Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas merupakan suatu keadaan dimana seorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernafsan sehubungan penumpukan secret atau cairan pada jalan nafas. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas dapat disebabkan karena adanya mikroorganisme infaktan (bakteri atau virus) yang akan mengganggu sirkulasi pernapasan.
Pada kasus pasien yang mengalami penurunan tingkat kesadaran terjadi penumpukan cairan akut karena infeksi bakteri telah menyebar dan akhirnya merusak system kardiovaskuler yang berakibat pada perfusi Oksigen ke seluruh tubuh. Gangguan perfusi oksigen ini di dukung oleh penumpukan cairan di paru dan menyebabkan Gagal nafas. Gagal nafas akut dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesadaran, bahkan sampai tingkat koma.
Penanganan utama bagi pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung adalah dengan melakukan beberapa intervensi keperawatan. Beberapa penjelasan yang akan dilakukan dikulas di penjelasan selanjutnya.
Dalam pelaksanaan praktek klinik keperawatan, mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai prosedur, dapat mengambil keputusan secara kritis serta mampu menerapkan proses keperawatan dalam penanganan pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung.

TUJUAN PENULISAN
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung.

Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan kritis pada pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung.
Mahasiswa mampu malakukan diagnose keperawatan kritis pada pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung.
Mahasiswa dapat merumuskan tujuan dan intervensi keperawatan kritis pada pasien dengan gagal nafas dan gagal jantung.

BAB II
TINJAUAN TEORI

GAGAL NAFAS
1.    Definisi
Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)
Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)
Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)

2.    Klasifikasi Gagal Nafas
a.    Tipe I : Disebut gagal nafas normokapnu hipoksemia : PaO2 rendah dan PCO2 normal.
Pada tipe ini terjadi perubahan pertukaran gas yang diakibatkan kegagalan oksigenasi. PaO2 ≤50 mmHg merupakan ciri khusus tipe ini, sedangkan PaCO2 ≤40 mmHg, meskipun ini bisa juga disebabkan gagal nafas hiperkapnia.

Ada 6 kondisi yang menyebabkan gagal nafas tipe I yaitu:
• Ketidaknormalan tekanan partial oksigen inspirasi (low PIO2)
• Kegagalan difusi oksigen
• Ketidakseimbangan ventilasi / perfusi [V/Q mismatch]
• Pirau kanan ke kiri
• Hipoventilasi alveolar
• Konsumsi oksigen jaringan yang tinggi
b.    Tipe II : Disebut gagal nafas Hiperkapnu hipoksemia : PaO2 rendah dan PCO2 Tinggi.
Tipe ini dihubungkan dengan peningkatan karbondioksida karena kegagalan ventilasi dengan oksigen yang relatif cukup. Beberapa kelainan utama yang dihubungkan dengan gagal nafas tipe ini adalah kelainan sistem saraf sentral, kelemahan neuromuskuler dam deformiti dinding dada.
Penyebab gagal nafas tipe II adalah :
• Kerusakan pengaturan sentral
• Kelemahan neuromuskuler
• Trauma spina servikal
• Keracunan obat
• Infeksi
• Penyakit neuromuskuler
• Kelelahan otot respirasi
• Kelumpuhan saraf frenikus
• Gangguan metabolisme
• Deformitas dada
• Distensi abdomen massif
• Obstruksi jalan nafas

3.    Etiologi Gagal Nafas
a.    Depresi Sistem saraf pusat
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.
b.    Kelainan neurologis primer
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhiventilasi.
c.    Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
d.     Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan.
Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar.

e.    Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam.
Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.

4.    Manifestasi Klinis Gagal Nafas
a.    Tanda Gagal nafas total
Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi
Adanya kesulitasn inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan
Gagal nafas parsial
Terdengar suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
Ada retraksi dada
b.    Gejala
Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

5.    Komplikasi Gagal Nafas
Komplikasi gagal nafas adalah ARDS (Syndrom Gangguan Pernafasan Akut), yaitu suatu sindrom gagal napas akut akibat kerusakan sawar membran kapiler alveoli sehingga menyebabkan edema paru akibat peningkatan permeabilitas.
Sedangkan komplikasi ARDS adalah:
a.    Paru     :     Barotraumas (volutrauma), emboli paru, Fibrosis paru, ventilator-Associated, Pneumonia atau VAP.
b.    Gastrointestinal     :    Pendarahan atau ulkus, Dysmotility, pneumoperitonium, bakteritranslokasi
c.    Jantung     :     Aritmia, Infark disfungsi
d.    Ginjal     :     Gagal ginjal akut, keseimbangan cairan positif.
e.    Mekanikal     :     cedera vascular, pneumothorax, stenosis
f.    Gizi     :     gizi buruk, kekurangan elektrolit
Keadaan terparah yang dialami penderita gagal nafas adalah koma. Koma adalah penurunan / hilangnya tingkat kesadaran, tampak seperti tidur, tidak berespon terhadap rangsangan eksternal.
Manifestasi klinis penurunan kesadaran adalah :
Berkurangnya reflek atau respon terhadap rangsang
Penurunan kemampuan otak untuk berinteraksi dengan sekitarnya. Mengenai kemampuan berbahasa, daya ingat, pengenalan visuospasial, dan emosi, serta perubahan kepribadian.
Perubahan tanda-tanda vital (Pola pernafasan, kerja jantung dll)

GAGAL JANTUNG
6.    Definisi Gagal Jantung
Adalah kegagalan jantung untuk memompa cukup darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh.
Gagal jantung adalah gawat medis yang bila dibiarkan tak terawat akan menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Perawatan pertama utama untuk gagal jantung adalah cardiopulmonary resuscitation.
Gagal jantung adalah pemberhentian sirkulasi normal darah dikarenakan kegagalan dari ventrikel jantung untuk berkontraksi secara efektif pada saat systole. Akibat kekurangan penyediaan darah, menyebabkan kematian sel dari kekurangan oksigen. Cerebral hypoxia, atau kekurangan penyediaan oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti bernafas dengan tiba-tiba.

7.    Klasifikasi Gagal Jantung
a.    Gagal Jantung Kanan
Pada gagal jantung kanan yang dapat terjadi karena gangguan atau hambatan daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan menurun, tanpa didahului oleh adanya gagal jantung kiri, biasanya gejala yang ditemukan berupa edema tumit dan tungkai bawah, hepatomegali, lunak dan nyeri tekan; bendungan pada vena perifer (vena jugularis), gangguan gastrointestinal dan asites. Keluhan yang timbul berat badan bertambah akibat penambahan cairan badan, kaki bengkak, perut membuncit, perasaan tidak enak di epigastrium.
b.    Gagal Jantung Kiri
Pada gagal jantung kiri atau gagal jantung ventrikel kiri yang terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri, biasanya ditemukan keluhan berupa perasaan badan lemah, berdebar-debar, sesak, batuk, anoreksia, keringat dingin.
Tanda obyektif yang tampak berupa takikardi, dispnea, ronki basah paru di bagian basal, bunyi jantung III, pulsus alternan.

8.    Etiologi Gagal Jantung
Terdapat tiga kondisi yang mendasari terjadinya gagal jantung, yaitu :
a. Gangguan mekanik ; beberapa faktor yang mungkin bisa terjadi secara tunggal atau bersamaan yaitu :
Beban tekanan
Beban volume
Tamponade jantung atau konstriski perikard, jantung tidak dapat diastole
Obstruksi pengisian ventrikel
Aneurisma ventrikel
Disinergi ventrikel
Restriksi endokardial atu miokardial
b. Abnormalitas otot jantung
Primer : kardiomiopati, miokarditis metabolik (DM, gagal ginjal kronik, anemia) toksin atau sitostatika.
Sekunder: Iskemia, penyakit sistemik, penyakit infiltratif, korpulmonal
c. Gangguan irama jantung atau gangguan konduksi
Di samping itu penyebab gagal jantung berbeda-beda menurut kelompok umur, yakni pada masa neonatus, bayi dan anak.
Faktor-faktor penyebab lain gagal jantung adalah orang-orang yang memiliki penyakit hipertenisi, hiperkolesterolemia, perokok, diabetes, obesitas dan seseorang yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung dan tentunya pola hidup yang tidak teratur serta kurang olah raga.

9.    Manifestasi Klinis Gagal Jantung
a.    Penurunan curah jantung
Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, jantung yang bertindak sebagai pompa sentral akan memompa darah untuk menghantarkan bahan-bahan metabolisme yang diperlukan ke seluruh jaringan tubuh dan mengangkut sisa-sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh.
Curah jantung dipengaruhi oleh volume sekuncup dan frekuensi jantung. Sedangkan salah satu factor yang mempengaruhi volume sekuncup adalah preload dan afterload. Sehingga dapat disimpulkan beban jantung yang berlebihan pada preload dan afterload dapat mengakibatkan perubahan curah jantung.
Pada gagal jantung terjadi penurunan volume sekuncup,  penurunan volume sekuncup ini akan mengakibatkan penurunan curah jantung.
b.    Pembendungan darah di vena sebelum jantung kiri atau jantung kanan.
Telah di jelaskan sebelumnya bahwa gagal jantung adalah keadaan ketidakmampuan jantung memompa darah untuk memenuhi secara adekuat kebutuhan metabolisme tubuh. Seperti yang telah diketahui vena adalah pembuluh darah yang menuju jantung, vena pulmonal membawa darah dari paru-paru, sedangkan vena cava (superior&inverior) membawa darah dari seluruh tubuh kecuali paru-paru. Jika terjadi pembendungan darah di pembuluh darah vena sebelum masuk ke jantung maka pada akhirnya jantung tak mampu memompa darah.
Pembendungan darah di vena tersebut dapat di akibatkan oleh obstruksi pembuluh darah seperti penyempitan pembuluh darah.

10.    Komplikasi Gagal Jantung
Pada gagal jantung kiri dengan gangguan pemompaan pada ventrikel kiri dapat mengakibatkan bendungan paru dan selanjutnya dapat menyebabkan ventrikel kanan berkompensasi dengan mengalami hipertrofi dan menimbulkan dispnea dan gangguan pada sistem pernapasan lainnya. Pada gagal jantung kanan dapat terjadi hepatomegali, ascites, bendungan pada vena perifer dan gangguan gastrointestinal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Lab
Dilakukan untuk mengetahui kadar lemak/kolesterol, Nitrogen Urea Darah, Glikosa, dll.
Pemeriksaan Hemodinamika
Adalah suatu pengukuran terhadap system kardiovaskular yang dapat dilakukan baik secara invasive maupun non invasive. Pemantauan ini dapat member informasi mengenai keadaan pembuluh darah, jumlah darah dalam tubuh, dan kemampuan jantung untuk memompakan darah.
Gas Darah Arteri
Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar SaO2, PaO2,PaCO2 serta pH darah, sehingga dapat menkaji gangguan apa yang terjadi.
X-Ray
Untuk mengetahui adakah kelainan pada jantung atau paru yang mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat kesadaran.
Ekokardiografi
M-mode dapat menilai kuantitas ruang jantung dan shortening fraction yaitu indeks fungsi jantung sebagai pompa. Pemeriksaan Doppler dan Doppler berwarna dapat menambah informasi secara bermakna.
Elektrokardograf (EKG)
Untuk mengukur irama jantung dan menyesuaikan dengan irama jantung normal, sehingga dapat diketahui kelainan jantung apa yang terjadi. Di samping frekuensi QRS yang cepat atau disritmia, dapat ditemukan pembesaran ruang-ruang jantung serta tanda-tanda penyakit miokardium/ pericardium.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Ø    Terapi oksigen dengan  kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
Ø    Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP, Inhalasi nebulizer, Fisioterapi dada
Ø    Pemantauan hemodinamik/jantung
Ø    Pengobatan (ex. Brokodilator dan Steroid)
Ø    Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan

ASUHAN KEPERAWATAN
11.    Diagnosa Keperawatan untuk Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Berhubungan dengan    :    Peningkatan produksi sputum,  penurunan energi, kelemahan
Kemungkinan dibuktikan dg    : Batuk tak efektif, dengan produksi sputum
Hasil yang diharapkan, pasien yang diharapkan :
Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai bersihnya jalan nafas
Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih dengan tidak ditunujkkannya adanya sianosis dan dispnea.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji frekuensi/kedalaman pernapasn dan kedalaman dada.. Rasionalisasi : Gerakan dada yang tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.
Tindakan/intervensi (M) :  Auskultasi area paru, catat area penuunan/ tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius seperti mengi, crekles. Rasionalisasi : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Crekles, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan napas/obstruksi.
Tindakan/intervensi (M) : Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari melakukan batuk seperti menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi. Rasionalisasi : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk memepertahanakan jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memeungkinkan upaya naps lebih dalam dan lebih kuat.
Tindakan/intervensi (M) : Penghisapan sesuai indikasi. Rasionalisasi : Meransang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
Tindakan/intervensi (M) : Berikan ciran sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air hangat, daripada air dingin. Rasionalisasi : Cairan (khususnya yang hangat) memeobilisasi dan mengeluarkan secret.
Tindakan/intervensi (K) : Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain misalnya perkusi, drainase postural. Lakukan tindakan diantara waktu makan dan batasi cairan bila mungkin. Rasionalisasi : Memudahkan pengenceran dan pembuangan secret. Drainase postural tidak efektif pada pneumonia atau menyebabkan ekseduat alveolar/ kerusakan. Koordinasi pengobatan/jadwal dan masukan oral menurunkan muntah karena batuk dan pengeluaran sputum.
Tindakan/intervensi (K) : Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspentoran, bronkodilator,  analgesic. Rasionalisasi : Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi secret. Analgesic diberikan untuk memperbaiaki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapai harus digunakan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karemna dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernapasan.
Tindakan/intervensi (K) : Berikan cairan tambahan seperti IV, oksigen humidifikasi, dan ruangan humidifikasi. Rasionalisasi : Cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan (termasuk yang tak nampak) dan memobilisasikan secret.
Tindakan/intervensi (K) : Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri. Rasionalisasi: Mengevaluasi kemajuan dan efek proses penyakit dan memudahkan pilihan terapi yang diperlukan.
Tindakan/intervensi (K) : Bantu bronkoskopi/torasintesis bila diindikasikan. Rasionalisasi : Kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa, mengeluarkan sekresi purulen dan atau mencegah atelektasis.
12.    Diagnosa Keperawatan kerusakan pertukaran gas
Berhubungan        : Gangguan kapasitas pembawa oksigen darah,
Kemungkinan dibuktikan        :    Dispnea, sianosis, takikardia, hipoksia
Hasil yang diharapkan, pasien yang diharapkan :
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan engan GDA dalam rentang normal dan tak ad gejala distress pernapasan.
Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas. Rasionalisasi : Manifestasi distress pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
Tindakan/intervensi (M) : Observasi warna kulit, memebran mukosa,dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral (sirkuoral). Rasionalisasi : Sianosis kuku menunujukkan vasokonstriksi atau respons tubuh terhadap demam atau menggigil. Namun sianosis daun telinga, membrane mukosa, dan kulit sekitar mulut menunujukkan hipoksemia sistemik.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji status mental. Rasionalisasi : Gelisah, mudah teransang, bingung, dan somnolen dapat menunjukkan hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral.
Tindakan/intervensi (M) : Awasi frekuensi jantung/irama. Rasionalisasi : Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam/dehidrasi tetapi dapat sebagai respons terhadapa hipoksemia.
Tindakan/intervensi (M) : Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil seperti selimut tambahan/menghilangkannya, suhu ruangan nyaman, kompres hangat atau dingin. Rasionalisasi : Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
Tindakan/intervensi (M) : Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang. Rasionalisasi : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi  oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah/perasaan. Jawab pertanyaan dengan jujur. Kunjungi dengan sering, atur pertemuan/kunjungan oleh orang terdekat/pengunjung sesuai indikasi. Rasionalisasi : Ansietas dalah manifestasi masalah psikologi sesuai dengan  respons fisiologi terhadap hipoksia. Pemberian keyakinan dan meningkatkan rasa aman dapat menurunkan komponen psikologis, sehingga menurunkan kebutuhan oksigen dan efek merugikan dari respons fisiologis.
Tindakan/intervensi (M) : Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi, banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah. Rasionalisasi : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medic segera.
Tindakan/intervensi (M) : Siapkan untuk/pemindahan ke unit perawatan kritis bila diindikasikan. Rasionalisasi : Intubasi dan ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada kejadian kegagalan pernapasan.
Tindakan/intervensi (K) : Berikan terapi oksigen dengan benar seperti nasal prong, masker, masker venture. Rasionalisasi : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
Tindakan/intervensi (K) : Awasi GDA, nadi oksimetri. Rasionalisasi : Mengevaluasi proses penyakit dan memudahkanterapi paru.

13.    Diagnosa Keperawatan Peurunan Curah Jantung
Berhubungan    :    Perubahan frekuensi, irama, konduksi listrik
Kemungkinan di buktikan    :    Peningkata  frekuensi jantung (takikardia), disritmia, perubahan pola EKG,Perubahan TD (Hipotensi), crackles, edema.
Hasil yang diharapkan    :
Menunjukkan tanda vital dalam batas yang bias di terima
Bebas gejala gagal jantung (mis. Parameter hermodinamika di batas normal)
Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
a.    Tindakan/intervensi (M)    : Auskultasi nadi apical, kaji frekuensi, dan irama jantung. Rasionalisasi : adanya takikardi meskipun pada saat tidur.
b.    Tindakan/intervensi (M)    : Catat bunyi jantung. Rasionalisasi : murmur dapat menunjukkan stenosis katup.
c.    Tindakan/intervensi (M)    : Palpasi nadi perifer . Rasionalisasi : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan penurunan nadi radial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi.
d.    Tindakan/intervensi (M)    : Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis. Rasionalisasi : Pucat menunjukkan penurunan perkusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung, vasokonstriksi dan anemia. Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kongestif.
e.    Tindakan/intervensi (K)    : Berikan Obat sesuai Indikasi. Rasionalisasi : banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
f.    Tindakan/intervensi (K)    : Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi. Hindari cairan garam. Rasionalisasi : Karena adanya peningkatan tekanan ventrikel kiri, pasien tidak dapat mentoleransi peningkatan volume cairan (preload). Pasien Gagal Jantung Kongestif juga mengeluarkan sedikit natrium yang menyebabkan retensi cairan dan meningkatkan kerja miokard.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Kasus :
Seorang lelaki tua tanpa identitas ditemukan tidak sadarkan diri di jalan, kemudian polisi membawanya ke UGD. Saat di UGD pasien di intubasi dan di pasang ventilator. BB pasien 89 kg dan pasien dipasang arteri line untuk memonitor tekanan darahnya. Hasil pengkajian yang di dapat : pasien tidak responsive terhadap rangsang nyeri, TD 100/75 mmHg, HR 120 x/menit, uncontrolled atrial fibration, T 38,8 ^C, SpO2 98 %, terdapat sputum purulent di selang ET, ada crackles, suara nafas meredup di lobus kanan. Hasil X-ray menunjukkan adanya konsolidasi di paru lobus kanan bawah. Hasil AGD. pH 7,48 ; PaCO2 94 mmHg ; PaCO2 30 mmHg ; HCO3 34 mEq/L.
Intervensi kolaborasi yang diberikan antara lain :
Setting ventilator : modus assist control, RR 16x/menit, tidal volume 900 mL, FiO2 60 %
Nutrisi eteral 25 mL/h melalui NGT
Gentamycin 80 mg IV per 18 Jam
Ceftriaxone 1 g IV per 12 jam
RL 100 mL/menit

PENGKAJIAN
Identitas Klien
Pasien ditemukan tidak sadarkan diri, identitas pasien tidak diketahui.
Riwayat Keperawatan
Riwayat keperawatan tidak diketahui.
Pengkajian Primer
Airway
Pada jalan nafas terpasang ET dan Ventilator, ditemukan sputum purulent pada selang ET.
Breathing
Suara nafas meredup di lobus kanan, terdapat suara crekles.
Circulation
TD : 100/75 mmHg, HR : 120X / menit, SaO2 : 98 %
Dissability
Kesadaran : Koma, GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Pengukuran GCS pasien pada kasus ini  adalah 3, yang berarti cedar kepala berat.
Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan Antropometri BB : 89 Kg
Pemeriksaan Fisik Head to Toe
Kepala
Melakukan observasi umum (kemerahan, melar dll)
Mata
Memerhatikan warna konjungtiva (anemi), bagian anterior mata (katarak, dislokasi lensa, sclera berwarna biru dll).
Mulut
Memerhatikan mulut untuk mengetahui sianosis mukosa serta memeriksa gigi untuk mengetahui keadaan gigi.
Leher
Palpasi tiroid, jika di curigai adanya gondok,dian memeriksa denyut nadi karotis dan gelombang jugularis.
Thorax
Paru
Inspeksi : adakah retraksi yang terjadi, adakah edem,luka parut
Palpasi     : adakah nyeri tekan, taktil fremitus
Perkusi    : mengetahui adakah cairan/udem/massa pada paru.
Auskultasi : mengetahui suara normal atau abnormal pada paru.
Jantung
Inspeksi     : Nilailah kecepatan pernafasan yang dapat menggeser apeks jantung ke kiri dan memberikan kesan palsu adanya kardiomegali atau menyebabkan murmur.
Palpasi     : Carilah posisi denyut apex dengan ujung jari, kemudian rabalah dengan telapak tangan untuk menentukan sifat denyut.
Perkusi     : Menentukan posisi jantung.
Auskultasi : Untuk mengetahui suara jantung, apakah lup-dup (normal) atau ada suara tambahan atau murmur.
Abdomen
Palpasi    : letak hati, ginjal, limpa
Perkusi     : untuk mengetahui posisi lambung dengan suara timpani
Auskultasi : Bising usus atau bruit

Ekstremitas
Tangan : jari tabuh, sianosis, warna bekas nikotin
Lengan : Denyut radialis dan brakialis, tekanan darah
Tungkai : keberadaan denyut, bruit, adakah edema, jari tabuh
Pemeriksaan Penunjang
X-RAY
Ditemukan Konsolidasi paru lobus kanan bawah.

Gas Darah Arteri

Pemeriksaan    Hasil    Nilai Normal    Indikasi
Temperatur    38,8 ^C    36 – 37,5 ^ C    Demam
PaO2    94 mmHg    80 – 100 mmHg    Normal
PaCO2    30 mmHg    35 – 45 mmHg    Alkalosis
pH    7,48    7,35 – 7,45    Alkalosis
HCO3    34 mEq/L    18 – 23 mmol/ L    Alkalosis
SaO2    98 %    95 – 100 %    Normal

Therapi
Injeksi    :    Gentamycin    80 mg/ 8 jam I.V
Ceftriaxone 1 g/jam I.V
Nutrisi    :    Enteral 25 mL/h melalui NGT
RL (Ringer Lactat) 100 mL/ jam
Ventilator    :    Modus assist control
RR        : 16x / menit
Volume Tidal     : 356 – 445 mmHg
FiO2        : 60 %

ANALISIS DATA DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO    DATA    MASALAH    ETIOLOGI    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1    DS : –
DO:
·1    Terdapat suara Crekles.
·2    Ditemukan sputum purulent di selang ET.
·3    Penurunan kesadaran    Bersihan Jalan Nafas tidak Efektif    ·1    Penumpukan secret pada jalan nafas
·2    Reflek batuk menurun    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan secret pada jalan nafas dan penurunan reflek batuk.

2.    DS : –
DO :
·1    pH: 7,48
·2    pCo2 : 30 mmHg
·3    pO2 : 94 mmHg
·4    hCO3 : 34 mmol/ L
·5    SpO2 : 98 %
·6    HR : 120x/menit
·7    TD : 100/75 mmHg
·1    Crakles
·2    Suara nafas meredup di lobus kanan
·3    Konsolidasi paru lobus kanan bawah    ·8    Gangguan pertukaran gas
·9    Penumpukan cairan pada alveoli yang akan mengakibatkan konsolidasi paru mengakibatkan alveoli yang berfungsi berkurang, shg memperlambat proses difusi.    ·1    Ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
·2    Akumulasi cairan ekstravaskuler di jaringan paru, kapiler dan rongga udara.
·3    Perubahan membrane kapiler-alveoli.    Gangguan pertukaran gas,penumpukan cairan pada jalan nafas yg berpengaruh pd terjadinya konsolidasi paru yang meng-akibatkan alveoli yang berfungsi berkurang, berhubungan dengan ketidak seimbangan perfusi ventilasi, Akumulasi cairan ekstravaskuler di jaringan paru, kapiler dan rongga udara serta perubahan membrane kapiler-alveoli.

3    DS : –
DO :
·1    HR : 120 x/menit
·2    TD 100/75 mmHg
·3    Uncontrol Atrial Fibrilation
·4    Keadaan Koma    Penurunan Cardiac Output.    Gangguan kontraktilitas instrinsik.
Penurunan Cardiac Output berhubungan dengan gangguan kontraktilitas instrinsik

PERENCANAAN, INTERVENSI DAN RASIONALISASI
Diagnosa Keperawatan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Berhubungan    : Peningkatan produksi sputum,  penurunan energi, kelemahan
Kemungkinan dibuktikan    : Batuk tak efektif, dengan produksi sputum
Hasil yang diharapkan, pasien yang diharapkan :
Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai bersihnya jalan nafas
Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih dengan tidak ditunujkkannya adanya sianosis dan dispnea.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji frekuensi/kedalaman pernapasn dan kedalaman dada.. Rasionalisasi : Gerakan dada yang tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.
Tindakan/intervensi (M) :  Auskultasi area paru, catat area penurunan/ tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius seperti mengi, crekles. Rasionalisasi : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Crekles, ronki, dan mengi terdenganr pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, secret kental, dan spasme jalan napas/obstruksi.
Tindakan/intervensi (M) : Penghisapan sesuai indikasi. Rasionalisasi : Meransang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.
Tindakan/intervensi (K) : Berikan obat sesuai indikasi : gentamicin dan ceftriaxone. Rasionalisasi :Kedua obat ini adalah obat antibiotic yang dapat membunuh bakteri dan menghilangkan rasa gatal akibat alkalosis.
Tindakan/intervensi (K) : Berikan cairan tambahan seperti IV, oksigen humidifikasi, dan ruangan humidifikasi. Rasionalisasi : Cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan (termasuk yang tak nampak) dan memobilisasikan secret.
Tindakan/intervensi (K) : Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri. Rasionalisasi: Mengevaluasi kemajuan dan efek proses penyakit dan memudahkan pilihan terapi yang diperlukan.
Tindakan/intervensi (K) : Bantu bronkoskopi/torasintesis bila diindikasikan. Rasionalisasi : Kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa, mengeluarkan sekresi purulen dan atau mencegah atelektasis.

Diagnosa Keperawatan Pertukara gas, kerusakan
Berhubungan    :     Gangguan kapasitas pembawa oksigen darah (demam)
Kemungkinan dibuktikan    :    Dispnea, sianosis, takikardia, gelisah/perubahan mental, hipoksia
Hasil yang diharapkan, pasien yang diharapkan :
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan engan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernapasan.
Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Tindakan/intervensi (M) : Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas. Rasionalisasi : Manifestasi distress pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
Tindakan/intervensi (M) : Observasi warna kulit, memebran mukosa,dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral (sirkuoral). Rasionalisasi : Sianosis kuku menunujukkan vasokonstriksi atau respons tubuh terhadap demam atau menggigil. Namun sianosis daun telinga, membrane mukosa, dan kulit sekitar mulut menunujukkan hipoksemia sistemik.
Tindakan/intervensi (M) : Awasi frekuensi jantung/irama. Rasionalisasi : Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam/dehidrasi tetapi dapat sebagai respons terhadapa hipoksemia.
Tindakan/intervensi (M) : Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil seperti selimut tambahan/menghilangkannya, suhu ruangan nyaman, kompres hangat atau dingin. Rasionalisasi : Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler.
Tindakan/intervensi (M) : Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif. Rasionalisasi : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi.
Tindakan/intervensi (M) : Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi, banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah. Rasionalisasi : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medic segera.
Tindakan/intervensi (M) : Siapkan untuk/pemindahan ke unit perawatan kritis bila diindikasikan. Rasionalisasi : Intubasi dan ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada kejadian kegagalan pernapasan.

Tindakan/intervensi (K) : Berikan terapi oksigen dengan benar seperti nasal prong, masker, masker venture. Rasionalisasi : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien.
Tindakan/intervensi (K) : Awasi GDA, nadi oksimetri. Rasionalisasi : Mengevaluasi proses penyakit dan memudahkan terapi paru.

Diagnosa Keperawatan Peurunan Curah Jantung
Berhubungan dengan    :    Perubahan frekuensi, irama, konduksi listrik
Kemungkinan di buktikan dengan    :    Peningkata  frekuensi jantung (takikardia), disritmia, perubahan gambaran pola EKG,Perubahan TD (Hipotensi), crackles, edema.
Hasil yang diharapkan    :
Menunjukkan tanda vital dalam batas yang bias di terima (disritmia terkontrol atau hilang)
Bebas gejala gagal jantung (mis. Parameter hermodinamika dalam batas normal)
Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Tindakan/intervensi (M)     : Auskultasi nadi apical, kaji frekuensi, dan irama jantung. Rasionalisasi : adanya takikardi meskipun pada saat tidur.
Tindakan/intervensi (M)     : Catat bunyi jantung. Rasionalisasi : murmur dapat menunjukkan stenosis katup.
Tindakan/intervensi (M)     : Palpasi nadi perifer . Rasionalisasi : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan penurunan nadi radial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi.
Tindakan/intervensi (M)     : Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis. Rasionalisasi : Pucat menunjukkan penurunan perkusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung, vasokonstriksi dan anemia. Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori gagal jantung kongestif.
Tindakan/intervensi (K)     : Berikan Obat sesuai Indikasi. Rasionalisasi : banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
Tindakan/intervensi (K)    : Pemberian cairan IV, pembatasan jumlah total sesuai indikasi. Hindari cairan garam. Rasionalisasi : Karena adanya peningkatan tekanan ventrikel kiri, pasien tidak dapat mentoleransi peningkatan volume cairan (preload). Pasien Gagal Jantung Kongestif juga mengeluarkan sedikit natrium yang menyebabkan retensi cairan dan meningkatkan kerja miokard.

BAB IV
PEMBAHASAN

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas merupakan salah satu faktor utama pada gangguan respirasi yang pada akhirnya akan mengganggu system kardiovaskular.
Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan bersihan jalan nafas, salah satunya adalah karena akumulasi atau penumpukan sekret pada jalan nafas itu sendiri. Akumulasi atau penumpukan sekret disebabkan oleh peradangan atau infeksi yang terjadi pada system respirasi. Infeksi oleh bakteri atau virus tersebut mengakibatkan secret mengandung nanah (sputum purulent). Penumpukan cairan tsb di alveoli akan menyebabkan terjadinya konsolidasi atau pemadatan paru. Karena mempengaruhi compliance paru,konsolidasi paru akan mengganggu pertukaran (difus) gas.
Selain itu, penumpukan cairan infeksi yang mengendap di paru mengakibatkan bakteri atau virus tersebut dapat menyebar keseluruh tubuh melalui pembuluh darah. Karena adanya bakteri atau virus dalam darah mengakibatkan permeabilitas pembuluh darah meningkat,sehingga pembuluh darah melebar. Hal tersebut mengakibatkan dinding pembuluh darah menipis. Menipisnya dinding pembuluh darah membuat darah mudah berdifusi dari intravaskular ke ekstravaskular yang pada akhirnya dapat mengakibatkan edema paru juga. Karena banyak darah intravaskuler berdifusi ke ekstravaskuler, volume intravascular menurun. Akibatnya volume sekuncup ikut menurun, penurunan volume sekuncup ini akan berpengaruh pada Cardiact Output. Penurunan Cardiact Output membuat suplay O2 ke tubuh terutama medulla oblongata (Sistem saraf pusat) berkurang, terjadilah depresi pusat pernafasan yang berakibat pada gagal nafas.
Penyebab lain edema paru yang mempengaruhi terjadinya gagal nafas adalah jika pasien memiliki riwayat Stenosis Mitral, Stenosis mitral atau gagal jantung kiri mengakibatkan atrium fibrilasi.
Atrium fibrilasi menandakan terjadi kontraksi cepat pada daerah miokard atrium, hal ini menyebabkan laju ventrikel tak teratur sama sekali, bahkan cepat. Karena laju ventrikel yang tak teratur volume sekuncup yang di pompa jantung pun berubah-ubah.
Pada akhirnya terjadi bendungan darah di atrium kiri, bendungan ini membuat darah yang seharusnya diteriam jantung dari paru kembali ke paru. Hal ini mengakibatkan paru terisi cairan/darah  pula yang menigndikasikan terjadinya edema paru. Jika paru overload, darah masuk ke ventrikel kanan jantung kemudian ke atrium kanan . Hal ini menyebabkan paru kekurangan Karbon dioksida, tak ada darah yang masuk ke paru, sehingga darah yang mengandung oksigenpun makin berkurang. Akibatnya suplai oksigen keseluruh tubuhpun berkurang. Telah diketahui bahwa semua bagian tubuh manusia dalam melakukan tugasnya, membutuhkan suplay Oksigen dan nutrisi darah jantung. Jika kandungan Oksigen darah berkurang secara otomatis berkurang pula. Begitupun otot jantung, memerlukan suplay Oksigrn dari darah untuk melakukan aktivitas.  Pada akhirnya terjadi kerusakan otot jantung yang akan mengganggu proses aliran darah, dan terjadilah gagal nafas.

Pembahasan dari pertanyaan kasus :

a.    Pathways terlampir di BAB 3
b.    Bagian setting ventilator yang harus diubah adalah volume tidal diberi 356-445mm. FiO2 100% selama 15 menit.
c.    Tekanan darah sistolik pasien turun menjadi 80 mmHg, itu mengindentifikasikan pasien mengalami syok kardiogenik dan dengan pasien masih mengalami atrial fibrilasi dengan HR 138 x/menit, hal ini mengindentifikasikan pasien mengalami takikardia. Adapun tujuan dari melakukan pemonitoringan hemodinamik yaitu untuk membedakan status syok, menafsirkan ketidakstabilan hemodinamik dimana juga dapat mengawasi keadaan pasien yang mungkin mengalami komplikasi.
d.    Atrium fibrilasi dapat timbul dari focus ektopik ganda atau derah reentry multiple. Aktivitas atrium sangat cepat (kira-kira 400-700x/menit). Namun setiap ransang listrik itu hanya mampu endepolirisasi sangat sedikit miokardium atrium secara menyeluruh. Karena tidak ada depolarisasi yang seragam tidak terbentuk gambaran gelombang P, melainkan defleksi yang disebut gelombang ‘f’ yang bentuk dan iramanya sangat tidak teratur. Hantaran melalui nodus AV berlangsung sangat acak dan sebagian tidak dapat melalui nodus AV sehingga irama QRS sangat tidak teratur. Atrium fibrilasi biasanya disebabkan oleh penyakit jantung dan bias berlangsung intermiten atau berlanjut kronis. Adapula yang berbentuk proksimal dan tidak dapat dibuktikan adanya penyakit jantung yang lain yang mendasari.
e.    Nilai PAWP pasien adalah 14 mmHg dan CI adalah 2 L/menit/m3. PAWP(Pulmonary Artery Wedge Pressure) adalah tekanan yang terjadi karena volume darah di jantung kiri. Ketika katup mitral terbuka, PAWP merespon tekanan itu ke pembuluh pulmonal dan tekanan di jantung kiri dikembalikan ke kateter ‘wedge’ ke arteri pulmonal kecil, dimana nilai normal PAWP adalah 5-12 mmHg. CI (Cardiac Index) adalah pengukuran cardiac output dalam liter per menit per m2 luas permukaan tubuh, dimana nilai normal CI 2,2-4,0 L/menit/m3. Nilai PAWP yang berada diatas normal mengidentifikasikan bahwa jantung kiri klien berisi darah dengan volume penuh sehingga tekannanya meningkat. Dan nilai CI yang berada dibawah batas normal mengindetifikasikan bahwa cardiac output pasien menurun.
f.    Nilai PaO2 turun menjadi 70 mmHg dan SpO2 89%. Nilai PEEP ventilator dinaikkan. PaO2 adalah tekanan parsial O2, dimana hal ini menggambarkan nilai konsentrasi O2 dalam darah arteri. Nilai normal PaO2 adalah 85-95 mmHg, SpO2 adalah kemampuan Hb dalam eritroit untuk mengikat O2 dimana pengukuran SpO2 dilakukan di jari, kaki, dan dahi. Nilai SpO2 sma dengan nilai normal SaO2 yaitu 95%-98 %. Hal ini menandakan pasien mengalami hipoksemia ringan. Nilai PEEP yang dinaikkan pada ventilator ditujukan agar tekanan positif terjadi pada akhir ekspirasi klien, sehingga dapat meningkatkan aktivitas alveoli dan dapat mencegah atelektasis. Kaitan peningkatan PEEP dengan status hemodinamika adalah menjaga kestabilan tekanan dalam pembuluh darah arteri pulmonal dalam kondisi pasien hipoksemia ringan.
g.    Keadaan kilen yang mengalami syok kardiogenik sebelumnya akan mengakibatkan penurunan curah jantung, penurunan curah jantung berarti perfusi jaringan pun mengalami penurunan. Penurunan curah jantung mengakibatkan penurunan aliran balik vena, karenanya dapat menurunkan tekanan darah pula dengan akibat kerusakan jaringan dan perfusi organ. Kekurangan oksigen pada jaringan dan organ mengakibatkan cedera pada sel-sel tubuh dan organ termasuk ginjal sehingga mengakibatkan gagal ginjal.
Pada pasien tanpa identitas dan tak dikenal dalam kondisi seperti saat ini, maka kita selaku perawat yang bertindak professional seharusnya tetap menunggu persetujuan dari kin untuk melepas alat bantu pada klien.

BAB V
KESIMPULAN

Pada pasien yang ditemukan sputum purulent artinya system respirasi pasien tersebut terinfeksi bakteri atau virus. Infeksi virus ini jika tidak segera di lakukan penanganan yang sesuai akan mengakibatkan berbagai komplikasi penyakit yang diawali oleh kerusakan siastem respirasi.
Dalam pelaksanaan praktek klinik keperawatan, mahasiswa dituntut untuk dapat mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai prosedur, dapat mengambil keputusan secara kritis serta mampu menerapkan proses keperawatan dalam penanganan pasien khususnya seperti pada kasus pasien yang mengalami gagal nafas.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marlyn dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Gray, Huon dkk. 2002. Lecture Notes : Kardiology. Jakarta : Erlangga.
Guyton, Arthur C. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Mustaqin, Arif. 2009. Pengantar Askep Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Pengantar dan Teori. Jakarta : Salemba Medika.
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Prima Medika.
Price & Wilson. 2005. Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Rilantono, Lily Ismudiati dkk.2003.Buku Ajar Kardiologi.Jakarta: FK UI
Silbernagel, Stefan dan Florian Lang.2007.Patofisiologi.Jakarta:EGC
Stecy, Urden.1996.Priorities in Critical Care Nursing.USA: Mosby Inc
Suyono, Slamet dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: