi terbaru yang ada di keperawatan dapat berkembang pesat.

Kehidupan sosial semut dalam bekerja sama membangun markas koloni juga perlu kita contoh. Sebagai aplikasi dalam dunia keperawatan misalanya, dengan ilmu yang kita punya dapat membangun Home Care Nursing bersama dengan perawat lainnya. Hal ini dapat dijadikan pilihan selain bekerja di rumah sakit. Dengan adanya Home Care Nursing akan dapat membantu masyarakat umum dalam kehidupan kesehatannya selain itu juga dapat menunjukkan eksistensi keperawatan yang mandiri. Tentunya itu dapat dilakukan dengan kerja sama dan komunikasi.

Sungguh semut merupakan hewan yang sangat inspiratif bagi saya. Semt membuat saya berkhayal dan membayangkan bagaimana jika perawat di negeri ini bersatu padu membangun sebuah jebolan terbaru yangh dapat membanggakan ilmu keperawatan.

Comments on: "Perawat dan Semut" (3)

  1. mau komen di blog dewe

  2. Boleh juga, dalam hal sosial semut. Tapi dalam hal yang lainnya, jangan ah. Semut kena angin sedikit saja, berhenti berjalan atau bahkan ikut terbawa angin. Tidak punya kekuatan! Padahal untuk menjadi pohon yang tinggi, badai dan nagin pasti akan meniup dan menerpanya.

    Saya lebih suka, jadilah perawat yang seperti perawat di manapun posisi Saudara. Jadi Bupati, jadi mentri, jadi dirjen, jadi dewan, jadilah perawat yang profesional.

  3. bagus sekali artikelnya…
    dirimu kreatif dan cerdas sekali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: