Akan ku tulis hal yang ku suka dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

dosenku cantik banget

TUGAS RESPONSI
(Jeanny Ivones)
Rata-rata frekuensi pernafasan pada setiap tingkatan usia :

a.    Bayi Baru Lahir    30 – 40 x/menit
b.    Bayi usia 12 bulan    30 x/ menit
c.    Bayi 2-5 tahun    24 x/ menit
d.    Dewasa    10 – 20 x/menit
Pearce, Evelyn. 1991. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Koefisien difusi
Pengaruh jenis kelamin terhadap pernafasan
Pada umumnya frekuensi pernafasan perempuan lebih besar di banding laki-laki.
Ventilasi-Perfusi (V/Q)
Ventilasi adalah aliran gas masuk dan keluar paru-paru.
Perfusi adalah aliran darah melalui sirkulasi pulmonal (darah dipompa ke paru-paru oleh ventrikel kanan melalui arteri pulmonal) atau pengisian kapiler pulmonal dengan darah.
Terdapat 4 kemungkinan keadaan/ rasio Ventilasi – perfusi (V/Q)

–    Ventilasi – perfusi normal    ·1    Dimana rasio ventilasi sesuai dengan perfusi.
·2    Pada paru yang sehat sejumlah tertentu darah melewati alveoli dan bertemu dengan gas dengan jumlah gas yang sama.
·3    Rasio V/Q = 1 : 1.
–    Ventilasi – perfusi Rendah    ·1    Gangguan yang mengakibatkan pirau.
·2    Ketika perfusi melebihi ventilasi.
·3    Darah lewati alveoli tanpa terjadi pertukaran gas. Hal ini terjadi bersamaan dengan obstruksi jalan udara.
·4    Rasio V/Q = Nol (0)
·5    Terjadi pada penderita gangguan pneumonia, atelektasis, tumor
–    Ventilasi – perfusi tinggi    ·6    Gangguan yang menimbulkan ruang rugi
·7    Ketika ventilasi melebihi perfusi
·8    Alveoli tidak memiliki darah yang mencukupi untuk memungkinkan terjadinya pertukaran gas.
·9    Rasio V/Q = tak terhingga.
·10    Terjadi pada penderita gangguan emboli paru, infark paru dan syok kardiogenik.
–    Unit Silent    ·11    Tidak terdapat ventilasi perfusi
·12    Rasio V / Q > 0,8
Nb    :    V/Q  adalah rata-rata Ventilasi dan perfusi. Di dapat dari rasio rata-rata laju ventilasi alveoli normal (4 L/menit) di bagi curah jantung normal (5 L/menit). Jadi rasio normal V/Q adalah 0,8.
Brunner & Sudarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2. Jakarta : EGC.
Price & Wilson. 2005. Patofisiologi . Vol. 1 .Ed. 6. Jakarta : EGC.
Pengkajian ABC
AIRWAY
Look
Adakah Obstruksi jalan nafas (Hipoksemia, Hipercarbia /penurunan kesadaran, pergerakan dada saat bernafas, Retraksi sela iga serta sianosis/ kebiruan)
Listen
Adakah obstruksi jalan nafas ( Pengkajian suara nafas normal saat bicara, Suara nafas tambahan serta adakah henti nafas)
Feel
Adakah Obstruksi jalan nafas dengan meraba/merasakan hembusan hawa respirasi dari lubang hidung/mulut seta ada tidaknya getaran di leher waktu bernafas.
BREATHING
Look
Adakah takipnea, perubahan status ental, gerak nafas, sianosis
Listen
Mengkaji suara nafas, apakah normal, menurun atau hilang serta adakah suara tambahan
Feel
Merasakan hawa ekspirasi, adakah emphysema /pneumothorax, Nyeri tekan atau deviasi trachea.
CIRCULATION
Mengkaji apakah penderita mengalami syok, dengan memeriksa tanda-tanda syok, seperti perfusi, Nadi dan tekanan darah.
Gurgling adalah suara abnormal pada pernafasan dengan karakteristik suara seperti berkumur, di temukan jika terdapat cairan pada saluran pernafasan.
Stridor adalah Suara weezing pada saat inspirasi penuh.
Kadar SaO2 dalam darah
1 gram Hemoglobin (Hb) dalam Eritrost dapat mengikat 1,34 mL Oksigen. Konsentrasi Hb rata-rata dalam darah laki-laki dewasa kurang lebih 15 gr/100 mL, Sehingga 100 mL darah dapat mengikat 20,1 mL Oksigen bila Kadar Oksigen Jenuh (SaO2) adalh 100%. Tapi sedikit darah vena campuran yang telah teroksigenasi dari sirkulasi bronchial di tambakan ke darah yang meninggalkan kapiler paru.Proses tersebut menjelaskan mengapa kadar SaO2 normalnya 95 – 97 %.
Price & Wilson. 2005. Patofisiologi . Vol. 1 .Ed. 6. Jakarta : EGC.
Diagnosa keperawatan pada gangguan pernafasan
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
Mayor : Batuk (efektif/tidak), ketidakmampuan mengeluarkan sekresi.
Minor : Bunyi nafas abnormal, frekuensi, irama, kedalaman pernafasan abnormal.
Ketidak efektifan pola nafas
Mayor : Perubahan frekuensi/pola nafas ; Perubahan pada nadi (irama, kualitas, frekuensi)
Minor : Orthopnea, Takipnea, hiperventilasi, pernafasan disritmik, pernafasan sukar/berhati-hati.
Kerusakan pertukaran Gas
Mayor : Dispnea saat melakukan latihan
Minor : Konfusi/agitasi, Bernafas dengan bibir, fase ekspirasi lama, keletihan, peningkatan PCO2, Sianosis.
Juall, Linda. 2000. Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC.
Bronkodilator dalam Inhaler/nebulasi
Simpatomimetik
Efinefrin atau adrenalin
Dosis    :
Dewasa 0,3 – 0,5 cc dalam larutan 1 : 1000 di berikan subkutan
Anak & bayi 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal 0,25 cc, dosis ini dapat diulangi 15 – 30 menit kemudian kalau perlu.
Efedrin beserta derifatnya : aktif pada pemakaian oral.
Dosis dewasa 25 g tiap 4 – 6 jam.
Obat-obat selektif terhadap beta-2 reseptor : metaproterenol, salbutamol, dan terbutalin.
Bronkodilator lain
Teofilin
Sebagai bronkodilator + diuretic. Pemberian harus pelan-pelan selama 10 – 15 menit supaya tidak terjadi hipotensi atau cardiac arrest di encerkan dengan glukosa 5 %.
Aminofilin (campuran etilendiamin + teofilin)
Pemakaian dapat secara oral atau intravena.
Untuk intravena dosis dewasa 250 – 500 mg (5 – 6 mg/kg BB). Dosis dapat diulang 6–8 jam kemudian (1 ampul = 240 mg).
Dosis untuk anak-anak 3 -5 mg/kg BB untuk tiap 8 jam.
Efek samping : mual sampai muntah-muntah dan hipotensif.
Junadi ,Purnawan. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Ed. 2. Jakarta : Media Aesculapius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: