Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Sistem Penulisan Daftar Rujukan Harvard (Nama dan Tahun)

MALARIA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

Infeksi Malaria masih merupakan problem klinik bagi negara tropik atau sub-tropik dan negara berkembang maupun negara yang yang sudah maju. Di Indonesia penyakit malaria masih menjadi penyakit infeksi utama di Indonesia kawasan Timur, bahkan juga menjadi masalah bagi daerah di Jawa dan Sumatera yang dahulunya sudah dapat dikendalikan. Dengan perkembangan transportasi, mobilisasi penduduk khususnya dengan berkembangnya dunia wisata, infeksi malaria di negara tersebut. Masalah mortalitas malaria berat dan morbiditas mempunyai kaitan erat dengan timbulnya resistensi pengobatan dan kewaspadaan terhadap diagnosa dini penanganannya (Harijanto, 1987).
Kejadian luar biasa malaria masih sering terjadi terutama di daerah yang terjadi perubahan lingkungan, misalnya tambak udang atau ikan yang tidak terpelihara, penebangan pohon bakau sebagai bahan bakar atau memasak garam maupun arang, muara sungai yang tersumbat yang akan menjadi tempat perindukan nyamuk malaria.
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Malaria pada manusia dapat disebabkan P. malariae, P. vivax, P. falciparum, dan P. ovale. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari tribus Anopheles (Wernsdorfer, 1980).
Dari sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles telah ditemukan 67 spesies yang dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan di Indonesia. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta dari ibu hamil kepada bayinya (Takken, 1990).
Agar dapat hidup terus sebagai spesies, parasit malaria harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat penularan. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat nyamuk anopheles yang anthropofilik agar sporogoni dimungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif (Giles, 1993).
Sifat-sifat spesifik parasit berbeda-beda untuk setiap jenis malaria dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. P. falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek, namun menghasilkan parasitemia yang paling tinggi, gejala yang paling berat dan masa inkubasi yang paling pendek. Gametosit P. falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuk parasit ke dalam darah. Gametosit P. falciparum menunjukkan periodisitas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor. P. vivax dan P. ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia rendah, gejala yang lebih ringan dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit P. vivax dan P. ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnozoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps (Giles, 1993).
Setiap spesies malaria terdiri dari berbagai ”strain” yang secara morfologi tidak dapat dibedakan. Strain dari suatu spesies yang menginfeksi vektor lokal, mungkin tidak dapat menginfeksi vektor dari daerah lain. Lamanya masa inkubasi dan pola terjadinya relaps juga berbeda menurut geografi. P. vivax dari daerah Eropa Utara mempunyai masa inkubasi yang lama, sedangkan di Pasifik Barat (Irian Jaya, Chesson Strain) mempunyai pola relaps yang berbeda. Terjadinya resistensi terhadap obat antimalaria juga berbeda menurut strain geografik parasit. Pola resistensi di Irian Jaya juga berbeda misalnya dengan di Sumatera atau Jawa (Werndosfer, 1980).
Laporan pertama mengenai malaria dibuat oleh dokter-dokter militer padaa permulaan abad ke-19. Laporan kemudian adalah tentang adanya wabah malaria seperti di Cirebon pada tahun 1852-1854 (Oemijati, 1991). pemberantasan terutama dilaksanakan dengan obat kina. Studi mengenai malaria yang lebih lengkap berasal dari permulaan abad ke-20, khususnya mengenai malaria pada pekerja perkebunan di Sumatera Utara (Soenarlan dan Gandahusada, 1990).
Secara umum dapat dikatakan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat terkena malaria. Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin sebenarnya berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan terhadap gigitan nyamuk. Bayi di daerah endemik malaria mendapat perlindungan antibodi maternal yang diperoleh secara transplasental.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan menambah resiko malaria (Molineaux, 1980). Malaria pada wanita hamil mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan ibu dan anak. Antara lain berat badan lahir yang rendah, abortus, partus prematur, dan kematian janin intrauterin (Gregor, 1984).
Malaria kongenital sebenarnya sangat jarang dan kasus ini berhubungan dengan kekebalan yang rendah pada ibu. Secara proporsional insiden malaria kongenital lebih tinggi di daerah prevalensi malaria lebih rendah (Gregor, 1984).
Faktor-faktor genetik pada manusia dapat mempengaaruhi terjadinya malaria dengan pencegahan invasi parasit ke dalam sel, mengubah respon imunologi atau mengurangi keterpaparan terhadap vektor (Molineaux, 1989).
Bebarapa faktor genetik bersifat protektif terhadap malaria adalah :
Golongan darah Duffy negatif,
Haemaglobin S yang menyebabkan sickle cell anemia,
Thalasemia (alfa dan beta),
Defisiensi G-6-DP (glucose-6-phosphate dehydrogenase),
Ovalositosis (di Papua Nugini dan mungkin juga di Irian Jaya).
Keadaan gizi agaknya tidak menambah kerentanan terhadap malaria. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria serebral dibandingkan dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk (Murray, 1978).
Selain faktor genetik, terjadinya malaria juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, faktor lingkungan biologi, dan faktor lingkungan sosial-budaya.
Faktor lingkungan fisik yaitu faktor geografi dan meteorologi di Indonesia sangat menguntungkan transmisi di Indonesia. Pengaruh suhu ini berbeda bagi setiap spesies. Pada suhu 26,7°C masa inkubasi ekstrinsik adalah 10-12 hari untuk P. falciparum dan 8-11 hari untuk P. vivax, 14-15 hari P. malariae dan P. ovale (Pampana, 1969).
Dari segi faktor lingkungan biologi adalah tumbuhan bakau, lumut, ganggang, dan berbagai tumbuhan lain dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan makhluk hidup lainnya. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah, gambusia, nila, mujair, dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Adanya ternak seperti sapi, kerbau, dan babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak tersebut dikandangkan tidak jauh dari rumah (Depkes R.I, 1986).
Lingkungan sosial-budaya adalah tentang kebiasaan berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik dan eksofilik akan memudahkan gigitan nyamuk. Tingkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria antara lain dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah, dan menggunakan obat nyamuk. Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan, dan pembangunan pemukiman baru atau transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan menguntungkan penularan malaria (Depkes R.I, 1986).
Dalam menangani penyakit malaria di daerah-daerah telah dilakukan upaya-upaya pemberantasan. Upaya pemberantasan yang dilakukan saat ini adalah menemukan penderita sedini mungkin dan langsung memberikan pengobatan. Upaya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat telah dilakukan melalui pembentukkan pos pelayanan terdekat berupa Pos Obat Desa yang mengikutsertakan masyarakat dalam menemukan sampai mengobati kasus malaria. Sedangkan untuk memutuskan rantai penularan dilakukan upaya pemberantasan nyamuk penular malaria baik nyamuk dewasa melalui penyemprotan dinding rumah maupun pemberantasan jentik tidak tumbuh atau penyemprotan bahan pembunuh jentik nyamuk. Selain itu, dilakukan upaya untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk melalui promosi penggunaan kelambu di masyarakat, penggunaan obat penolak gigitan nyamuk.
Tujuan dari pemberantasan malaria adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat. Antara tahun 1959 dan 1968 Indonesia, sesuai dengan kebijakan WHO yang diputuskan dalam World Health Assembly (WHA) 1955, melaksanakan program pembasmian malaria di Jawa-Bali. Program pembasmian ini pada permulaannya berhasil, namun kemudian mengalami berbagai hambatan, baik yang bersifat administratif maupun teknis, sehingga pada tahun 1969 ditinjau kembali oleh WHA. Meskipun pembasmian tetap menjadi tujuan akhir, cara-cara yang ditempuh disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan masing-masing negara dan wilayah (Nakajima, 1998).
Pembasmian malaria berlangsung dalam empat fase :
Fase persiapan : pengenalan wilayah, penyediaan tenaga, bahan, alat, dan kendaraan.
Fase penyerangan : penyemprotan rumah dengan insektisida yang mempunyai efek residual disertai dengan PCD dan ACD.
Fase konsolidasi : fase ini dimulai bila API (Annual Parasite Incnidence) kurang dari 1%. Fase ini berakhir bila selama tiga tahun berturut-turut tidak ditemukan lagi kasus malaria.
Fase pemeliharaan : fase ini dapat berjalan beberapa tahun untuk mempertahankan hasil yang dicapai sampai dinyatakan bebas malaria oleh tim WHO setelah beberapa syarat dipenuhi, antara lain berfungsinya suatu jaringan pelayanan kesehatan primer (WHO, 1997).
Untuk pelaksanaan program pembasmian malaria dibutuhkan suatu organisasi tersendiri yang disebut KOPEM (Komando Operasi Pembasmi Malaria) yang mempunyai unit sampai di desa. Sejak tahun 1968 KOPEM telah dibubarkan dan program pemberantasan malaria diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan umum yang ada (WHO, 1997).
Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai usaha terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan yang utama.
Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria adalah
Menghindari atau mengurangi kontak atau gigitan nyamuk Annopheles, (pemakaian kelambu, penjaringan rumah, repelen, obatnyamuk, dsb),
Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan insektisida),
Membunuh jentik (kegiatan antilarva) baik secara kimiawi (larvasida) maupun biologis (ikan, tumbuhan, jamur, bakteri),
Mengurangi tempat perindukkan nyamuk,
Mengobati penderita malaria,
Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis), dan
Vaksinasi (WHO-CTD, 1996).
Konferensi Malaria Global yang dihadiri semua Menteri Kesehatan di Dunia yang diadakan di Amsterdam dalam tahun 1992 telah menetapkan Strategi Global Pemberantasan Malaria sebagai berikut :
Menyediakan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat,
Merencanakan dan melaksanakan upaya pencegahan yang selektif dan berkesinambungan, termasuk pengendalian vektor
menemukan secara dini, menanggulangi atau mencegah wabah malaria, dan
Meningkatkan kemampuan lokal di bidang penelitian dasar dan terapan agar dimungkinkan terlaksananya penilaian keadaan malaria secara tepat, khususnya faktor ekologis, sosial ekonomik penyakit malaria (WHO-CTD, 1996).
Para pengelola kesehatan di setiap tingkat harus dapt menyesuaikan strategi ini pada tingkat lokal dan para petugas kesehatan harus mendapat pendidikian tambahan untuk menghadapi malaria secara efektif.
Direktur Jenderal WHO Dr. Gro Harlem Bruntland telah mengambil inisiatif ”Roll Black Malaria” untuk meningkatkan pembangunan pelayanan kesehatan dan kerjasama intersektoral dalam rangka pemberantasan malaria. Para pemimpin dunia juga telah bersepakat untuk mengurangi kematian akibat malaria sampai setengahnya dalam tahun 2010 dan separuhnya lagi dalam tahun 2015 (Nakajima, 1998).
DAFTAR PUSTAKA

Depkes R. I. Malaria, jilid I. Epidemiologi. Jakarta : Dit Jen PPM-PLP, 1986.
Gilles HM. Epidemiology of Malaria. In. Gilles HM and Warrell DA (eds). Bruce Chwatt’s Essential Malariology, 3nd edition. London, Edward Arnold, 1993 : 13-14.
Harijanto, SpPD, Dr. Malaria. Jakarta EGC. 2000.
Mc. Gregorr IA. Epidemiology Malaria and Pregnancy. American Journal of Tropical Medidine and Hygiene, 1984; 33: 517-525.
Molineaux L. The epidemiology of human malaria as an explanation of its distribution, including some implications for its control. In: Wernsdorfer WH and Mc Gregorr IA (eds) Principles and Practice of Malariology. Edinburgh : Churchill Livingstone, 1988 (II) :913-989.
Molineaux L and Gramiccia G. The Garki Project, Research in the Epidemiology and Control of Malaria in the Suddan Savana of West Africa, Geneva : World Health Organization, 1980.
Murray J et. al. The biological suppression of malaria : an ecological and nutritional interrelation of a host and two parasities. American Journal of Clinical Nutrition, 1978; 31 :363-1366.
Nakajima H. United against malaria. World Health vol 51 no. 3 May-June 1998.
Oemijati, Sri. Masalah malaria di Indonesia. Kumpulan Makalah Simposium Malaria. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1991.
Pampana, E. A Textbook of Malaria Eradication. Second Edition. Londaon : Oxford University press, 1969 : 45-53.
Soenarlan dan Gandahusada S. The fight againts malaria in Indonesia. Jakarta; National Institute of Health Research and Development, 1990.
Takken W and Knols BGJ. A taxonomic and bionomic review of the malaria vectors of Indonesia. Dalam W Takken et. al. (eds). Environmental measures for malaria control in Indonesia. A historical review on species sanitation. Wageningen Agricultural University Papers, 1990 : 1-93.
Wernsdorfer WH. The importance of malaria in the world. In: Kreier JP (ed). Malaria, Vol 1. London : Academic Press, 1980 : 1-93.
WHO. World Malaria Situation 1994. Weekly Epidemiological Record No. 36, 5 September 1997.
WHO-CTD. Malaria in the World: Situation and Recent Progress. Report for the UN General Assembly. Geneva: Division of Tropical of Control of Tropical Diseases. WHO, 1996.

Sistem Penulisan Daftar Rujukan Vancouver (Nomor Arabic)

MALARIA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

Infeksi Malaria masih merupakan problem klinik bagi negara tropik atau sub-tropik dan negara berkembang maupun negara yang yang sudah maju. Di Indonesia penyakit malaria masih menjadi penyakit infeksi utama di Indonesia kawasan Timur, bahkan juga menjadi masalah bagi daerah di Jawa dan Sumatera yang dahulunya sudah dapat dikendalikan. Dengan perkembangan transportasi, mobilisasi penduduk khususnya dengan berkembangnya dunia wisata, infeksi malaria di negara tersebut. Masalah mortalitas malaria berat dan morbiditas mempunyai kaitan erat dengan timbulnya resistensi pengobatan dan kewaspadaan terhadap diagnosa dini penanganannya1.
Kejadian luar biasa malaria masih sering terjadi terutama di daerah yang terjadi perubahan lingkungan, misalnya tambak udang atau ikan yang tidak terpelihara, penebangan pohon bakau sebagai bahan bakar atau memasak garam maupun arang, muara sungai yang tersumbat yang akan menjadi tempat perindukan nyamuk malaria.
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus Plasmodium. Malaria pada manusia dapat disebabkan P. malariae, P. vivax, P. falciparum, dan P. ovale. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari tribus Anopheles2-1.
Dari sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles telah ditemukan 67 spesies yang dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan di Indonesia. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta dari ibu hamil kepada bayinya3.
Agar dapat hidup terus sebagai spesies, parasit malaria harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat penularan. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat nyamuk anopheles yang anthropofilik agar sporogoni dimungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif4-1.
Sifat-sifat spesifik parasit berbeda-beda untuk setiap jenis malaria dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. P. falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek, namun menghasilkan parasitemia yang paling tinggi, gejala yang paling berat dan masa inkubasi yang paling pendek. Gametosit P. falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuk parasit ke dalam darah. Gametosit P. falciparum menunjukkan periodisitas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor. P. vivax dan P. ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia rendah, gejala yang lebih ringan dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit P. vivax dan P. ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnozoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps4-2.
Setiap spesies malaria terdiri dari berbagai ”strain” yang secara morfologi tidak dapat dibedakan. Strain dari suatu spesies yang menginfeksi vektor lokal, mungkin tidak dapat menginfeksi vektor dari daerah lain. Lamanya masa inkubasi dan pola terjadinya relaps juga berbeda menurut geografi. P. vivax dari daerah Eropa Utara mempunyai masa inkubasi yang lama, sedangkan di Pasifik Barat (Irian Jaya, Chesson Strain) mempunyai pola relaps yang berbeda. Terjadinya resistensi terhadap obat antimalaria juga berbeda menurut strain geografik parasit. Pola resistensi di Irian Jaya juga berbeda misalnya dengan di Sumatera atau Jawa2-2.
Laporan pertama mengenai malaria dibuat oleh dokter-dokter militer padaa permulaan abad ke-19. Laporan kemudian adalah tentang adanya wabah malaria seperti di Cirebon pada tahun 1852-18545. Pemberantasan terutama dilaksanakan dengan obat kina. Studi mengenai malaria yang lebih lengkap berasal dari permulaan abad ke-20, khususnya mengenai malaria pada pekerja perkebunan di Sumatera Utara6.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat terkena malaria. Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin sebenarnya berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan terhadap gigitan nyamuk. Bayi di daerah endemik malaria mendapat perlindungan antibodi maternal yang diperoleh secara transplasental.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respons imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan menambah resiko malaria7. Malaria pada wanita hamil mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan ibu dan anak. Antara lain berat badan lahir yang rendah, abortus, partus prematur, dan kematian janin intrauterin8-1.
Malaria kongenital sebenarnya sangat jarang dan kasus ini berhubungan dengan kekebalan yang rendah pada ibu. Secara proporsional insiden malaria kongenital lebih tinggi di daerah prevalensi malaria lebih rendah8-2.
Faktor-faktor genetik pada manusia dapat mempengaruhi terjadinya malaria dengan pencegahan invasi parasit ke dalam sel, mengubah respon imunologi atau mengurangi keterpaparan terhadap vektor9.
Bebarapa faktor genetik bersifat protektif terhadap malaria adalah :
Golongan darah Duffy negatif,
Haemaglobin S yang menyebabkan sickle cell anemia,
Thalasemia (alfa dan beta),
Defisiensi G-6-DP (glucose-6-phosphate dehydrogenase),
Ovalositosis (di Papua Nugini dan mungkin juga di Irian Jaya).
Keadaan gizi agaknya tidak menambah kerentanan terhadap malaria. Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria serebral dibandingkan dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk10.
Selain faktor genetik, terjadinya malaria juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, faktor lingkungan biologi, dan faktor lingkungan sosial-budaya.
Faktor lingkungan fisik yaitu faktor geografi dan meteorologi di Indonesia sangat menguntungkan transmisi di Indonesia. Pengaruh suhu ini berbeda bagi setiap spesies. Pada suhu 26,7°C masa inkubasi ekstrinsik adalah 10-12 hari untuk P. falciparum dan 8-11 hari untuk P. vivax, 14-15 hari P. malariae dan P. ovale11.
Dari segi faktor lingkungan biologi adalah tumbuhan bakau, lumut, ganggang, dan berbagai tumbuhan lain dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan makhluk hidup lainnya. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah, gambusia, nila, mujair, dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Adanya ternak seperti sapi, kerbau, dan babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak tersebut dikandangkan tidak jauh dari rumah12-1.
Lingkungan sosial-budaya adalah tentang kebiasaan berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik dan eksofilik akan memudahkan gigitan nyamuk. Tingkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria antara lain dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah, dan menggunakan obat nyamuk. Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan, dan pembangunan pemukiman baru atau transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan menguntungkan penularan malaria12-2.
Dalam menangani penyakit malaria di daerah-daerah telah dilakukan upaya-upaya pemberantasan. Upaya pemberantasan yang dilakukan saat ini adalah menemukan penderita sedini mungkin dan langsung memberikan pengobatan. Upaya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat telah dilakukan melalui pembentukkan pos pelayanan terdekat berupa Pos Obat Desa yang mengikutsertakan masyarakat dalam menemukan sampai mengobati kasus malaria. Sedangkan untuk memutuskan rantai penularan dilakukan upaya pemberantasan nyamuk penular malaria baik nyamuk dewasa melalui penyemprotan dinding rumah maupun pemberantasan jentik tidak tumbuh atau penyemprotan bahan pembunuh jentik nyamuk. Selain itu, dilakukan upaya untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk melalui promosi penggunaan kelambu di masyarakat, penggunaan obat penolak gigitan nyamuk.
Tujuan dari pemberantasan malaria adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat. Antara tahun 1959 dan 1968 Indonesia, sesuai dengan kebijakan WHO yang diputuskan dalam Wold Health Assembly (WHA) 1955, melaksanakan program pembasmian malaria di Jawa-Bali. Program pembasmian ini pada permulaannya berhasil, namun kemudian mengalami berbagai hambatan, baik yang bersifat administratif maupun teknis, sehingga pada tahun 1969 ditinjau kembali oleh WHA. Meskipun pembasmian tetap menjadi tujuan akhir, cara-cara yang ditempuh disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan masing-masing negara dan wilayah13-1.
Pembasmian malaria berlangsung dalam empat fase :
Fase persiapan : pengenalan wilayah, penyediaan tenaga, bahan, alat, dan kendaraan.
Fase penyerangan : penyemprotan rumah dengan insektisida yang mempunyai efek residual disertai dengan PCD dan ACD.
Fase konsolidasi : fase ini dimulai bila API (Annual Parasite Incnidence) kurang dari 1%. Fase ini berakhir bila selama tiga tahun berturut-turut tidak ditemukan lagi kasus malaria.
Fase pemeliharaan : fase ini dapat berjalan beberapa tahun untuk mempertahankan hasil yang dicapai sampai dinyatakan bebas malaria oleh tim WHO setelah beberapa syarat dipenuhi, antara lain berfungsinya suatu jaringan pelayanan kesehatan primer14-1.
Untuk pelaksanaan program pembasmian malaria dibutuhkan suatu organisasi tersendiri yang disebut KOPEM (Komando Operasi Pembasmi Malaria) yang mempunyai unit sampai di desa. Sejak tahun 1968 KOPEM telah dibubarkan dan program pemberantasan malaria diintegrasikan ke dalam pelayanan kesehatan umum yang ada14-2.
Program pemberantasan malaria dapat didefinisikan sebagai usaha terorganisasi untuk melaksanakan berbagai upaya menurunkan penyakit dan kematian yang diakibatkan malaria, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan yang utama.
Berbagai kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria adalah
Menghindari atau mengurangi kontak atau gigitan nyamuk Annopheles, (pemakaian kelambu, penjaringan rumah, repelen, obatnyamuk, dsb),
Membunuh nyamuk dewasa (dengan menggunakan insektisida),
Membunuh jentik (kegiatan antilarva) baik secara kimiawi (larvasida) maupun biologis (ikan, tumbuhan, jamur, bakteri),
Mengurangi tempat perindukkan nyamuk,
Mengobati penderita malaria,
Pemberian pengobatan pencegahan (profilaksis), dan
Vaksinasi15-1.
Konferensi Malaria Global yang dihadiri semua Menteri Kesehatan di Dunia yang diadakan di Amsterdam dalam tahun 1992 telah menetapkan Strategi Global Pemberantasan Malaria sebagai berikut :
Menyediakan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat,
Merencanakan dan melaksanakan upaya pencegahan yang selektif dan berkesinambungan, termasuk pengendalian vektor
menemukan secara dini, menanggulangi atau mencegah wabah malaria, dan
Meningkatkan kemampuan lokal di bidang penelitian dasar dan terapan agar dimungkinkan terlaksananya penilaian keadaan malaria secara tepat, khususnya faktor ekologis, sosial ekonomik penyakit malaria15-2.
Para pengelola kesehatan di setiap tingkat harus dapt menyesuaikan strategi ini pada tingkat lokal dan para petugas kesehatan harus mendapat pendidikian tambahan untuk menghadapi malaria secara efektif.
Direktur Jenderal WHO Dr. Gro Harlem Bruntland telah mengambil inisiatif ”Roll Black Malaria” untuk meningkatkan pembangunan pelayanan kesehatan dan kerjasama intersektoral dalam rangka pemberantasan malaria. Para pemimpin dunia juga telah bersepakat untuk mengurangi kematian akibat malaria sampai setengahnya dalam tahun 2010 dan separuhnya lagi dalam tahun 201513-2.

DAFTAR PUSTAKA

Harijanto, SpPD, Dr. Malaria. Jakarta EGC. 2000.
Wernsdorfer WH. The importance of malaria in the world. In: Kreier JP (ed). Malaria, Vol 1. London : Academic Press, 1980 : 1-93.
Takken W and Knols BGJ. A taxonomic and bionomic review of the malaria vectors of Indonesia. Dalam W Takken et. al. (eds). Environmental measures for malaria control in Indonesia. A historical review on species sanitation. Wageningen Agricultural University Papers, 1990 : 1-93.
Gilles HM. Epidemiology of Malaria. In. Gilles HM and Warrell DA (eds). Bruce Chwatt’s Essential Malariology, 3nd edition. London, Edward Arnold, 1993 : 13-14.
Oemijati, Sri. Masalah malaria di Indonesia. Kumpulan Makalah Simposium Malaria. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1991.
Soenarlan dan Gandahusada S. The fight againts malaria in Indonesia. Jakarta; National Institute of Health Research and Development, 1990.
Molineaux L and Gramiccia G. The Garki Project, Research in the Epidemiology and Control of Malaria in the Suddan Savana of West Africa, Geneva : World Health Organization, 1980.
Mc. Gregorr IA. Epidemiology Malaria and Pregnancy. American Journal of Tropical Medidine and Hygiene, 1984; 33: 517-525.
Molineaux L. The epidemiology of human malaria as an explanation of its distribution, including some implications for its control. In: Wernsdorfer WH and Mc Gregorr IA (eds) Principles and Practice of Malariology. Edinburgh : Churchill Livingstone, 1988 (II) :913-989.
Murray J et. al. The biological suppression of malaria : an ecological and nutritional interrelation of a host and two parasities. American Journal of Clinical Nutrition, 1978; 31 :363-1366.
Pampana, E. A Textbook of Malaria Eradication. Second Edition. Londaon : Oxford University press, 1969 : 45-53.
Depkes R. I. Malaria, jilid I. Epidemiologi. Jakarta : Dit Jen PPM-PLP, 1986.
Nakajima H. United against malaria. World Health vol 51 no. 3 May-June 1998.
WHO. World Malaria Situation 1994. Weekly Epidemiological Record No. 36, 5 September 1997.
WHO-CTD. Malaria in the World: Situation and Recent Progress. Report for the UN General Assembly. Geneva: Division of Tropical of Control of Tropical Diseases. WHO, 1996.

Comments on: "" (1)

  1. tq…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: