Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ketidakefektifan jalan nafas merupakan suatu keadaan dimana seorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernafsan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif. Ketidakefektifan jalan nafas dapat disebabkan karena adanya secret pada saluran nafas sehingga mengganggu sirkulasi pernapasan.
Pada kasus ibu hamil terjadi penekanan pada diafragma sehingga apabila terdapat secret pada saluran nafas bagian atas, ibu hamil tidak dapat melakukan batuk efektif secara optimal. Selain itu, apabila kerja diafragma tidak optimal (kontaksi dan relaksasinya terbatas) maka tidak jarang ibu hamil mengalami sesak nafas.
Penanganan utama bagi ibu hamil yang mengalami ketidakefektifan jalan nafas adalah dengan melakukan beberapa intervensi keperawatan bagi si ibu hamil. Beberapa penjelasan yang akan dilakukan dikulas di penjelasan selanjutnya.
Dalam pelaksanaan praktek klinik keperawatan, mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai prosedur, dapat mengambil keputusan secara krittis serta mampu menerapkan proses keperawatan dalam penanganan pasien khususnya seperti pada kasus ibu hamil yang mengalami ketidakefektifan jalan nafas.

Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan dispnea (ketidakefektifan jalan nafas).

Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan kritis pada ibu hamil dengan gangguan dispnea (ketidakefektifan jalan nafas).
Mahasiswa mampu malakukan diagnose keperawatan kritis pada ibu hamil dengan gangguan dispnea (ketidakefektifan jalan nafas).
Mahasiswa dapat merumuskan tujuan dan intervensi keperawatan kritis pada ibu hamil dengan gangguan dispnea (ketidakefektifan jalan nafas).

BAB II
TINJAUAN TEORI
Definisi
Asma
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara. Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001). Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.
Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.
Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara.
Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
Sel-sel tertentu di dalam saluran udara (terutama sel mast) diduga bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini. Sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot polos, peningkatan pembentukan lender, perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki. Sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.
Tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama terjadi jika orang tersebut melakukan olahraga atau berada dalam cuaca dingin. Stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien. Sel lainnya (eosnofil) yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.

Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
1)     Tingkat I
a.    Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b.    Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
2)    Tingkat II
Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3)     Tingkat III
Tanpa keluhan.
Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4)     Tingkat IV
Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
5)     Tingkat V
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :Kontraksi otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, taki kardi.

Kehamilan
Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm (Guyton, 1997).
Kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma (Kushartanti, 2004).
Masa kehamilan dimulai dan konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terahir (Hanifa, 2000).
Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbuhan fisik bayi. Masing-masing fase tersebut disebut trimester.
Trimester Pertama (Minggu 0 – 12)
Periode Germinal (Minggu 0 – 3)
Pembuahan telur oleh sperma terjadi pada minggu ke-2 dari hari pertama menstruasi terakhir. Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba fallopi dan menempel ke dinding uterus (endometrium).
Periode Embrio (Minggu 3 – 8 )
Sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk. Mata, mulut dan lidah terbentuk. Hati mulai memproduksi sel darah.Janin berubah dari blastosis menjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar
Periode Fetus (Minggu 9 – 12)
Semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling berkait. Aktivitas otak sangat tinggi.
Trimester kedua (Minggu 12 – 24)
Pada minggu ke-18 ultrasongrafi sudah bisa dilakukan untuk mengecek kesempurnaan janin, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar.
Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pada minggu ke 20 – 21.
Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup.
Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30 cm.

Trimester ketiga (24 -40)
Semua organ tumbuh sempurna
Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi (‘nendang’, ‘nonjok’) serta periode tidur dan bangun. Masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun.
Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
Pada bulan ke-9, janin mengambil posisi kepala di bawah, siap untuk dilahirkan.
Berat bayi lahir berkisar antara 3 -3,5 kg dengan panjang 50 cm.

Etiologi Ketidakefektifan Jalan Nafas Pada Kehamilan
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh :
1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
2) Pembengkakan membran bronkus.
3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkriolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi tertentu, selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti eksim, dermatitis, demam tinggi dan klien dengan riwayat asma. Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adnya faktor-faktor pencetus yang tidak jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik, dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma.

Manifestasi Klinis Pada Asma
Dispnea
Suatu istilah yang mengambarkan suatu persepsi subjektif mengenai ketidaknyamanan bernapas yang terdiri dari sensasi yang berbeda intensitinya. Perasaan sulit bernapas,rasa penuh di dada, dada terasa berat dan sempit, dan tidak nyaman merupakan gejala utama penyakit kardiopulmonar (napas pendek dan merasa tercekik). Dispnea juga dapat terjadi jika otot pernapasan melemah.
Penyebab dispnea antara lain :
Adanya obstruksi atau penyumbatan saluran napas, biasanya disertai dengan suara wheezing atau stridor.
Gangguan inflasi paru (gangguan pada dinding dada, neuromuscular, dan rangka dinding dada).
Gangguan pleura (efusi pleura, fibrosis pleura dan pneumothoraks).
Kelainan paru-paru (keadaan kekurangan surfaktan).
Dampak penyakit (misalnya asma) atau kondisi lain (ibu hamil).
Paling sedikit ada 3 faktor yang sering menyertai perkembangan sensasi dispnea. Yaitu, kelainan gas-gas pernapasan dalam cairan tubuh, jumlah kerja yang harus dibentuk oleh otot-otot pernapasan untuk menghasilkan ventilasi yang memadai; dan  keadaan dirinya sendiri.
Pembagian dispnea  antara lain :
Dispnea akut : sesak napas yang berlangsung kurang dari 1 bulan.
Dispnea kronik : sesak napas yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
Batuk
Batuk bukanlah suatu penyakit. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.
Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk.
Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu. Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang.
Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari). Pertusis adalah batuk kronis yang disebabkan oleh kuman Bordetella pertussis. Pertussis dapat dicegah dengan imunisasi DPT.
Ada beberapa macam penyebab batuk :
Umumnya disebabkan oleh infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
Alergi
Asma atau tuberculosis
Benda asing yang masuk kedalam saluran napas
Tersedak akibat minum susu
Menghirup asap rokok dari orang sekitar
Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak diakibatkan karena masalah emosi dan psikologis.

Manifestasi Klinis  Ketidakefektifan jalan nafas pada Kehamilan
Tanda Presumtif
Amenorea (tidak dapat haid)
Mengidam
Pingsan
Tidak tahan bau-bauan
Anoreksia (tdk selera makan)
Miksi sering karena kandung kemih tertekan oleh rahim.
Konstipasi/obstpasi  karena tonus otot-otot usus menrun oleh pengaruh hormone steroid.
Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kortikosteroid plasenta,di jumpai di muka, payudara, leher dan dinding perut.
Epulsi (hipertrofi dan papil gusi)
Pemekaan vena2(varices) dapat terjadi pada kaki, betis
Mual dan muntah
Keluhan ini disebabkan oleh adanya perubahan aktivitas hormon yang menurunkan peristaltik usus dan tertumpahnya asam lambung keujung atas lambung. Penurunan peristaltik usus ini juga akan memperlambat proses pencernaan dan mengakibatkan sembelit.
Lelah
Keluhan ini dipicu oleh. meningkatnya kebutuhan aliran darah yang kurang dibanding dengan ketersediaan darah. Volume darah ibu hamil meningkat sampai 30-50%, dan frekuensi denyut jantung meningkat hingga 20%. Mudah terengah-engah terutama dirasakan apabila uterus telah membesar sehingga mendesak sekat rongga dada (diafragma) dan mengganggu ekspansi paru. Keadaan ini diperberat oleh meningkatnya kebutuhan oksigen pada ibu hamil.

Nyeri punggung dan pinggang
Keluhan ini disebabkan oleh adanya perubahan postur tubuh dimana bentuk tulang belakang cenderung melengkung kedepan (lordose). lengkungan ini disebabkan oleh membesarnya perut. Disamping itu, keluhan ini juga dipicu oleh adanya hormon relaksin yang mengendurkan persendian dipunggung bagian bawah dan panggul.
Nyeri panggul
Keluhan ini disebabkan oleh semakin membesarnya uterus sehingga menekan panggul. Keadaan ini semakin diperberat dengan mengendurnya persendian dipanggul dan meregangnya otot-otot panggul.
Tidak bisa tidur
Keluhan nii biasanya terjadi pada akhir kehamilan, karena pada saat itu terjadi penumpukan berbagai keluhan. Keluhan tersebut misalnya, susah bernafas dan nyeri punggung.

Tanda-tanda kemungkinan hamil
Perut dan Uteus membesar
Tanda Hegar (segmen bawah rahim melunak)
Kontraksi uteus bila di rangsang

Tanda Pasti (positif)
Gerakan Janin yang dapat dilihat, dirasa atau diraba
Denyut jantung janin (dg stetoskop, USG dll)
Dalam foto rongen terlihat tulang-tulang janin

Mekanisme Dispnea
Mekanisme dispnea :
Sensasi dispnea berawal dari aktivasi system sensorik yang terlibat dalam system respirasi.
Informasi sensorik sampai pada pusat pernapasan di otak dan memproses respiratory related signals dan menghasikan pengaruh kognitif, kontekstual, dan perilaku sehimgga terjadi sensasi dispnea.

Komplikasi Asma dan Komplikasi Yang Terjadi Pada Khamilan
Komplikasi penyakit Asma
Pneumothorax
Adalah udara atau gas dalam rongga pleura, yang dapat terjadi secara spontan sebagai akibat trauma ataupun proses patologis atau dimasukkan dengan sengaja.
Atelektasis
Adalah pengembangan paru yang tidak lengkap saat lahir, atau pengempisan paru pada orang dewasa.
Gagal Nafas
Terjadi apabila paru tidak lagi memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas, yaitu oksigenisasi darah arteri dan pembuangan CO2.

Bronchitis
Adalah kondisi umum yang disebabkan oleh infeksi dan inhalan yang mengakibatkan inflamasi lapisan mukosa percabangan trakeobronkial.

Komplikasi penyakit saluran pernapasan pada kehamilan
Kehamilan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap fisiologi pernapasan. Ada 4 faktor penting yang terjadi dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan fungsi pernapasan.
Rahim yang membesar karena kehamilan akan mendorong diafragma ke atas, sehingga rongga dada menjadi sempit, gerakan paru akan terbatas untuk mengambil oksigen selama pernapasan dan untuk mengatasi kekurangan oksigen ini pernapasan menjadi cpat (hiperventilasi).
Perubahan hormonal, terutama hormone progesterone yang meningkat selama kehamilan, membuat otot-otot saluran pernapasan menjadi kendor, dan ini juga akan mendorong terjadinya hiperventilasi.
Meningkatnya volume darah dan kardiak output dalam usaha menyelamatkan janin serta memenuhi kebutuhan metabolic ibu yang meninggi.
Perubahan imunologik, factor daya tahan tubuh ibu sangat erat hubungannya dengan timbulnya penyakut saluran napas selama kehamilan. Kadar immunoglobulin E (IgE) mungkin menaik atau menurun pada seorang wanita hamil. Bila kadar IgE pada penderita asma yang hamil meningkat ternyata hal ini menyebabkan penderita lebih rentan dan lebih sering dapat serangan asma atau lebih berat.

Beberapa contoh komplikasi saluran pernafasan yang mungkin diderita pada ibu hamil antara lain:
Influenza
Wanita hamil lebih mudah diserang penyakit influenza. Epidemic yang hebat yang terjadi tahun 1957-1958, menyebabkan kematian ibu yang meningkat. Pada keadaan biasa, tidak banyak pengaruhnya pada ibu maupun pada janin.
Bronchitis
Bronkitia akut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Perlu pengobatan yang tepat dan cepat agar penyakit tidak menular ke paru-paru sehingga timbul pneumonia. Bila timbul pneumonia, angka mortalitas ibu cukup tinggi dan pada janin dapat terjadi abortus atau partus prematurus.
Pneumonia
Pneumonia dalam kehamilan merupakan penyebab kematian non obstetrik yang terbesar setelsh penyakit jantung. Oleh karena itu pneumonia harus segera diketahui dalam kehamilan, segera dirawat dan diobati secara intensif untuk mencegah timbulny kematian janin atau ibu, terjadinya abortus, persalinan premature, atau kematian dalam kandungan. Pneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun zat kimia.
Asma bronchial
Asma bronchial merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Penderita biasanya pernah berobat ke dokter lain.
Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma tidaklah selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma, serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik dalam kehamlan lebih dari sepertiga akan menetap, serta kurang daru sepertiga lagi aka menjadi buruk atau serangan bertambah. Biasanya serangan akan timbul mulai usia kehamilan 24 minggu- 36 minggu, dan pada akhir kehamilan serangan jarang terjadi.
Tuberkolusis paru
Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat. Sehingga sering kita jumpai pada kehamilan. Tbc paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya.Kehamilan tidak banyak memberikan pngaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakiy ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, napsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada bartuk darah dan sakit di dada.Pada pemeriksaan fisik mungkin didapat adanya ronki basal, suara cavernal atau pleural effusion. Penyakit TBC paru ini bentuknya aktif atau kronik dan mungkin pula tertutup atau terbuka.
Penyakit paru (bronkus, alveoli, pleura, atau lingkaran toraks) :
Dispnea biasanya disebabakan oleh pengerahan tenaga dan merupakan gejala yang menonjol pada keadaan-keadaan dimana paru atau toraks lebih kaku daripada normal karena otot-otot inspirasi harus mengembangkan tekanan lebih besar untuk menghasilkan volume tidal yang sama
Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi (USG)
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz – 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor.
Ultrasonography adalah salah satu dari produk teknologi medical imaging yang dikenal sampai saat ini Medical imaging (MI) adalah suatu teknik yang digunakan untuk mencitrakan bagian dalam organ atau suatu jaringan sel (tissue) pada tubuh, tanpa membuat sayatan atau luka (non-invasive).
Manfaat pemeriksaan USG pada Trimester III:
– Menilai kesejahteraan janin.
– Mengukur biometri janin untuk taksiran berat badan.
– Melihat posisi janin dan tali pusat.
– Menilai keadaan plasenta.
Rontgen
Mengambil gambar sehingga tampak kerangka janin yang menunjukkan kerangka janin lebih tinggi letaknya dan akan tampak bagian-bagian janin yang menutupi vertebra ibu.
Spirometri :Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
Tes provokasi :Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
Tes provokasi bronkial seperti :Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aquci destilata.
Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
Kuldosintesis adalah suatu tindakan dengan mengambil sample darah, apabila darah yang diisap berwarna hitam itu menunjukkan adanya darah di kavum douglasi.
Pemeriksaan Berat Badan
Pemeriksaan berat badan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan kandungannya, hal ini dilakukan untuk mengetahui pertambahan berat badan, serta apakah pertambahan berat badan yang dialami termasuk normal atau tidak. Pertambahan berat badan yang normal akan sangat baik bagi kondisi ibu maupun janin. Sebaliknya, jika pertambahan berat yang dialami tidak normal, akan menimbulkan resiko pada ibu dan janin. Bagi ibu hami yang mengalami pertambahan berat badan yang tidak normal, dokter atau bidan akan memberikan saran yang sebaiknya dilakukan agar ibu hamil memperoleh pertambahan berat badan yang normal.
Pemeriksaan Tinggi Badan
Pemeriksaan tinggi badan juga dilakukan saat pertama kali ibu melakukan pemeriksaan. Mengetahui tinggi badan sangat penting untuk mengetahui ukuran panggul si ibu. Mengetahui ukuran panggul ibu hamil sangat penting untuk mengetahui apakah persalinan dapat dilakukan secara normal atau tidak.
Karena jika diketahui bahwa tinggi badan ibu dianggap terlalu pendek, dikhawatirkan memiliki panggul yang sempit dan juga dikhawatirkan proses persalinan tidak dapat dilakukan secara normal, dan hal ini harus dilakukan secara caesar. Dengan diketahuinya hal ini secara dini, maka ibu hamil diaharapkan segera menyiapkan diri baik dari segi materi dan mental untuk menghadapi persalinan dengan caesar.

PPT (Pregnant Plano Test)
Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel urin dilakukan untuk memastikan kehamilan. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal ibu hamil, ada tidaknya protein dalam urin, dan juga mengetahui kadar gula dalam darah.
Adanya protein dalam urin mengarah pada pre-eklampsia. Sedangkan kadar gula darah dapat menunjukkan apakah ibu hamil mengalami diabetes melitus atau tidak.
Contoh air seni ini akan digunakan untuk mencek beberapa hal termasuk :
Gula – sebagian wanita menderita sejenis diabetes selama masa kehamilan yang dikenal sebagai ‘diabetes gestasional’ yang biasanya dapat dikontrol lewat perubahan diet dan, kemungkinan, insulin. Kondisi ini biasanya hilang begitu sang bayi lahir;
Protein, atau ‘albumin’ dalam air seni anda dapat menunjukkan apakah ada infeksi yang memerlukan perawatan. Kadar protein juga dapat menjadi pertanda hipertensi (tekanan darah tinggi) akibat kehamilan.
Pemeriksaa Detak Jantung
Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah janin dalam berada dalam kondisi sehat dan baik.
Permeriksaan detak jantung ini biasanya menggunakan Teknik Doopler sehingga ibu hamil dapat mendengarkan detak janin yang dikandungnya.
Pemeriksaan Dalam
Biasanya pemeriksaan ini dilakukan di awal kehamilan. Dilakukan untuk mengtahui ada tidaknya kehamilan, memeriksa apakah terdapat tumor, memeriksa kondisi abnormal di dalam rongga panggul, mendiagnosis adanya bisul atau erosi pada mulut rahim, melakukan pengambilan lendir mulut rahim (papsmear), mengetahui ada tidaknya penyakit kehamilan, mengetahui letak janin, dan untuk mengetahui ukuran rongga panggul sebagai jalan lahir bayi.
Pemeriksaan Perut
Dilakukan untuk melihat posisi atas rahim, mengukur pertumbuhan janin, dan mengetahui posisi janin. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin setiap kali dilakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan atau bidan.
Pemeriksaan Kaki
Dilakukan untuk mengetahui adanya pembengkakan (oedema) dan kemungkinan varises. Pembengkakan yang terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan adalah normal, namun pembengkakan yang berlebihan menandakan pre-eklampsia,
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan umum ibu hamil. Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan AFP (alpha fetoprotein).
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan gangguan saluran saraf tulang belakang dan untuk mendeteksi otak janin. Kadar AFP yang rendah menunjukkan adanya kemungkinan down sindorm pada janin. Biasanya pemeriksaan AFP dilakukan pada usia kehamilan sekitar 15-20 minggu.
Selain itu, pemeriksaan darah dipakai untuk mengetahui :
Apakah darah mempunyai rhesus negatif atau positif – sebagian kecil ibu memiliki rhesus negatif. Sebagian ibu yang rhesus negatif akan memerlukan suntikan setelah kelahiran bayi pertama mereka untuk melindungi bayi berikutnya dari anemia.
Daya tahan tubuh terhadap rubela (campak Jerman) – jika mendapat rubela di awal-awal masa kehamilan, penyakit ini dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi bayi dalam kandungan anda.
Mengetahui ada tidaknya virus Hepatitis B – ini merupakan virus yang menyebabkan penyakit hati dan dapat menular pada bayi. Sang bayi dapat diimunisasi pada saat lahir untuk mencegah penularan.
Uji TORCH (Toksoplasma Rubella Cytomegalovirus Herpesimpleks)
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi parasit seperti TORCH di dalam tubuh ibu hamil. Infeksi TORCH biasanya menyebabkan bayi terlahir dengan kondisi cacat atau mengalami kematian. Pemeriksaan TORCH dilakukan dengan menganalisis kadar imunogloblin G (IgG) dan imunoglobin M (IgM) dalam serum darah ibu hamil. Kedua zat ini termasuk ke dalam sistem kekebalan tubuh. Jika ada zat asing atau kuman yang menginfeksi tubuh, maka tubuh akan memproduksi IgG dan IgM untuk melindungi tubuh.
Banyak sedikitnya IgG dan IgM dalam serum darah mengindikasikan ada tidaknya infeksi serta besar kecilnya infeksi. Jika hasil IgG negatif, berarti infeksi terjadi pada masa lalu dan kini sudah tidak aktif lagi.
Jika hasil IgM positif, berarti infeksi masih berlangsung aktif dan ibu hamil memerlukan pengobatan agar janin dalam kandungan yang terinfeksi dapat segera ditangani sehingga infeksi tidak semakin buruk.

Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis yang dapat dilkukan Pada gangguan pernafasan pada kehamilan antara lain :
Jalan napas, ventilasi dan oksigenasi yang adekuat harus dijamin. Jalan nafas bagian atas dibersihkan dengan penghisapan atau pengeluaran debris dan sekresi secara manual dari hidung dan mulut.
Trakheostomi darurat mungkin diperlukan jika jalan nafas tersumbat pada atau di atas batas laring.
Terapi spesifik tergantung pada diagnosis spesifik seperti asma, aspirasi paru, edema paru, emboli paru dan hidramnion. Dispnea dalam kehamilan atau sindrom hiperventilasi tidak memerlukan terapi spesifik selain menentramkan pasien.
Penatalaksanaan Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale
Menghilangkan obstruksi jalan nafas
Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan penyakit.
Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
Pengobatan dengan obat-obatanSeperti : Beta agonist (beta adnergik agent), Methylxanlines (enphy bronkodilator), Anti kounergik (bronkodilator), Kortikosterad, Mart cell inhibitor (lewat inhalasi)
Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :Oksigen 4-6 liter/menit, Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam.
Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% yang dan berikan perlahan. Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam.4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
Asuhan Keperawatan
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Tujuan : Jalan nafas kembali efektif. Kriteria hasil : Sesak berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum, wheezing berkurang/hilang, vital dalam batas normal keadaan umum baik
Intervensi :
Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : merigi, erekeis, ronkhi. Rasionalisasi : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas (asma berat).
Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. Rasionalisasi : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dpat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran. Rasionalisasi : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk. Rasionalisasi : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia, sakit akut/kelemahan.
Berikan air hangat. Rasionalisasi : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
Kolaborasi obat sesuai indikasi.Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). Rasionalisasi : Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.

Ketidakefektifan Pola Pernafasan
Tujuan : Pola nafas kembali efektif.Kriteria hasil :Pola nafas efektif, bunyi nafas normal atau bersih, TTV dalam batas normal, batuk berkurang, ekspansi paru mengembang.
Intervensi :
Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. Rasionalisasi : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada
Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti crekels, mengi. Rasionalisasi : ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Rasionalisasi : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
Observasi pola batuk dan karakter sekret. Rasionalisasi Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk. Rasionalisasi : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.
Kolaborasi- Berikan oksigen tambahan- Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer. Rasionalisasi : memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Pengkajian
Identitas Klien
Nama : Ny. A
Umur : 30 th
Riwayat Keperawatan
Keluhan utama
Klien mengalami kesulitan bernapas
Riwayat penyakit sekarang
Ny. A yang hamil 34 minggu mengalami sesak napas saat tidur, kesulitan bernapas jika berjalan jauh dan bekerja agak berat, serta menderita batuk pilek sehingga hidung tersumbat.

Riwayat Kehamilan
Kehamilan Ny A adalah kehamilan pertama, belum pernah melahirkan sebelumnya serta tidak pernah melakukan aborsi
Riwayat penyakit dahulu
Tidak diketahui
Pengkajian Primer
Airway
Pada jalan napas atas diketahui terdapat secret, sehingga mengganggu jalan napas.

Breathing
RR = 20 kali per menit, terdapat retraksi suprasternal, tidak terdapat napas cuping hidung, tidak ada suara ronki dan wheezing.
Sirculation
TD= 130/80mmHg, nadi 90 kali per menit
Disability
Tidk mampu berjalan jauh dan bekerja agak berat
Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan sekunder pada wanita hamil dilakukan dengan pemeriksaan fisik yang biasa disebut head to toe. Pemeriksaan ini meliputi inspeksi, palapasi, perkusi dan auskultasi pada bagian-bagian tubuh, antara lain : kepala, mata, hidung, mulut, kepala, leher, thorax, paru, jantung, ekstremitas, dan abdomen.
Pada kasus Ny. A hasil palpasi abdomen diketahui bahwa TFU : 40 cm.
Pada masa kehamilan, banyak perubahan-perubahan fisik yang dialami oleh ibu hamil. Perubahan-perubahan ini antara lain:
Perubahan kulit
Pada kulit terlihat adanya hyperpigmentatie, ialah athnya kelebihan pigmen pada tempat-tempat tertentu. Perubahan pada kulit ini tidak selalu sama pada setiap wanita hamil, ada yang sebagian saja dan ada pub yang semua pada tempat tersebut.
Perubahan pada kelenjar
Yang kelihatan ialah kelenjar tiroid yang menjadi besar, jadi leher wanita itu bentuknya seperti leher pria. Perubahan ini tidak terdapat path setiap wanita hamil.

Perubàhan pada mammae (buah dada)
Perubahan ini pasti terdapat pada sermua wanita hamil karena bersama-sama dengan kehamilan mammae menyiapkan diri untuk memproduksi makanan pokok yang nantinya akan diberikan kepada bayi setelah lahir.
Perubahan ini meliputi sebagai berikut:
a. Mammae membesar, tegang dan sakit.
b. Vena dibawah kulit mammae membesar dan kelihatan jelas.
c. Hiperpigmentasi pada areola mammae.
d. Kelenjar Montgomerry yang tenletak dalam areola mammae membesar dan terlihat dari luar.
Perubahan perut
Perut akan kelihatan makin lama makin besar. Biasanya dari umur kehamilan 4 bulan membesarnya perut belum kelihatan. Setelah itu mulai kelihatan membesar, lebih-lebih setelah kehainilan umur 5 bülan kelihatan cepat sekali menjadi besar.
Perubahan alat kelamin luar
Pada alat kelamin luar ini terlihat kebiruan disebabkan adanya kongesti pada peredaran darah. Kongesti disebabkan karena pembuluh darah membesar, darah yang menuju ke uterus banyak sekali, sesuai dengan kebutuhan uterus untuk membesarkan dan memberi makan janin.
Pembuluh darah dan alat kelamin luar adalah cabang dari uterus, jadi jika pembuluh darah uterus mengalami kongesti maka pembuluh darah alat kelamin luar pun mengalami kongesti pula. Tanda ini disebut tanda Chadwick.
Perubahan pada tungkai
Perubahan pada tungkai ini adalah timbulnya varices pada sebelah atau kedua belah tungkai. Pada hamil tua sering oedema pada salah satu tungkai. Oedema ini disebabkan karena tekanan uterus yang membesar pada vena femoralis, sebelah kanan atau sebelah kiri.
Sikap ibu waktu kehamilan agak tua.
Sikapnya menjadi lordose yang disebabkan oleh adanya perubahan bentuk pada tulang belakang (vertebrae) dimana tulang belakang tersebut menyesuaikan diri dengan keseimbangan badan yang berhubungan dengan keadaan uterus yang membesar (Kristanti, 1981).

Analisis Data dan Diagnosa Keperawatan

DATA    MASALAH    ETIOLOGI    DIAGNOSA KEPERAWATAN
DS : Hidung serng tersumbat, menderita batuk pilek

DO : frekuensi pernafasan adalah 20 x/menit.    Bersihan jalan nafas tak efektif    Penumpukan sekresi pada jalan nafas atas    Ketidakefektifan bersihan  jalan nafas berhubungan dengan sekresi paru yang kental.
DS : Sesak nafas saat tidur, kesulitan bernafas jika berjalan jauh dan bekerja agak keras.

DO : Retraksi suprasternal,
TFU : 40 cm    Pola Nafas Tidak Efektif    Terhimpitnya diafragma oleh uterus    Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan pergeseran diafragma karena pembesaran uterus.

Perencanaan, Rasionalisasi, dan Intervensi
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Tujuan :
Jalan nafas kembali efektif.Kriteria hasil : -Sesak berkurang, batuk berkurang, klien dapat mengeluarkan sputum, wheezing berkurang/hilang, vital dalam batas normal keadaan umum baik
Intervensi :
Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : merigi, erekeis, ronkhi. Rasionalisasi : beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empisema), tak ada fungsi nafas (asma berat).
Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. Rasionalisasi: Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dpat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran. Rasonalisasi: peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk. Rasionalisasi: batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia, sakit akut/kelemahan.
Berikan air hangat. Rasionalisasi: penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
Kolaborasi obat sesuai indikasi.Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). Rasionalisasi : membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.
Ketidakefektifan Pola Pernafasan
Tujuan :
Pola nafas kembali efektif. Kriteria hasil :Pola nafas efektif, bunyi nafas normal atau bersih, TTV dalam batas normal, batuk berkurang, ekspansi paru mengembang.
Intervensi :
Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. Rasionalisasi: kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada
Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti crekels, mengi. Rasionalisasi: ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Rasionalisasi : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
Observasi pola batuk dan karakter sekret. Rasionalisasi: Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk. Rasionalisasi: dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas.
Kolaborasi- Berikan oksigen tambahan- Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer. Rasionalisasi: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.

BAB IV
PEMBAHASAN

Perubahan hormon yang terjadi saat kehamilan (progesteron dan estrogen) dapat mempengaruhi imunitas. Dengan penurunan imunitas yang terjadi, maka akan mudah virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh ibu hamil tersebut, sehingga ibu hamil memiliki resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
Progesteron tingkat tinggi, hormon yang secara terus menerus diproduksi selama kehamilan, memberi tanda otak untuk merendahkan tingkat karbon dioksida pada darah. Akibatnya, seorang wanita hamil sedikit lebih cepat bernafas dan lebih dalam menghirup lebih banyak karbon dioksida dan menjaga tingkat karbon dioksida rendah. Wanita tersebut bisa bernafas dalam dan juga cepat disebabkan rahim yang membesar membatasi seberapa banyak paru-paru bisa meluas ketika dia mengambil nafas. Sekitar dada wanita tersebut sedikit membesar.
Hampir setiap wanita hamil kadang-kadang menjadi lebih banyak mengeluarkan nafas, khususnya pada akhir kehamilan. Selama olahraga, tingkat pernafasan lebih meningkat ketika seorang wanita hamil dibandingkan ketika dia tidak hamil. Karena lebih banyak darah yang dipompa, lapisan pada saluran pernafasan menerima lebih banyak darah dan sedikit membengkak, mempersempit saluran pernafasan. Akibatnya, hidung kadangkala terasa kaku, dan pipa pembuluh (yang menghubungkan telinga bagian tengah dan bagian belakang pada hidung) bisa menjadi tersumbat. Akibatnya bisa sedikit merubah suara dan kualitas suara wanita tersebut.
Bernapas pendek-pendek merupakan hal biasa pada masa akhir kehamilan karena tertekannya diafragma oleh rahim yang makin membesar, terutama setelah kehamilan di atas 32 minggu/pada trimester ke III (Kenaikan Tinggi Fundus Uteri).
Karena rahim membesar, panjang paru-paru saan berkontraksi mengecil. Diameter kerangka thorak dan lingkaran kerangka iga meningkat. Tinggi diafragma terangkat 4 cm selama kehamilan.
Dengan semakin tuanya masa kehamilan dan seiring pembesaran uterus ke rongga abdomen, pernafasan dada menggantikan pernafasan perut dan penurunan diafragma pada saat inspirasi menjadi semakin sulit. Selain itu, wanita hamil bernafas lebih dalam dan kebutuhan nafas meningkat (pasokan udara bukan hanya untuk ibu, tapi juga untuk janin) sehingga muncul keluhan dispneua saat tidur.
Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh wanita hamil meningkat 2x lipat dari wanita umumnya. Jika kebutuhan energy dan nutrisi tak terpenuhi, akan mempengaruhi sistem imun (pertahanan terhadap penyakit), sehingga ibu hamil tersebut akan mudah terinfeksi virus. Dan jika terjadi sumbatan jalan nafas, kemampuan ibu hamil dalam batuk efektif tidak optimal, karena kerja otot diafragma tak optimal (tertekan oleh rahim). Sehingga sumbatan pada jalan nafas sulit di atasi.

BAB V
KESIMPULAN

Ketidakefektifan jalan nafas dapat disebabkan karena adanya sekret pada saluran nafas sehingga mengganggu sirkulasi pernapasan. Pada kasus ibu hamil terjadi penekanan pada diafragma sehingga apabila terdapat sekret pada saluran nafas bagian atas, ibu hamil tidak dapat melakukan batuk efektif secara optimal.
Dalam pelaksanaan praktek klinik keperawatan, mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai prosedur, dapat mengambil keputusan secara krittis serta mampu menerapkan proses keperawatan dalam penanganan pasien khususnya seperti pada kasus ibu hamil yang mengalami ketidakefektifan jalan nafas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: